x Pulau Seribu Asri

Menyelamatkan Gamelan Ajeng, Menjaga Ingatan Budaya Jakarta

waktu baca 2 menit
Minggu, 5 Jul 2026 05:37 6 Denny Pohan

Viralterkini.id, JAKARTA — Di tengah laju modernisasi yang membentuk wajah Jakarta sebagai kota metropolitan, ada warisan budaya yang perlahan memudar dari ingatan masyarakatnya. Salah satunya adalah Gamelan Ajeng, kesenian musik tradisional Betawi yang kini menghadapi tantangan besar akibat minimnya regenerasi dan semakin terbatasnya ruang pewarisan.

Kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya tersebut menjadi semangat utama penyelenggaraan Jakarta Contemporary Gamelan Festival (JCGF) 2026 yang akan berlangsung pada 11–12 Juli 2026 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Mengusung tema “Homage to Gamelan”, festival ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Ali Sadikin yang diselenggarakan pada 7–15 Juli 2026. Melalui pertunjukan, diskusi, lokakarya, dan kolaborasi lintas disiplin, festival ini tidak hanya merayakan perkembangan gamelan kontemporer, tetapi juga mengajak publik menaruh perhatian pada upaya pelestarian Gamelan Ajeng sebagai salah satu identitas budaya Jakarta yang mulai terlupakan.

Festival Director Jakarta Contemporary Gamelan Festival 2026, Peter Szilagyi, menilai Jakarta memiliki posisi strategis sebagai ruang pertemuan berbagai budaya Nusantara. Menurutnya, keberagaman tersebut menjadi modal penting untuk membangun ekosistem gamelan kontemporer sekaligus memperkuat upaya pelestarian Gamelan Ajeng agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat modern.

Persoalan terbesar yang dihadapi Gamelan Ajeng saat ini bukan lagi terletak pada keberadaan instrumen musiknya. Ancaman yang sesungguhnya adalah semakin rapuhnya proses pewarisan pengetahuan antargenerasi. Ketika semakin sedikit orang yang mampu memainkan, mengajarkan, dan memahami repertoarnya, sebuah tradisi sesungguhnya sedang kehilangan denyut kehidupannya.

Ironisnya, Gamelan Ajeng masih belum banyak dikenal, bahkan di kota tempat kesenian itu lahir. Dalam sesi diskusi bersama media, penyelenggara mengungkapkan bahwa ketika Gamelan Ajeng diperkenalkan dalam berbagai forum nasional, banyak akademisi maupun seniman gamelan dari Solo, Yogyakarta, hingga Bali yang baru pertama kali mendengar nama kesenian tersebut.

Fenomena itu memperlihatkan sebuah paradoks. Jakarta dikenal sebagai kota yang menjadi ruang pertemuan berbagai budaya dari seluruh Nusantara, tetapi belum sepenuhnya mampu menjaga dan memperkenalkan salah satu warisan budaya khasnya sendiri.(DP)

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri