x Viralterkini

GIFA dan METEC Indonesia 2026 Dorong Penguatan Rantai Nilai Industri Logam

waktu baca 5 menit
Kamis, 20 Agu 2026 13:28 33 Denny Pohan

Viralterkini.id, JAKARTA Penguatan hilirisasi industri mineral dan logam di Indonesia memasuki tahap yang menuntut peningkatan kapasitas teknologi, efisiensi produksi, serta keterhubungan antara industri hulu dan hilir. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan terhadap teknologi pengolahan dan manufaktur yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri.

Kebutuhan itu menjadi salah satu isu yang diangkat dalam penyelenggaraan GIFA dan METEC Indonesia 2026, pameran yang mempertemukan pelaku industri pengecoran logam, metalurgi, besi dan baja, aluminium, hingga manufaktur hilir.

Memasuki edisi ketiga, GIFA dan METEC Indonesia 2026 dijadwalkan berlangsung pada 9–12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta). Pameran yang diselenggarakan Messe Düsseldorf Asia bersama PT Pamerindo Indonesia, bagian dari Informa Markets, tersebut diperkirakan diikuti sekitar 260 perusahaan dan menarik sekitar 6.000 pengunjung profesional.

Peserta berasal dari berbagai segmen industri, mulai dari produsen dan pemasok teknologi hingga perusahaan rekayasa, pengembang proyek, serta pelaku manufaktur. Teknologi yang ditampilkan mencakup pengecoran logam, metalurgi, besi dan baja, logam non-ferrous, fabrikasi, otomasi, pengendalian proses, hingga manufaktur berkelanjutan.

Hilirisasi Memperluas Kebutuhan Teknologi

GIFA Indonesia akan menampilkan teknologi di sektor pengecoran, meliputi peleburan, pembuatan cetakan dan coremaking, simulasi, otomasi, serta pengujian. Adapun METEC Indonesia berfokus pada teknologi metalurgi dan produksi logam, termasuk pengolahan besi dan baja, logam non-ferrous, tungku, refractory, pengerolan, pembentukan, pengendalian proses, dan rekayasa pabrik.

Kombinasi kedua pameran tersebut mencerminkan kebutuhan industri untuk membangun rantai nilai yang lebih terintegrasi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Managing Director Messe Düsseldorf Asia Lars Wismer mengatakan arah industrialisasi Indonesia telah bergeser dari sekadar ekspor sumber daya menuju pengembangan kapasitas pengolahan dan manufaktur domestik.

“Indonesia sedang bergerak dari model ekspor sumber daya menuju model industri yang lebih terintegrasi, yakni mengolah sumber daya mineral dalam negeri dengan nilai tambah lebih tinggi sekaligus memperkuat basis manufakturnya,” ujar Wismer.

Menurut dia, perkembangan hilirisasi akan meningkatkan kebutuhan industri terhadap teknologi proses, keahlian rekayasa, pengembangan sumber daya manusia, serta kemitraan dengan pemasok teknologi global.

Country General Manager Pamerindo Indonesia Lia Indriasari mengatakan penyelenggaraan pameran diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan industri domestik dengan perkembangan teknologi internasional.

“Dengan mendekatkan komunitas teknologi internasional yang relevan kepada industri Indonesia, kami bertujuan mendukung diskusi bisnis yang berbasis informasi mengenai produktivitas dan pengembangan rantai nilai,” kata Lia.

Investasi Menjadi Penggerak Hilirisasi

Perkembangan investasi menunjukkan semakin besarnya aktivitas di sektor industri berbasis logam. Pada semester I 2026, investasi pada subsektor logam dasar, barang logam, mesin dan peralatan tercatat mencapai US$8,44 miliar, setara 14,9% dari total investasi nasional.

Sementara itu, investasi hilirisasi bauksit pada kuartal II 2026 mencapai US$2,25 miliar, lebih tinggi dibandingkan investasi hilirisasi nikel sebesar US$1,65 miliar. Nilai investasi hilirisasi bauksit tersebut meningkat 193% dibandingkan periode sebelumnya.

Peningkatan investasi tersebut membawa konsekuensi terhadap kebutuhan industri. Ketika kapasitas produksi bertambah, perusahaan membutuhkan teknologi yang dapat menjaga produktivitas, kualitas produk, efisiensi energi, serta konsistensi proses produksi.

Ketua Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA) Dadang Asikin mengatakan perkembangan kapasitas manufaktur domestik perlu diimbangi dengan akses terhadap teknologi dan kompetensi teknis.

“Industri pengerjaan logam dan permesinan Indonesia membutuhkan akses terhadap teknologi pemrosesan canggih, keahlian teknis, serta kemitraan internasional seiring dengan berkembangnya kapasitas manufaktur domestik,” ujar Dadang.

Menurutnya, keberadaan GIFA dan METEC Indonesia dapat melengkapi agenda hilirisasi dengan mempertemukan industri nasional dan penyedia teknologi yang dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Aluminium Berpotensi Memperkuat Industri Hilir

Aluminium menjadi salah satu komoditas yang memiliki prospek besar dalam pengembangan industri hilir. Penguatan kapasitas produksi aluminium primer perlu diikuti pembangunan industri pengolahan agar peningkatan produksi bahan baku dapat diterjemahkan menjadi nilai tambah di sektor manufaktur.

Di Mempawah, Kalimantan Barat, pengembangan industri mencakup rencana pembangunan smelter aluminium primer berkapasitas 600.000 ton per tahun dan Smelter Grade Alumina Refinery Tahap II dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun.

Inalum juga mengindikasikan kapasitas terpasang smelter aluminium dapat mencapai 1,975 juta ton pada 2026. Angka tersebut berada jauh di atas kebutuhan domestik aluminium primer yang diperkirakan sekitar 520.000 ton per tahun.

Kesenjangan antara kapasitas produksi dan kebutuhan domestik tersebut membuka peluang bagi pengembangan industri pengolahan aluminium di dalam negeri. Produk turunannya antara lain lembaran, foil, ekstrusi, kawat, produk cor, dan berbagai komponen manufaktur.

Untuk mendukung perkembangan tersebut, GIFA dan METEC Indonesia 2026 akan menghadirkan Aluminium Pavilion untuk pertama kalinya. Paviliun tersebut menampilkan teknologi peleburan, pengecoran, pengembangan paduan, fabrikasi, pemotongan presisi, daur ulang, pengolahan scrap, serta materials handling.

Sejumlah perusahaan yang akan berpartisipasi antara lain ABP Induction Systems GmbH, Foshan Diamond Technology Co., Ltd., dan Henan Tosta Machinery Co., Ltd.

Wismer mengatakan aluminium memiliki keterkaitan dengan sejumlah sektor strategis Indonesia, mulai dari manufaktur, otomotif, infrastruktur hingga transisi energi.

“Aluminium berada di titik temu sejumlah prioritas industri Indonesia, termasuk hilirisasi, daya saing manufaktur, pembangunan infrastruktur, integrasi rantai pasok otomotif, serta transisi energi,” ujarnya.

Tantangan Bergeser dari Kapasitas ke Efisiensi

Meningkatnya investasi industri logam juga mengubah kebutuhan perusahaan. Fokus tidak lagi hanya pada pembangunan kapasitas produksi, tetapi mulai bergeser menuju optimalisasi operasi, efisiensi biaya, pengendalian kualitas, dan kepastian pasokan.

Dalam konteks tersebut, teknologi simulasi pengecoran, pengendalian mutu digital, peralatan fabrikasi dan pemotongan presisi, sistem material handling, serta otomasi menjadi semakin penting.

Bagi industri hilir dan original equipment manufacturer (OEM), perkembangan kapasitas industri logam juga membuka peluang untuk membangun jaringan pemasok dan standar kualitas yang lebih terintegrasi sejak awal.

Partisipasi perusahaan nasional dan global dalam GIFA dan METEC Indonesia 2026 antara lain mencakup Wilisindomas Indahmakmur, CITEC Engineering Indonesia, Wintherm Bara, Metallurgical Corporation of China, dan Ashapura International. Dari pasar internasional, terdapat BEDA Oxygentechnik Armaturen GmbH, MAGMA Engineering Asia Pacific Pte. Ltd., KALFRISA S.A.U., serta Zobon (Lianyungang) Metal Technology Co. Ltd.

Kehadiran perusahaan dari berbagai negara mencerminkan peluang pasar yang semakin besar seiring ekspansi industri logam dan manufaktur Indonesia.

Pada akhirnya, efektivitas agenda hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi dan kapasitas produksi primer, tetapi juga oleh kemampuan industri nasional mengembangkan teknologi, efisiensi, kompetensi tenaga kerja, dan jaringan manufaktur hilir.

Dalam konteks tersebut, GIFA dan METEC Indonesia 2026 menjadi salah satu forum yang mempertemukan kebutuhan investasi industri dengan solusi teknologi, sekaligus membuka ruang bagi penguatan rantai nilai logam dari sektor hulu hingga produk manufaktur bernilai tambah.(DP)

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini