x Viralterkini

PSSI Buka Opsi Pengurangan Poin, Kekerasan Suporter Bisa Rugikan Klub

waktu baca 3 menit
Selasa, 13 Okt 2026 18:39 56 M Ary K

Viralterkini.id, Jakarta — Kekerasan yang melibatkan oknum suporter berpotensi berdampak langsung terhadap posisi klub di klasemen. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) membuka kemungkinan sanksi pengurangan poin bagi klub yang gagal mengendalikan perilaku pendukungnya.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyampaikan peringatan tersebut setelah penyerangan terhadap rombongan tim Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung di Rest Area KM 360 Batang, Jawa Tengah, serta suporter Persija Jakarta di Tol Palikanci, Cirebon.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, Erick menegaskan bahwa klub harus ikut bertanggung jawab dalam mencegah kekerasan yang melibatkan pendukungnya.

“Saya akan mendorong klub-klub yang tidak bisa menjaga suporternya bisa saja mendapat pengurangan poin sekarang. Tapi saya kasih kesepakatan dulu, ya. Kami akan lakukan tindak tegas pastinya,” kata Erick.

Meski demikian, pengurangan poin masih menjadi opsi yang didorong PSSI. Penerapannya belum menjadi keputusan final dan masih memerlukan pembahasan mengenai mekanisme serta langkah penegakannya.

Kekerasan Bukan Sekadar Persoalan Rivalitas

Erick menilai kedua insiden tersebut tidak bisa dianggap sebagai keributan biasa antarsuporter. Penggunaan benda untuk menyerang orang lain dan merusak kendaraan, menurutnya, telah mengarah pada tindakan kriminal.

Ia menyoroti rekaman penyerangan bus EPA Persib yang memperlihatkan oknum membawa benda tumpul dan merusak kendaraan rombongan tim.

“Mana ada menonton bola bawa alat pukulan. Nah, ini konteksnya kan artinya sudah ada pemikiran untuk melakukan kekerasan,” ujarnya.

Erick juga menegaskan bahwa aksi balasan tidak dapat dibenarkan. Penyerangan oleh satu kelompok tidak boleh menjadi pembenaran bagi kelompok lain untuk melakukan kekerasan serupa.

Karena itu, penyelesaian persoalan ini membutuhkan keterlibatan klub, operator kompetisi, dan kelompok suporter. Keselamatan pemain, ofisial, maupun penonton harus menjadi tanggung jawab bersama.

Operator Liga dan Klub Diminta Bertindak

PSSI memberikan kesempatan kepada operator liga dan klub untuk menyusun kesepakatan pengamanan yang lebih kuat. Komitmen tersebut diharapkan diwujudkan melalui langkah pencegahan bentrokan serta pengamanan sebelum dan sesudah pertandingan.

Apabila kesepakatan yang dibangun tidak efektif, PSSI membuka kemungkinan melakukan intervensi untuk memastikan keamanan kompetisi.

Erick turut mengingatkan bahwa kekerasan yang terus berulang dapat memengaruhi kebijakan kehadiran suporter tandang.

“Ya, jangan-jangan tidak ada lagi suporter away lagi,” katanya.

Menurut Erick, kesempatan mendukung tim di kandang lawan harus diimbangi dengan kepatuhan terhadap aturan dan penghormatan terhadap keselamatan orang lain.

“Masa enggak kapok juga? Ini sudah dikasih izin untuk suporter away pada musim ini, baru ini pertama dikasih, masa kejadian lagi,” ujar Erick.

PSSI berharap penyerangan terhadap rombongan EPA Persib dan suporter Persija menjadi momentum pembenahan sistem pengamanan. Ancaman sanksi terhadap klub menjadi peringatan bahwa perilaku suporter dapat membawa konsekuensi bagi tim yang mereka dukung. (ma)

5 Poin Penting:

  1. Pengurangan poin menjadi opsi sanksi. PSSI membuka kemungkinan menghukum klub yang gagal mengendalikan suporternya, tetapi penerapannya belum diputuskan.
  2. Dua penyerangan memicu peringatan PSSI. Insiden menimpa rombongan EPA Persib di Batang dan suporter Persija di Tol Palikanci, Cirebon.
  3. Erick mengecam kekerasan dan aksi balasan. Perusakan kendaraan serta penyerangan dinilai mengarah pada tindakan kriminal.
  4. Klub dan operator liga diminta memperkuat pengamanan. PSSI menginginkan kesepakatan yang disertai langkah nyata untuk melindungi pemain, ofisial, dan suporter.
  5. Kehadiran suporter tandang dapat kembali dibatasi. Opsi tersebut mengemuka apabila keamanan kompetisi tidak dapat dijamin.

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini