Viralterkini.id,JAKARTA – Persaingan di industri properti mulai bergeser dari sekadar menawarkan lokasi dan bangunan. Pengembang kini menghadapi perubahan preferensi konsumen yang semakin memperhatikan kualitas lingkungan tempat tinggal, termasuk fasilitas olahraga, rekreasi, serta ruang interaksi sosial.
Perubahan tersebut mendorong pengembang mengembangkan kawasan hunian dengan konsep yang mengintegrasikan tempat tinggal dan berbagai aktivitas penghuninya. Salah satunya dilakukan Agung Podomoro melalui pengembangan fasilitas club house di sejumlah proyeknya.
Marketing Director Agung Podomoro Yenti Lokat mengatakan perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pengembangan fasilitas di kawasan hunian.
“Setiap inovasi selalu berangkat dari kebutuhan konsumen. Kami mendengarkan, memahami perubahan gaya hidup, lalu menerjemahkannya menjadi sebuah pengalaman yang relevan,” ujar Yenti dalam pembukaan pameran The Club House by Agung Podomoro di Central Park Mall, Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Menurut Yenti, meningkatnya perhatian masyarakat terhadap pola hidup sehat turut mengubah cara calon pembeli menilai sebuah hunian. Fasilitas pendukung aktivitas fisik dan rekreasi mulai dipertimbangkan bersamaan dengan faktor harga dan lokasi.
Konsep tersebut diterapkan Agung Podomoro melalui club house yang menggabungkan sejumlah fasilitas dalam satu kawasan. Fasilitas olahraga antara lain kolam renang, pusat kebugaran, sauna, lapangan tenis dan bulu tangkis, serta lintasan jogging.
Sementara untuk aktivitas rekreasi dan sosial, tersedia ruang permainan, area biliar, arena bowling, serta bioskop privat.
Pengembangan fasilitas tersebut tidak hanya menyasar kawasan hunian premium. Agung Podomoro mulai membawa konsep club house ke proyek yang menyasar segmen hunian dengan harga lebih terjangkau.
Langkah ini menunjukkan adanya upaya pengembang memperluas konsep fasilitas komunal ke kelompok konsumen yang lebih beragam. Sebelumnya, fasilitas serupa lebih banyak diasosiasikan dengan kawasan hunian kelas menengah atas.
Yenti mengatakan konsep Living in Style yang dikembangkan perusahaan telah diterapkan di sejumlah proyek di berbagai daerah, termasuk Jakarta, Bogor, Karawang, Bandung, Batam, Medan, Balikpapan, dan Samarinda.

Marketing Director Agung Podomoro Tedi Guswana menilai keberadaan fasilitas komunal dapat mengubah fungsi kawasan hunian. Penghuni tidak hanya menggunakan kawasan sebagai tempat tinggal, tetapi juga memiliki ruang untuk berolahraga, berekreasi, dan berinteraksi.
“Fasilitas tersebut memberikan lebih banyak pilihan bagi penghuni untuk menikmati waktu tanpa harus selalu meninggalkan kawasan tempat tinggal,” kata Tedi.
Tren ini sekaligus memperlihatkan perubahan pendekatan dalam industri properti. Ketika pilihan hunian semakin beragam, pengembang dituntut menawarkan nilai tambah yang lebih konkret di luar produk bangunan itu sendiri.
Namun, keberadaan fasilitas lengkap juga membawa konsekuensi terhadap biaya pengelolaan kawasan. Karena itu, bagi konsumen, daya tarik fasilitas tidak hanya perlu dilihat dari jumlah atau jenis fasilitas yang tersedia, tetapi juga keberlanjutan pengelolaan dan biaya yang mungkin muncul setelah hunian ditempati.
Agung Podomoro menyatakan pengembangan club house merupakan bagian dari strategi perusahaan merespons perubahan kebutuhan penghuni. Konsep tersebut kini diarahkan untuk diterapkan pada proyek dengan karakter dan segmen pasar yang berbeda.
Di tengah pasar properti yang semakin kompetitif, pergeseran ini menandai babak baru persaingan pengembang. Hunian tidak lagi semata-mata dijual berdasarkan luas bangunan dan lokasi, tetapi juga berdasarkan kualitas kehidupan yang dapat dibangun di dalam kawasan tersebut.(DP)