Ilustrasi: Viralterkini.id Viralterkini.id – Arab Saudi meluapkan kekecewaan setelah Amerika Serikat mengalihkan sistem pertahanan udara di Timur Tengah untuk melindungi Israel. Pejabat Saudi menilai kebijakan itu membuat negara-negara Teluk semakin rentan terhadap serangan Iran.
Seorang pejabat Saudi yang enggan disebutkan namanya menyebut langkah Washington sebagai bentuk pengabaian terhadap sekutu regional.
“Amerika Serikat meninggalkan kami dan memindahkan pertahanan udaranya untuk melindungi Israel. Negara-negara Teluk kini harus menghadapi ancaman Iran sendirian,” ujarnya, dikutip dari News18.
Selain itu, ia menegaskan bahwa negara-negara Teluk menjadi tuan rumah pangkalan militer AS sehingga risiko serangan justru meningkat.
Sementara itu, Qatar dan Arab Saudi melaporkan keberhasilan mencegat drone Iran pada Senin (2/3). Kedua negara memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan dua drone Iran mengarah ke fasilitas vital energi. Drone pertama menuju tangki air di pembangkit listrik Mesaieed, selatan Doha.
Drone kedua mengincar fasilitas energi Ras Laffan di pesisir utara Qatar, pusat produksi gas alam cair negara itu.
Namun, sistem pertahanan udara Qatar berhasil menghancurkan kedua drone sebelum menimbulkan kerusakan besar.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan serangan langsung terhadap target strategis Israel.
Mereka mengklaim telah menyasar kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan markas komandan angkatan udara Israel.
“Kantor perdana menteri rezim Zionis dan markas komandan angkatan udara telah menjadi sasaran,” demikian pernyataan resmi Garda Revolusi yang dikutip kantor berita Fars.
Pernyataan tersebut memperlihatkan eskalasi konflik yang semakin luas dan terbuka.
Sebelumnya, Amerika Serikat meluncurkan operasi militer besar terhadap Iran pada 28 Februari dengan nama Operation Epic Fury. Operasi ini menargetkan sejumlah fasilitas militer utama Iran.
Serangan itu menyasar lokasi rudal, pangkalan angkatan laut, serta area di sekitar kantor Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Akibatnya, ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam. Negara-negara Teluk kini menghadapi ancaman langsung, sementara konflik Iran–Israel memasuki fase yang semakin berbahaya bagi stabilitas kawasan. (**)