x Pulau Seribu Asri

Indonesia Peringkat 80 Dunia dalam GTCI 2025

waktu baca 3 menit
Rabu, 25 Feb 2026 23:42 14 Arthur

Viralterkini.id – Indonesia menempati peringkat ke-80 dari 135 negara dalam Global Talent Competitiveness Index (GTCI) 2025 yang baru dirilis.

Laporan ini mengukur daya saing suatu negara dalam mengembangkan, menarik, dan mempertahankan talenta sebagai faktor utama pertumbuhan ekonomi dan inovasi.

GTCI pertama kali diluncurkan pada 2013 oleh INSEAD bekerja sama dengan Human Capital Leadership Institute Singapura dan Adecco Group.

Indeks ini dirancang sebagai instrumen berbasis data untuk menilai sejauh mana negara mampu memanfaatkan modal manusia secara efektif.

Pada edisi 2025, GTCI memasuki fase baru melalui kemitraan dengan Portulans Institute, yang memperluas cakupan indikator dan memperdalam analisis daya saing talenta.

Metodologi dan Cakupan Penilaian

GTCI 2025 menggunakan model Input–Output yang menilai dua aspek utama, yakni:

  • faktor input seperti institusi, regulasi, kebijakan ketenagakerjaan, dan iklim bisnis;
  • faktor output berupa ketersediaan serta kualitas keterampilan tenaga kerja.

Secara keseluruhan, indeks ini mengandalkan 77 indikator yang mencakup 135 negara, mewakili sekitar 97% produk domestik bruto (PDB) global.

Edisi 2025 juga menambahkan dimensi baru, antara lain:

  • adopsi kecerdasan buatan (AI),
  • resiliensi tenaga kerja,
  • serta tingkat kesejahteraan karyawan.

Untuk menjaga validitas metodologi, setiap tahun GTCI diaudit oleh Joint Research Centre (JRC) milik Komisi Eropa.

Skor Indonesia Masih di Bawah Rata-Rata Negara Selevel

Indonesia berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas (upper middle-income) dengan skor keseluruhan 41,18. Angka ini masih berada di bawah rata-rata kelompok tersebut yang mencapai 43,14.

Hasil ini menunjukkan bahwa daya saing talenta Indonesia masih menghadapi tantangan struktural, khususnya dalam menghadapi perubahan cepat di dunia kerja yang dipicu oleh digitalisasi dan otomatisasi.

Kelemahan pada Skill Adaptif dan Digital

Dari seluruh kategori penilaian, skor terendah Indonesia muncul pada pilar Generalist Adaptive Skills, yang mengukur kemampuan tenaga kerja untuk beradaptasi dengan perubahan, termasuk penguasaan teknologi baru.

Menariknya, Indonesia justru mencatat peringkat relatif tinggi dalam subkategori “pemusatan talenta AI”, yang menunjukkan potensi berkembangnya komunitas talenta kecerdasan buatan, meskipun belum diimbangi oleh kemampuan adaptif yang merata.

Beberapa aspek lain yang masih menjadi titik lemah Indonesia antara lain:

  • kemampuan penggunaan software bisnis dan cloud,
  • pemberdayaan perempuan,
  • pelatihan di dalam perusahaan,
  • serta perlindungan lingkungan hidup.

Kinerja Indonesia per Pilar GTCI

Berikut gambaran capaian Indonesia pada enam pilar utama GTCI 2025:

1. Enable (Regulasi dan Iklim Bisnis)
Skor: 51,48 | Peringkat: 59
Menilai efektivitas regulasi, kualitas institusi, pasar tenaga kerja, dan iklim usaha.

2. Attract (Daya Tarik Talenta)
Skor: 43,31 | Peringkat: 101
Mengukur kemampuan negara menarik talenta, baik dari dalam maupun luar negeri.

3. Grow (Pengembangan Talenta)
Skor: 34,28 | Peringkat: 75
Menilai kapasitas pendidikan, pelatihan, dan pengembangan kompetensi.

4. Retain (Mempertahankan Talenta)
Skor: 52,46 | Peringkat: 68
Mengukur kualitas hidup dan kemampuan mempertahankan tenaga kerja terampil.

5. Vocational & Technical Skills
Skor: 48,19 | Peringkat: 74
Menilai ketersediaan tenaga kerja terampil tingkat menengah.

6. Generalist Adaptive Skills
Skor: 37,87 | Peringkat: 102
Mengukur keterampilan adaptif, digital, dan profesional.

Tantangan dan Arah Kebijakan ke Depan

Hasil GTCI 2025 memperlihatkan bahwa Indonesia masih menghadapi pekerjaan besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama pada aspek adaptasi teknologi dan pelatihan berkelanjutan di dunia kerja.

Ke depan, penguatan kebijakan pendidikan vokasi, peningkatan literasi digital, serta penciptaan iklim kerja yang inklusif dan berkelanjutan menjadi kunci agar Indonesia mampu bersaing dalam ekonomi global berbasis talenta.

Dengan bonus demografi yang masih berlangsung, posisi Indonesia di GTCI menjadi peringatan sekaligus peluang: apakah potensi tersebut dapat diubah menjadi keunggulan kompetitif, atau justru tertinggal dalam perlombaan talenta dunia. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INSTAGRAM

5 hours ago
5 hours ago
5 hours ago
7 hours ago
7 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri