Ilustrasi: Kosmo.com Viralterkini.id – Pernah suatu saat Anda teringat betapa buruk kondisi kulit wajah ketika menjalani hubungan yang penuh gejolak. Mungkin semasa remaja Anda tidak pernah mengalami jerawat parah seperti kebanyakan orang.
Namun ketika dewasa, Anda terlibat dalam hubungan yang terasa penuh gairah tetapi ternyata beracun. Tanpa disadari, jerawat muncul hampir di seluruh wajah hingga membuat tidur miring terasa menyakitkan.
Kondisi ini sering membuat seseorang bertanya-tanya: mengapa kulit justru memburuk saat hubungan terasa intens secara emosional?
Ketika hubungan itu berakhir, perlahan kondisi kulit kembali normal. Bahkan, sebelum luka batin benar-benar pulih, wajah sudah tampak lebih sehat.
Dari sinilah muncul pertanyaan reflektif: apakah tubuh sebenarnya sedang menolak hubungan yang tidak sehat?
Fenomena ini menunjukkan bahwa tubuh dan emosi memiliki hubungan yang sangat erat, terutama dalam konteks hubungan romantis yang penuh tekanan.
Menurut Archana Mayekar, pakar kesehatan holistik sekaligus pendiri Archana Wellness Clinic di Mumbai, pasangan sering kali menjadi cerminan kondisi emosional seseorang.
Ketertarikan terhadap orang tertentu biasanya terjadi ketika emosi yang kita rasakan sejalan, baik itu kesedihan, kemarahan, maupun keraguan diri.
Kulit kemudian menjadi manifestasi luar dari konflik batin tersebut. Apa yang tidak terselesaikan di dalam diri bisa muncul ke permukaan melalui masalah kulit.
Kulit merupakan penghalang fisik antara diri kita dan dunia luar, termasuk pasangan. Saat seseorang masuk terlalu jauh ke ruang emosional dan mental kita, luka batin yang belum sembuh dapat terpicu.
Reaksi ini sering muncul dalam bentuk:
Semua itu merupakan cara tubuh merespons ketidakseimbangan emosional yang terjadi di dalam diri.
Ketegangan emosional yang berlangsung lama, terutama akibat konflik dalam hubungan interpersonal, kerap muncul sebagai gangguan fisik.
Masalah kulit yang sulit sembuh sering kali menjadi tanda adanya perasaan terpendam, tidak terselesaikan, atau tidak pernah diungkapkan secara sehat.
Kondisi ini bukan hanya soal perawatan luar, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mengelola emosinya.
Archana menekankan pentingnya prinsip “merasakan untuk menyembuhkan”. Penyembuhan dimulai ketika seseorang mau bertanggung jawab atas pikiran, perasaan, emosi, dan reaksinya sendiri.
Ketika proses batin membaik, tubuh—termasuk kulit—akan ikut merespons secara alami. Beberapa langkah awal yang dapat dilakukan antara lain:
Melepaskan emosi lebih sehat dibandingkan memendamnya, karena tubuh akan lebih cepat kembali seimbang.
Saat seseorang berada dalam hubungan yang aman secara emosional, perubahan biasanya terlihat jelas.
Energi positif, cinta, dan rasa nyaman akan terpancar bahkan dalam foto sederhana atau swafoto tanpa riasan. Kulit tampak lebih cerah karena kondisi batin yang stabil.
Jika sulit menilai dari pengalaman sendiri, coba perhatikan teman-teman yang berada dalam hubungan paling sehat. Kulit mereka sering kali seolah menceritakan kisah keseimbangan emosionalnya.
Orang yang mampu menenangkan sistem saraf kita bisa menjadi “perawatan kulit” terbaik yang pernah ada. Penyembuhan sejati memang dimulai dari dalam.
Kulit akan merespons dengan kejernihan dan keseimbangan ketika kesejahteraan emosional dirawat dengan baik.
Inilah inti dari kesehatan holistik: kulit tidak hanya bereaksi terhadap polusi atau produk perawatan, tetapi juga terhadap rasa aman, damai, dan utuh dari dalam diri.
Tidak ada komentar