Ilustrasi: Viralterkini.id Viralterkini.id – Film Pelangi di Mars langsung menyedot perhatian publik sejak tayang pada Lebaran 2026. Namun, alih-alih menerima pujian luas, film ini justru memicu perdebatan sengit di media sosial.
Sutradara Upie Guava menggarap film ini dengan ambisi besar sejak 2020. Ia menghadirkan cerita berlatar tahun 2090 di planet Mars dengan sentuhan teknologi futuristik. Meski begitu, ekspektasi tinggi dari penonton tidak sepenuhnya terjawab setelah film rilis.
Pertama, netizen ramai membahas penggunaan kecerdasan buatan dalam produksi film. Banyak penonton menilai visual terlihat kurang alami dan terlalu bergantung pada teknologi.
Menanggapi hal tersebut, Upie Guava langsung memberi penjelasan. Ia menegaskan bahwa tim produksi memang memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kreator.
Ia mengatakan seluruh proses tetap digerakkan oleh manusia, oleh ide, rasa, dan dedikasi para kreator.
Selain itu, ia juga menekankan bahwa emosi manusia tetap menjadi inti utama dalam film.
Selanjutnya, perdebatan berkembang ke isu promosi. Sejumlah netizen menuding adanya buzzer yang menggiring opini positif terhadap film ini.
Namun, pihak produksi langsung membantah tudingan tersebut. Upie Guava menegaskan bahwa tidak ada strategi instan yang bisa memaksa penonton menyukai sebuah film.
Ia menjelaskan bahwa respons penonton selalu muncul secara alami, bukan hasil rekayasa.
Di sisi lain, penonton juga mengkritik dialog dalam film. Mereka menilai percakapan terasa terlalu kekinian dan tidak selaras dengan latar tahun 2090.
Beberapa istilah populer yang muncul dalam dialog dianggap tidak cocok dengan dunia futuristik. Akibatnya, penonton merasa suasana cerita kurang menyatu.
Selain itu, sebagian penonton juga menilai kekuatan narasi belum mampu mendukung konsep besar yang diusung film ini.
Film ini menghadirkan berbagai teknologi modern, seperti XR, motion capture, dan kombinasi live-action dengan animasi. Tim produksi mencoba mendorong batas baru dalam industri perfilman Indonesia.
Namun, pendekatan tersebut justru memunculkan ekspektasi tinggi dari publik. Ketika hasil tidak sesuai harapan, kritik pun muncul dengan cepat.
Tim produksi tidak menutup mata terhadap kritik yang berkembang. Mereka melihat respons publik sebagai bagian dari proses evaluasi dan pembelajaran.
Melalui pernyataan resminya, tim produksi menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir. Mereka juga ingin mengembangkan sistem produksi dan eksplorasi teknologi baru.
Pada akhirnya, Pelangi di Mars tidak hanya hadir sebagai tontonan. Film ini juga memicu diskusi luas tentang penggunaan teknologi, kualitas cerita, dan strategi promosi di industri film.
Perdebatan yang muncul menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap perkembangan perfilman Indonesia. Dengan demikian, film ini tetap memberikan kontribusi penting dalam mendorong inovasi di industri kreatif nasional. (**)