FINAL_stress Viralterkini.id—Saat mendengar kata stres, kita biasanya langsung membayangkan sesuatu yang buruk. Namun sebenarnya, stres tidak selalu merugikan.
Psikolog kesehatan Elissa Epel menjelaskan bahwa cara kita memandang stres bisa menentukan bagaimana tubuh meresponsnya. Untuk memahami hal ini, Epel menggunakan ilustrasi sederhana: perbedaan antara seekor singa yang berburu dan seekor gazel yang melarikan diri.
Bayangkan seekor singa yang sedang mengejar seekor gazel.
Gazel berlari ketakutan untuk menyelamatkan diri. Tubuhnya masuk ke mode fight or flight—jantung berdetak cepat, adrenalin meningkat, dan seluruh energinya digunakan untuk melarikan diri dari predator.
Di sisi lain, singa juga mengalami stres. Namun, stres yang dialaminya berbeda. Singa merasa bersemangat dan fokus karena ia sedang berburu makanannya.
Kedua hewan ini sama-sama mengalami stres, tetapi dengan respon yang berbeda.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita jarang benar-benar dikejar predator. Namun, tubuh kita sering bereaksi terhadap masalah kecil seolah-olah kita berada dalam bahaya besar.
Misalnya, ketika kita menghadapi deadline, ujian, atau konflik kecil. Tubuh kita langsung memicu hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, membuat kita tegang dan sulit rileks.

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, stres kronis dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa stres berkepanjangan dapat merusak telomer, yaitu bagian di ujung kromosom yang berkaitan dengan proses penuaan dan kesehatan sel.
Selain itu, stres kronis juga dapat:
Menariknya, stres jangka pendek sebenarnya sangat bermanfaat bagi tubuh.
Ketika menghadapi tantangan, tubuh akan meningkatkan tekanan darah, mempercepat kerja jantung, dan melepaskan hormon stres untuk meningkatkan energi dan fokus. Respon ini membantu kita bereaksi lebih cepat dalam menyelesaikan masalah dengan lebih baik.
Masalah muncul ketika respon stres ini tidak pernah benar-benar “dimatikan” setelah situasi selesai.
Penelitian menunjukkan bahwa cara kita memandang stres sangat memengaruhi respon tubuh.
Dalam eksperimen yang dilakukan oleh peneliti Dr. Wendy Mendes, orang yang merasa memiliki kontrol terhadap situasi cenderung mengalami respon tantangan, bukan respon ancaman. Respon ini membuat tubuh bekerja lebih efisien dan menghasilkan emosi yang lebih positif.
Peneliti Stanford Dr. Alia Crum juga menemuka hal serupa. Ketika orang diberi informasi tentang manfaat stres, mereka cenderung tampil lebih baik dibandingkan ketika hanya diberi informasi tentang bahaya stres.
Dengan kata lain, cara kita berpikir tentang stres dapat mengubah cara tubuh meresponsnya.
Ketika kamu mulai merasakan tanda-tanda stres—seperti jantung berdebar, telapak tangan berkeringat, atau energi yang meningkat—cobalah melihatnya sebagai tanda bahwa tubuhmu sedang bersiap menghadapi tantangan.
Alih-alih berpikir “Saya tidak sanggup menghadapi ini“, cobalah mengatakan pada diri sendiri:
Cara berpikir sederhana ini dapat membantu mengubah stres dari sesuatu yang menakutkan menjadi sumber energi yang membantu kita tampil lebih baik.
Dengan perspektif ini, kita tidak lagi bereaksi seperti gazel yang ketakutan—melainkan seperti singa yang siap menghadapi tantangan. (rby)
Sumber: Here’s how you can handle stress like a lion, not a gazelle |