Ilustrasi: Viralterkini.id SEJARAH peradaban manusia memperlihatkan satu kenyataan yang hampir selalu berulang, yakni antara kekuasaan dan kebenaran tidak pernah benar-benar sederhana. Kekuasaan membutuhkan kebenaran untuk memperoleh legitimasi. Namun pada saat yang sama, para penguasa sering merasa terancam ketika kebenaran membuka sesuatu yang tidak nyaman bagi mereka. Dalam situasi seperti itu, kekuasaan kerap merespons secara defensif dan tidak selalu rasional.
Dalam banyak epsidoe sejarah, penguasa tidak hanya mencoba mengendalikan suara warga negara yang berani berbicara, mereka juga berupaya mengatur apa yang boleh diketahui dan dilihat oleh masyarakat sebagai kebenaran. Kekuasaan kemudian mengarahkan narasi, menyaring informasi, dan mendorong fakta yang mengganggu sehingga harus menjauh dari ruang publik. Pada titik tertentu, konflik kekuasaan dan kebenaran berubah menjadi konflik antara penguasa dan warga negara yang berani melihat terlalu jauh.
Acap kali, warga negara yang membuka fakta justru menghadapi risiko paling besar. Mereka tidak hanya menerima kritik atau tekanan sosial, lebih dari itu juga menghadapi ancaman nyata terhadap keselamatan diri.
Serangan terhadap Mereka yang Melihat
Kita pernah menyaksikan tragedi yang menggambarkan kenyataan tersebut. Pada 2017, mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Bawedan, mengalami serangan brutal ketika pulang salat subuh. Dua orang pelaku menyiramkan air keras ke wajahnya. Akibatnya, penglihatannya mengalami kerusakan secara permanen.
Peristiwa ini memang sudah sangat melampaui batas, bukan tergolong kasus kriminalitas biasa. Banyak pihak melihatnya sebagai simbol konflik antara penegakan hukum dan kepentingan kekuasaan yang merasa terancam oleh kinerja seorang Novel Baswedan ini. Akan tetapi, soal serangan itu, seolah mengirimkan pesan mengerikan, bahwa mata yang melihat terlalu banyak kebenaran akan menjadi sasaran kekerasan.
Simbolisme tersebut terasa kuat karena serangan itu menyasar mata, organ tubuh yang memungkinkan manusia melihat dunia secara langsung. Dalam berbagai tradisi filsafat, orang tidak hanya memahami mata sebagai bagian dari organ biologis. Para pemikir juga menggunakan mata sebagai suatu metafora bagi pengetahuan dan kesadaran manusia. Artinya. Melihat adalah mengetahui.
Ketika kekerasan merusak penglihatan seseorang, masyarakat akan menafsirkan tindakan itu sebagai upaya untuk melemahkan kemampuan seseorang memahami dan mengungkap kenyataan yang sebenar-benarnya.
Kekerasan terhadap Aktivis dan Masyarakat Sipil
Bertahun-tahun sudah, peristiwa yang dialami Novel Baswedan jeda dari ingatan publik. Tetapi, teror yang mematikan itu ternyata berulang, publik kembali menerima kabar penyiraman air keras kepada seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang bekerja di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Sungguh, serangan ini tidak hanya melukai individu, keluarga, sahabat, dan para pejuang HAM lainnya, melainkan juga menimbulkan kegelisahan bagi masyarakat luas.
Andrie Yunus dikenal sebagai aktivis yang konsisten mengkritik penyalahgunaan kekuasaan dan memperjuangkan keadilan bagi korban kekerasan negara. Ia aktif dalam berbagai advokasi yang menuntut transparansi, akuntabilitas serta reformasi institusi keamanan.
Ketika seseorang dengan peran itu menjadi korban kekerasan brutal, masyarakat tentu mempertanyakan situasi yang melatarbelakanginya. Mengapa orang-orang yang berusaha mengungkap kebenaran justru sering menjadi sasaran kekerasan?
Pelajaran dari Filsafat Politik
Pertanyaan di atas sebenarnya telah lama muncul dalam sejarah pemikiran politik. Filsuf Yunani kuno seperti Plato telah menggambarkan fenomena tersebut melalui alegori gua dalam karya terkenalnya The Republic. Dalam cerita itu, Plato membayangkan sekelompok manusia yang lahir dan hidup di dalam sebuah gua, mereka hanya melihat bayangan yang diproyeksikan pada dinding dan menganggapnya sebagai kenyataan.
Kemudian suatu hari, salah satu dari mereka keluar dari gua dan melihat dunia yang sebenarnya. Ketika ia kembali untuk menceritakan apa yang dilihat, orang-orang di dalam gua justru menolak ceritanya. Bahkan mereka bisa menyerangnya, karena kenyataan baru itu mengganggu kenyamanan ilusi yang selama ini mereka yakini.
Melalui alegori ini, Plato ingin menunjukkan bahwa kebenaran sering mengganggu bagi mereka yang terbiasa hidup dalam bayang-bayang ilusi, juga obsesi untuk berkuasa penuh yang didasari kerakusan.
Dalam konteks politik modern, gambaran tersebut membantu menjelaskan bagaimana struktur kekuasaan mempertahankan narasi tertentu agar masyarakat tetap berada dalam ruangan informasi yang terbatas. Ketika seseorang berhasil membuka tabir yang tersembunyi, maka ia tidak hanya mengkritik satu kebijakan atau satu institusi. Bahkan ia juga mengguncang struktur kekuasaan yang berdiri di atas narasi tersebut.
Kekuasaan dan Produksi Pengetahuan
Pemikir Prancis Michel Foucault kemudian memperdalam analisis ini melalui gagasannya tentang hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan. Foucault menjelaskan bawa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui kekuatan fisik atau lembaga negara seperti militer dan kepolisian. Kekuasaan juga bekerja melalui produksi pengetahuan.
Dengan kata lain, kekuasaan ikut memengaruhi apa yang masyarakat anggap sebagai kebenaran. Kekuasaan itu kemudian membentuk diskursus publik, memproduksi narasi resmi, dan memengaruhi cara masyarakat memahami realitas.
Ketika seseorang mengungkap fakta yang bertentangan dengan narasi tersebut, ia tidak hanya mengkritik kebijakan tertentu. Ia juga menantang struktur pengetahuan yang menopang legitimasi kekuasaan itu sendiri.
Negara Hukum dan Perlindungan terhadap Keamanan
Dalam perspektif hukum, serangan terhadap orang-orang seperti Novel Baswedan dan Andrie Yunus menyentuh inti dari konsep negara hukum, bahwa hukum harus memberi perlindungan kepada setiap warga negara dari penyalahgunaan kekuasaan. Hukum harus memberikan perlindungan kepada mereka yang berani mengungkap pelanggaran hukum atau ketidakadilan.
Dalam tradisi hukum klasik bahkan menyimpan satu adagium yang jarang dikutip: ”contra varitatem lex numquam aliquid permittit,’’ yang berarti hukum tidak pernah mengizinkan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran. Adagium ini mengingatkan bahwa hukum kehilangan maknanya ketika membiarkan ketidakbenaran berdiri tanpa koreksi.
Ketika kekerasan menimpa orang-orang yang berusaha mengungkap kebenaran, maka persoalannya tidak lagi berhenti pada kejahatan individual. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan yang lebih serius: apakah hukum masih menjalankan perannya sebagai penjaga kebenaran?
Demokrasi dan Keberanian Sipil
Dalam negara demokrasi, kritik terhadap kekuasaan bukan ancaman bagi negara. Kritik justru menjadi bagian dari mekanisme pengawasan untuk menjaga agar kekuasaan tidak menyimpang dari tujuan awalnya.
Demokrasi tidak hanya bergantung pada pemilu dan lembaga perwakilan. Demokrasi juga bergantung pada keberanian masyarakat sipil untuk mengawasi kekuasaan.
Tanpa pengawasan publik, kekuasaan hampir selalu cenderung menyimpang. Dan, memang itu benar-benar fakta.
Karena itu, sejatinya negara demokrasi yang sehat harus melindungi setiap orang atau setiap warga negara yang berani membuka fakta, bukan sebaliknya membiarkan mereka menghadapi ancaman kekerasan.
Ketika Kekerasan Gagal Membungkam
Serangan terhadap ‘’mata’’ memang membawa pesan simbolik yang kuat. Juga semacam ada pesan implisit yang berbahaya dari penguasa, bahwa masyarakat jangan melihat terlalu jauh, dan jangan mengetahui terlalu banyak.
Namun sejarah menunjukkan bahwa upaya membungkam kebenaran sering menghasilkan efek yang berlawanan, bahkan kekerasan juga jarang mampu menghancurkan kebenaran secara permanen.
Serangan terhadap individu mungkin saja hanya melukai tubuh seseorang, tetapi gagal menghapus perhatian publik terhadap persoalan yang akan terus diungkap.
Di titik inilah kualitas negara benar-benar terlihat, yaitu pada kemampuannya melindungi mereka yang berani menyampaikan kebenaran, sekalipun kebenaran tersebut tidak selalu nyaman bagi kekuasaan. (Red)