Kredit Foto: Foxnews.com Viralterkini.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampaknya sangat senang untuk memerintahkan serangan militer terhadap Iran.
Beberapa pejabat Pentagon memperingatkan bahwa perang baru di Timur Tengah berpotensi menimbulkan konflik jangka panjang yang berat.
The Wall Street Journal menyebut bahwa serangan ke Iran dapat menimbulkan “korban jiwa bagi AS dan sekutu, melemahkan pertahanan udara, serta membebani pasukan.”
Trump tengah menimbang berbagai opsi. Pilihannya berkisar dari serangan cepat terbatas hingga kampanye pengeboman udara yang lebih lama.
Meski setiap skenario membawa risiko, serangan berkepanjangan bisa menimbulkan biaya besar bagi pasukan AS dan persediaan amunisi.
Selain itu, serangan itu berpotensi menarik AS ke perang lebih luas di Timur Tengah.
Ali Vaez dari International Crisis Group mengatakan kepada The New York Times bahwa “tidak ada opsi militer mudah, murah, atau bersih untuk menghadapi Iran.”
Pemerintah Iran menguasai kemampuan militer luas dan memiliki jaringan pasukan proksi regional yang bisa menyerang pasukan AS di kawasan.
Serangan balasan Iran bisa menargetkan Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, kata Vaez.
Sanam Vakil, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, menambahkan bahwa Iran berusaha “mempercepat eskalasi dan mengekspor ketidakstabilan” untuk memperluas dampak konflik.
Rosemary Kelanic, Direktur Program Timur Tengah di Defense Priorities, menekankan kepada The Hill bahwa risiko eskalasi sangat serius.
Meski Iran lebih lemah secara militer dibanding AS, negara yang lebih lemah hanya perlu bertahan cukup lama. Setelah itu, pihak yang lebih kuat mungkin menilai biayanya terlalu tinggi.
Retorika Trump tentang “penggulingan rezim” menjadikan krisis ini eksistensial bagi Teheran. Hal ini memberi AS kepentingan jelas untuk menghindari perang sia-sia.
CBS News melaporkan bahwa Trump semakin frustrasi dengan opsi militernya.
Presiden ingin melancarkan “serangan tunggal dan menentukan” yang memaksa pemimpin Iran membuat konsesi nuklir.
Namun, para perencana Pentagon memperingatkan bahwa hasil itu tidak dapat dijamin.
Keputusan selanjutnya tergantung pada seberapa besar risiko yang bersedia ditanggung Washington.
Setiap langkah militer menghadirkan pilihan sulit antara menunjukkan kekuatan dan menghadapi potensi perang luas yang menelan korban serta sumber daya besar. (**)
Sumber: https://theweek.com/edition/theweekus-evening-review-2026-02-25-220813
Tidak ada komentar