Ilustrasi: Freepik.com Viralterkini.id – Persahabatan merupakan salah satu hal terindah dalam hidup. Memiliki seseorang untuk berbagi tawa, kesedihan, perjuangan, dan cerita sehari-hari adalah hal yang sangat berharga.
Namun, seperti hubungan manusia lainnya, persahabatan juga dapat menjadi rumit ketika perasaan seperti iri hati, cemburu, dan persaingan mulai muncul.
Lingkaran pertemanan seharusnya diisi oleh orang-orang yang mendukung dan memotivasi kita untuk berkembang. Sayangnya, memiliki teman yang terlalu kompetitif bisa terasa melelahkan secara emosional.
Meski demikian, mengakhiri persahabatan bukan selalu menjadi solusi utama. Dalam beberapa kondisi, persaingan justru bisa mendorong seseorang untuk bertumbuh.
Namun, jika hubungan tersebut mulai berdampak buruk pada kesehatan mental, maka perlu ada langkah yang diambil.
Berikut lima cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi teman yang terlalu kompetitif secara sehat.
Tidak semua sikap kompetitif muncul karena niat buruk. Dalam banyak kasus, rasa tidak aman, kesalahpahaman, atau komunikasi yang kurang terbuka membuat seseorang merasa perlu membuktikan dirinya lebih unggul dari orang lain.
Cobalah berbicara secara jujur dan tenang dengan teman Anda. Tanyakan apa yang sebenarnya membuat mereka merasa terancam atau tidak nyaman.
Dengan saling memahami, Anda berdua bisa mencari solusi bersama untuk memperbaiki hubungan dan mengurangi ketegangan.
Jika Anda tidak ingin menjauh dari teman tersebut, menetapkan batasan adalah langkah penting.
Setiap orang memiliki topik atau situasi tertentu yang dapat memicu sikap kompetitif, seperti soal karier, pencapaian akademik, atau kehidupan pribadi.
Menghindari pembahasan yang sensitif dan berpotensi memicu perbandingan berlebihan dapat membantu menjaga suasana pertemanan tetap nyaman.
Batasan yang jelas juga membuat Anda lebih terlindungi secara emosional.
Salah satu cara efektif menghadapi teman yang kompetitif adalah dengan menunjukkan dukungan melalui pujian dan penegasan. Sikap ini menandakan bahwa Anda tidak merasa terancam oleh keberhasilan mereka.
Memberi apresiasi atas pencapaian, baik besar maupun kecil, dapat membantu mereka menyadari bahwa persahabatan bukanlah perlombaan untuk menentukan siapa yang paling unggul.
Sebaliknya, hubungan yang sehat adalah tentang saling mendukung dan tumbuh bersama.
Daripada terus berada dalam situasi saling bersaing, cobalah mengajak teman untuk bekerja sama. Kegiatan kolaboratif, seperti mengerjakan proyek bersama atau mengejar tujuan yang sama, dapat mengubah pola pikir dari “lawan” menjadi “rekan”.
Kerja tim dapat menumbuhkan rasa empati, mengurangi sikap bermusuhan, serta memperkuat ikatan persahabatan. Dengan fokus pada tujuan bersama, persaingan yang tidak sehat perlahan bisa berubah menjadi dukungan timbal balik.
Jika semua upaya telah dilakukan namun hubungan tersebut tetap menguras emosi dan mengganggu keseharian Anda, maka menjaga jarak bisa menjadi pilihan terbaik.
Persahabatan seharusnya memberi rasa aman, bukan tekanan mental.
Seorang teman sejati akan ikut merayakan keberhasilan Anda dan menjadi pendukung utama dalam hidup.
Jika setelah komunikasi terbuka dan usaha perbaikan sikap kompetitif itu tetap berlanjut, Anda berhak untuk mengurangi intensitas hubungan dan memperluas lingkaran pertemanan yang lebih sehat.
Terakhir, persaingan dalam persahabatan tidak selalu buruk, selama masih berada dalam batas wajar dan tidak melukai perasaan.
Namun, ketika persaingan berubah menjadi sumber stres dan ketidaknyamanan, penting untuk bersikap tegas demi menjaga keseimbangan emosional.
Persahabatan yang baik adalah hubungan yang saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.
Dengan komunikasi, batasan yang jelas, dan perhatian pada kesehatan diri sendiri, Anda dapat menciptakan hubungan pertemanan yang lebih sehat dan bermakna. (**)
Tidak ada komentar