x Pulau Seribu Asri

Penegakan Hukum Secara Tegas dan Proaktif, Menjadi Strategi Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme

waktu baca 3 menit
Selasa, 26 Nov 2024 15:20 296 M Ary K

Viralterkini.id, Jakarta – Tantangan terbesar generasi saat ini tidak hanya dari segi perkembangan digital, namun juga perlu diwaspadai benar mengenai besarnya dampak radikalisme di Indonesia, seperti yang disampaikan Sekretaris Utama BNPT Periode 2021 – 2022, Mayjen TNI (Purn) H. Dedi Sambowo, S.IP dalam Kuliah Umum yang bertajuk “Peluang dan Tantangan Bisnis Digital Menuju Indonesia Emas,” di Gd. Vokasi STIAMI – Cakung Jakarta Timur, Selasa (27/11).

Dedi Sambowo mengungkapkan bahwa perlunya generasi bangsa untuk tidak melupakan sejarah Bangsa Indonesia yang biasa diungkap dengan istilah JASMERAH (Jangan Lupakan Sejarah).

“Sejauh kita menarik kebelakang, maka apa yang kita lihat itu juga semakin jauh. Artinya sejauh mungkin kebelakang kita mempelajari sejarah, maka kita akan mendapatkan manfaat kedepannya,” katanya.

Dedi Sambowo menceritakan gambaran sejarah Bangsa Indonesia yang menurutnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan dan perjuangan setelah kemerdekaan.

Menurut Dedi Sambowo, perlunya gerenasi saat ini mempelajari tidak hanya dari sisi digital yang terus berkembang, namun juga tidak lupa untuk mempelajari sejarah bangsa ini, karena tantangan saat ini bisa dikatakan sama dengan perjuangan pada masa perjuangan yang olehnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu, masa sebelum kemerdekaan, saat merdeka, dan setelah kemerdekaan. Terlebih perlunya menanamkan wawasan kebangsaan dengan tujuan untuk menanamkan ideologi Pancasila. Karena menurutnya, rakyat Indonesia perlu bangga dengan ideologi yang dimiliki bangsa ini, yaitu ideologi Pancasila.

“kita perlu berbangga tentunya, karena bangsa ini memiliki ideologi yang baik yaitu ideologi Pancasila yang tetap harus kita pertahankan,” imbuhnya.

Ada beberapa alasan yang menjadi dasar mengapa Pendidikan kebangsaan itu menjadi perlu untuk dipelajari.

Dedy Sambowo, menjabarkan empat alasan mendasar tersebut.

  1. Radikalisme dan terorisme tidak sesuai dengan dasar negara Indonesia dan mengancap NKRI
  2. Radikalisme dan terorisme dapat merusak peradaban umat manusia
  3. Karena perempuan, anak-anak dan remaja menjadi sasaran utama radikalisme dan terorisme
  4. Radikalisme dan terorisme merusak kesucian

Dedi Sambowo mengungkapkan bahwa, paham radikalisme dan terorisme perlu untuk diberantas dan dibuang jauh-jauh dari negara ini.

“jadi paham terorisme dan radikalisme ini perlu untuk dibuang jauh tentunya, apalagi dari generasi-generasi saat ini, dan ingin sangat berbahaya,” katanya.

Merujuk pada hasil riset I-KHUB BNPT OUTLOOK 2023, bahwa pada tahun 2023 terjadi penurunan zero teroris attack dimana mereka melakukan gerakan ideologi secara sistematis dan terencana yang menargetkan perempuan, anak-anak dan remaja.

Data: Hasil Riset I-KHUB BNPT OutLook 2023

Sebanyak 70,2% remaja atau siswa SMA masuk ke dalam kategori remaja toleran, 24,2% merupakan remaja intoleran pasif, 5% merupakan remaja intoleran aktif dan 0,6% merupakan remaja yang berpotensi terpapar.

Remaja pada kategori intoleran pasif juga bertransformasi menjadi intoleran aktif, sebagaimana digambarkan dari angka 2,4% di tahun 2016 menjadi 5% di tahun 2023. Pada kategori terpapar, mengalami peningkatan dari 0,3% menjadi 0,6%.

Dedi Sambowo mengungkapkan ada dua hal yang bisa menjadi strategi dalam penanggulangan terorisme di negara ini.

“ya tentunya ada dua strategi yang bisa digunakan dalam rangka penanggulangan terorisme, yang pertama membangun ketahanan public dan kedua penegakan hukum yang tegas dan proaktif,” tutupnya.(bc)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

WhatsApp Image 2026-01-11 at 14.22.35

INSTAGRAM

12 hours ago
13 hours ago
15 hours ago
15 hours ago
15 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!