Copilot_20260308_214014 Viralterkini.id – Waktu buka puasa sering berubah setiap hari selama Ramadan. Banyak orang menyadari jadwal berbuka bergeser beberapa menit dari hari sebelumnya. Pergeseran ini sering menimbulkan pertanyaan karena jam berbuka terasa tidak konsisten.
Fenomena tersebut tidak terjadi karena kesalahan kalender atau perubahan aturan ibadah. Perubahan waktu berbuka terjadi karena gerakan alami Bumi dan posisi Matahari yang terus berubah.
Astronom menjelaskan bahwa umat Muslim menentukan waktu berbuka berdasarkan saat Matahari terbenam. Karena posisi Matahari selalu berubah, waktu terbenam juga ikut bergeser dari hari ke hari.
“Perubahan waktu terbenam Matahari merupakan konsekuensi langsung dari gerakan Bumi dalam sistem tata surya,” jelas seorang astronom dari lembaga penelitian antariksa.
Bumi berputar pada porosnya setiap hari. Planet ini juga mengelilingi Matahari dalam jalur orbit yang terus bergerak sepanjang tahun.
Gerakan tersebut membuat posisi Matahari tampak berubah jika dilihat dari permukaan Bumi. Saat Bumi berotasi, garis cakrawala perlahan menutup Matahari. Proses ini menentukan waktu terbenam.
Karena posisi Bumi selalu berubah, waktu Matahari menyentuh cakrawala juga berubah. Pergeseran ini biasanya hanya beberapa menit setiap hari.
Namun jika dijumlahkan selama sebulan, selisih waktunya bisa mencapai lebih dari 10 menit.
“Perubahan ini merupakan fenomena astronomi normal dan terjadi di seluruh dunia,” kata seorang peneliti astronomi.
Lokasi geografis juga memengaruhi waktu Matahari terbenam. Setiap wilayah memiliki garis lintang, bujur, dan ketinggian yang berbeda.
Perbedaan posisi ini mengubah sudut pandang terhadap Matahari. Kota yang berada di dataran tinggi sering melihat Matahari lebih lama dibanding wilayah lembah.
Akibatnya, jadwal buka puasa antarwilayah dapat berbeda meski berada dalam satu zona waktu.
“Perbedaan beberapa menit antara kota sebenarnya sangat wajar dalam perhitungan astronomi,” ujar seorang ahli geografi.
Bumi memiliki kemiringan sumbu sekitar 23,5 derajat. Kemiringan ini membuat posisi Matahari tampak bergerak naik dan turun sepanjang tahun.
Saat Matahari berada lebih tinggi di langit, durasi siang menjadi lebih panjang. Kondisi ini membuat Matahari terbenam lebih lambat.
Sebaliknya, posisi Matahari yang lebih rendah membuat siang lebih singkat. Akibatnya waktu terbenam terjadi lebih cepat.
Karena perubahan ini berlangsung terus-menerus, jadwal berbuka juga ikut bergeser selama Ramadan.
Bumi tidak mengelilingi Matahari dalam lingkaran sempurna. Orbit planet ini berbentuk elips.
Bentuk orbit tersebut membuat jarak Bumi terhadap Matahari berubah sepanjang tahun. Saat Bumi berada lebih dekat dengan Matahari, planet ini bergerak lebih cepat.
Sebaliknya, Bumi bergerak lebih lambat saat posisinya lebih jauh.
Perubahan kecepatan ini memengaruhi waktu Matahari muncul dan terbenam di cakrawala. Dampaknya terlihat dalam pergeseran kecil waktu matahari setiap hari.
Kalender Hijriah menggunakan siklus Bulan. Sistem ini berbeda dengan kalender Masehi yang mengikuti pergerakan Matahari.
Akibat perbedaan sistem tersebut, Ramadan datang sekitar 10 hingga 11 hari lebih cepat setiap tahun.
Pergeseran ini membuat Ramadan jatuh pada musim yang berbeda. Kadang Ramadan berlangsung saat siang lebih panjang. Pada tahun lain, Ramadan hadir saat siang lebih pendek.
Perubahan musim tersebut ikut memengaruhi durasi puasa dan waktu berbuka.
Perubahan waktu buka puasa merupakan hasil dari dinamika alam semesta. Gerakan Bumi, posisi Matahari, dan perbedaan wilayah memengaruhi waktu terbenam setiap hari.
Fenomena ini menunjukkan hubungan erat antara aktivitas manusia dan gerakan benda langit.
Para astronom menegaskan bahwa perubahan waktu berbuka merupakan proses alami yang akan selalu terjadi.
“Selama Bumi terus bergerak mengelilingi Matahari, waktu Matahari terbenam juga akan terus berubah,” kata seorang astronom. (**)