Ilustrasi: Viralterkini.id Viralterkini.id – Sejumlah ekonom memproyeksikan Bank Indonesia akan kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2026 yang digelar Kamis (19/2/2026).
Langkah ini dinilai sebagai pilihan paling aman di tengah tekanan inflasi domestik dan sentimen negatif dari pasar global.
Peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai BI cenderung menahan suku bunga karena inflasi pada awal 2026 telah menembus batas atas target bank sentral.
Inflasi umum Januari 2026 tercatat 3,55 persen (year on year), melampaui kisaran sasaran BI sebesar 1,5–3,5 persen dan menjadi level tertinggi sejak Mei 2023.
Menurutnya, lonjakan inflasi dipengaruhi oleh low-base effect akibat kebijakan diskon tarif listrik 50 persen bagi sebagian rumah tangga pada Januari–Februari tahun lalu, sehingga membuat perbandingan tahunan terlihat meningkat tajam.
Riefky memperkirakan tekanan inflasi masih berlanjut dalam waktu dekat seiring meningkatnya konsumsi masyarakat pada periode Ramadhan dan Idul Fitri.
“Tekanan inflasi diperkirakan terus berlanjut dalam jangka pendek, terutama karena faktor musiman menjelang hari besar keagamaan,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Dari sisi eksternal, Indonesia juga menghadapi tekanan sentimen pasar setelah pengumuman dari MSCI dan penurunan penilaian kondisi ekonomi oleh Moody’s.
Kedua lembaga tersebut menyoroti meningkatnya kekhawatiran terhadap kelayakan investasi, kapasitas institusi, serta konsistensi dan transparansi kebijakan ekonomi.
Situasi ini mendorong terjadinya arus keluar modal dari pasar saham dan obligasi domestik.
Riefky juga menilai penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI turut memengaruhi persepsi investor.
“Penunjukan tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap melemahnya independensi bank sentral,” katanya.
Dalam kondisi tersebut, Riefky menilai menahan BI Rate menjadi pilihan paling rasional.
Pemangkasan suku bunga berpotensi memperbesar arus modal keluar, sementara kenaikan suku bunga justru dapat menekan permintaan domestik, terutama ketika sejumlah daerah masih berada dalam tahap pemulihan pascabencana.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom BCA, David Sumual. Ia memperkirakan BI tetap mempertahankan suku bunga karena masih terjadi net outflow dana asing dari aset portofolio domestik.
“Inflasi Januari juga sedikit naik, sementara arus modal asing masih keluar dari pasar keuangan,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).
David menambahkan, BI dan The Fed kemungkinan sama-sama menahan suku bunga sepanjang kuartal I-2026, sebelum membuka peluang penurunan pada paruh kedua tahun ini jika ekonomi global melambat.
Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, juga memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga pada RDG Februari ini.
Menurutnya, prioritas utama BI saat ini adalah menjaga stabilitas makroekonomi, terutama nilai tukar rupiah dan cadangan devisa.
“Kondisi rupiah membutuhkan langkah stabilisasi, sekaligus menjaga daya tarik pasar keuangan domestik,” jelasnya.
Myrdal menambahkan, BI masih memiliki ruang mendorong pertumbuhan ekonomi melalui instrumen makroprudensial, seperti insentif giro wajib minimum bagi perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas pembangunan.
Selain itu, penguatan sistem pembayaran juga menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga kelancaran aktivitas ekonomi nasional.
Pada perdagangan Rabu (18/2/2026), rupiah tercatat melemah 0,07 persen menjadi Rp16.850 per dolar AS saat pembukaan. Tak lama kemudian, pelemahan berlanjut hingga 0,12 persen ke level Rp16.860 per dolar AS.
Di pasar offshore Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah yang sempat menguat pada pagi hari berbalik melemah tipis dari Rp16.864 per dolar AS menjadi Rp16.866 per dolar AS. (**)
Tidak ada komentar