Dino Umahuk. Foto: Ist Viralterkini.id, Ambon – Dunia sastra dan politik jarang dipertemukan dalam satu kalimat yang harmonis. Namun hari ini, keduanya bertemu dalam sosok Dino Umahuk, sastrawan nasional asal Maluku yang resmi bergabung dengan Partai Golkar Maluku.
Langkah ini menjadi penanda bahwa politik tidak selalu harus kering oleh angka dan strategi, tetapi juga bisa diperkaya oleh rasa, empati, dan kebudayaan.
Dino Umahuk selama ini dikenal sebagai penyair yang menulis dengan bahasa laut, tanah, dan luka sejarah Maluku.
Karya-karyanya telah melampaui batas daerah, dibaca di berbagai forum sastra nasional, dan menjadi suara bagi masyarakat pinggiran yang jarang terdengar. Kini, ia memilih jalur baru: politik.
Namun bagi Dino, politik bukanlah dunia asing. Ia melihat politik sebagai ruang pengabdian yang lebih luas, tempat gagasan-gagasan kemanusiaan bisa diterjemahkan menjadi kebijakan nyata.
“Puisi adalah suara batin. Politik adalah jalan tindakan. Keduanya bisa saling melengkapi,” ungkap Dino dalam pernyataannya, Rabu (4/2/2026).
Masuknya Dino Umahuk ke Partai Golkar Maluku bukan sekadar rekrutmen kader, melainkan simbol keterbukaan partai terhadap dunia seni dan kebudayaan.
Golkar Maluku dikenal memiliki tradisi merangkul tokoh-tokoh kreatif, mulai dari musisi, seniman, hingga sastrawan, sebagai bagian dari kekuatan moral dan intelektual partai.
Bagi Golkar, kehadiran Dino adalah energi baru: suara sastra yang membawa nilai refleksi, kebijaksanaan, dan kepekaan sosial dalam ruang politik yang sering keras dan pragmatis.
“Politik membutuhkan nurani. Dan sastra adalah bahasa nurani,” ujar salah satu pengurus Golkar Maluku.
Perjalanan Dino Umahuk dari dunia sastra ke dunia politik dipandang sebagai upaya menjembatani budaya dan kekuasaan. Ia ingin memastikan bahwa kebijakan publik tidak sekadar mengatur, tetapi juga memahami manusia.
Menurut Dino, Maluku memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, namun sering tertinggal dalam arus pembangunan. Lewat perannya di Golkar, ia berharap seni dan literasi bisa menjadi bagian dari agenda politik daerah.
“Saya ingin kebudayaan tidak hanya dirayakan di panggung, tetapi juga dilindungi dalam peraturan,” katanya.
Ia meyakini bahwa sastra mampu mengajarkan kesabaran, dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan, nilai yang sangat dibutuhkan dalam demokrasi.
Langkah Dino Umahuk ini mendapat perhatian luas dari kalangan budayawan dan masyarakat. Banyak yang melihatnya sebagai harapan baru bahwa politik bisa disentuh oleh keindahan kata dan kejernihan pikiran.
Di tengah citra politik yang sering dipenuhi konflik dan kepentingan, kehadiran seorang sastrawan nasional membawa pesan berbeda: bahwa kekuasaan pun bisa berjalan bersama kebudayaan.
Bagi Dino, ini bukan soal jabatan, melainkan tanggung jawab moral.
“Saya datang membawa cerita rakyat, suara nelayan, dan doa para guru. Jika politik mau mendengarkan, maka sastra tidak akan sia-sia,” ujarnya lirih.
Bergabungnya Dino Umahuk ke Partai Golkar Maluku juga menjadi simbol bahwa Timur Indonesia memiliki peran penting dalam percaturan nasional, bukan hanya sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai sumber gagasan dan nilai.
Golkar Maluku berharap kehadiran Dino dapat menginspirasi generasi muda, khususnya para seniman dan penulis, untuk tidak alergi terhadap politik. Sebaliknya, politik perlu disentuh oleh mereka yang terbiasa berpikir jernih dan merawat nurani.
Dalam langkah barunya ini, Dino Umahuk tidak meninggalkan dunia sastra. Ia justru membawa sastra ke tempat yang lebih luas: ruang kebijakan dan masa depan masyarakat Maluku.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, puisi tidak hanya dibacakan di panggung, tetapi juga diperjuangkan di meja politik daerah. (**)
Tidak ada komentar