x Pulau Seribu Asri

Badai Matahari Terjang Bumi & Dampak Di Indonesia

waktu baca 2 menit
Minggu, 13 Okt 2024 22:26 388 M Ary K

Viralterkini.id, Jakarta – Badai Matahari diperkirakan bakal menerjang bumi pada akhir pekan ini. Badai itu berpotensi menambah tekanan pada jaringan listrik di Amerika Serikat (AS) yang sudah terganggu akibat sejumlah terjangan badai baru-baru ini di negara tersebut.

Badan Oseanik dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) mengeluarkan peringatan badai geomagnetik yang signifikan untuk Kamis 10 Oktober 2024 hingga Jumat 11 Oktober 2024 setelah terdeteksinya sebuah letusan Matahari pada awal pekan ini, lapor CBS News pada Rabu 9 Oktober 2024.

Seperti dilansir Antara, Jumat 11 Oktober 2024, badai matahari dapat menyebabkan gangguan sementara pada sistem listrik dan sinyal radio, tulis peringatan NOAA.

Badan itu telah menyarankan operator jaringan listrik dan pengendali satelit untuk mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan.

Para peramal cuaca tidak mengharapkan badai ini mencapai intensitas yang sama dengan kejadian sebelumnya pada Mei lalu, yakni badai Matahari terkuat dalam lebih dari dua dekade terakhir, catat CBS News.

Dampak ke Indonesia

Peneliti Pusat Antariksa di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Johan Muhammad mengatakan dampak yang didapat Indonesia dari badai Matahari tidak sebesar daerah yang berada di lintang tinggi seperti di sekitar kutub Bumi. Hal ini dikarenakan letak Indonesia yang berada di khatulistiwa.

Meski demikian, kata Johan, tidak berarti Indonesia bebas dari dampak badai Matahari. Cuaca antariksa akan banyak berdampak pada gangguan sinyal radio frekuensi tinggi (HF) dan navigasi berbasis satelit.

“Di Indonesia, cuaca antariksa akibat aktivitas Matahari dapat mengganggu komunikasi antar pengguna radio HF dan mengurangi akurasi penentuan posisi navigasi berbasis satelit, seperti GPS,” ujar Johan, dikutip dari situs BRIN.

Selain itu, ada potensi gangguan teknologi satelit dan jaringan ekonomi global.

“Gangguan pada satelit dan jaringan kelistrikan di wilayah lintang tinggi seperti kutub akibat cuaca antariksa tentunya juga dapat berpengaruh terhadap kehidupan manusia di Indonesia secara tidak langsung,” tuturnya.

Selain itu, Johan juga membantah istilah kiamat badai Matahari. Menurutnya istilah itu keliru dan perlu diluruskan.

“Tidak ada istilah seperti itu di kalangan masyarakat ilmiah. Kita telah hidup lama berdampingan dengan cuaca antariksa. Aktivitas Matahari rutin terjadi. Yang perlu kita pahami adalah bagaimana prosesnya dan memitigasi dampak negatifnya semampu kita,” ujarnya. (ma)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

WhatsApp Image 2026-01-11 at 14.22.35

INSTAGRAM

12 hours ago
13 hours ago
14 hours ago
14 hours ago
14 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!