Mantan Presiden Iran ke-6, Mahmud Ahmadinejad. Kredit Foto: Instagram @dr.ahmadinejad Viralterkini.id – Mantan Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dipastikan masih hidup dan tidak mengalami luka. Kabar tersebut membantah isu yang sempat menyebut ia gugur dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat pada akhir pekan lalu.
Sebelumnya, sejumlah laporan menyebut Ahmadinejad tewas dalam gelombang serangan pertama yang menghantam Iran pada Sabtu (28/2/2026). Namun, Anadolu Agency melaporkan bahwa Ahmadinejad berada dalam kondisi sehat.
Seorang sumber dari lingkaran pengawalnya mengonfirmasi langsung keadaan tersebut. “Saya sudah berkomunikasi dengannya. Semuanya baik-baik saja,” ujar sumber itu kepada Anadolu.
Serangan AS dan Israel memang menargetkan sejumlah tokoh penting Iran serta infrastruktur militernya. Salah satu titik serangan menghantam bangunan yang digunakan para pengawal Ahmadinejad.
Dalam peristiwa itu, satu anggota Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) tewas. Lokasi ledakan hanya berjarak sekitar 100 meter dari posisi Ahmadinejad. Meski demikian, ia tidak terkena dampak langsung dan tidak menjadi target utama serangan.
Media Turki, Turkiyetoday, sempat memberitakan bahwa Ahmadinejad tewas bersama beberapa ajudan dan pengawal dalam serangan di kawasan Narmak, timur laut Teheran. Informasi tersebut kini terbukti tidak akurat.
Ahmadinejad dikenal sebagai figur simbol perlawanan terhadap dominasi Barat, khususnya Amerika Serikat, di Timur Tengah. Selama menjabat presiden pada 2005–2013, ia sering melontarkan pernyataan keras terhadap Israel.
Ia juga dikenal dengan gaya hidup sederhana dan citra sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat. Sebelum menjadi presiden, Ahmadinejad menjabat sebagai wali kota Teheran dan pernah bergabung dengan IRGC pada masa mudanya.
Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Ledakan terdengar di Teheran dan beberapa kota lain, termasuk Qom, Isfahan, Kermanshah, dan Karaj.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan dimulainya operasi militer berskala besar terhadap Iran. Ia menyatakan tujuan operasi itu untuk melindungi rakyat Amerika dari ancaman rezim Iran dan mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Dari jaringan berita CNN mengutip dua sumber yang menyebut militer AS merencanakan serangan selama beberapa hari ke depan. Radio militer Israel juga menyatakan bahwa gelombang awal serangan menargetkan tokoh-tokoh penting Iran dan masih menunggu hasil verifikasi dampaknya.
Sementara itu, kantor berita Iran melaporkan gangguan layanan seluler di sejumlah wilayah Teheran akibat serangan tersebut.
Pemerintah Israel langsung menutup sekolah, melarang pertemuan publik, dan meminta warga bekerja dari rumah. Militer Israel membunyikan sirene peringatan di berbagai wilayah.
Menteri Transportasi Israel melarang seluruh aktivitas di bandara hingga pemberitahuan lebih lanjut. Media Israel melaporkan penutupan total wilayah udara, sementara pesawat sipil asing yang menuju Israel diminta kembali ke negara asal.
Saluran 13 Israel menyebut serangan gabungan Israel–AS telah direncanakan selama beberapa bulan.
Iran merespons dengan mengirimkan drone tempur dan rudal ke wilayah pendudukan Israel. Selain itu, militer Iran menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah.
Serangan balasan Iran menghantam fasilitas militer AS di Qatar, Kuwait, dan beberapa negara Arab lain. Otoritas militer Iran menegaskan kesiapan mereka untuk mempertahankan diri dan membalas setiap serangan sepihak dari Israel dan Amerika Serikat.
Pejabat Iran menyatakan bahwa negara mereka tidak akan tinggal diam menghadapi agresi militer dan akan terus merespons setiap eskalasi yang mengancam kedaulatan nasional. (**)