x Pulau Seribu Asri

Ketika Bertahan Menjadi Awal Kekalahan

waktu baca 2 menit
Kamis, 16 Jul 2026 12:28 14 M Ary K

Penulis: Gerry Habel Hukubun | Politikus Penikmat Sepak Bola

Terakhir kali saya mengenakan jersey Argentina ini adalah ketika berada di Busan, Korea Selatan. Hari ini saya memakainya lagi. Sebab semalam, dunia kembali diingatkan bahwa sepak bola adalah permainan yang paling kejam sekaligus paling indah.

Dan Lionel Messi… Ya, dia kembali membuktikan mengapa dunia menyebutnya GOAT.

Inggris sebenarnya tampil luar biasa pada babak pertama. Secara kualitas individu, kedalaman skuad, kecepatan, hingga kemampuan teknis, mereka bahkan terlihat sedikit berada di atas Argentina. Permainan mereka rapi, disiplin, dan mampu mengendalikan tempo.

Namun pertandingan besar sering kali tidak dimenangkan oleh tim yang bermain lebih baik. Ia dimenangkan oleh tim yang mengambil keputusan lebih tepat.

Di sinilah, menurut saya, Thomas Tuchel melakukan blunder.

Ketika pertandingan memasuki 30 menit terakhir, Inggris justru memilih mundur. Gordon ditarik keluar, formasi berubah menjadi lima bek, garis pertahanan semakin rendah, dan Argentina dibiarkan memegang bola lebih lama.

Menghadapi Lionel Messi, itu adalah perjudian yang terlalu mahal.

Ada sebuah filosofi tua dari Total Football Belanda yang hingga hari ini tetap terasa relevan, bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang.

Bertahan bukan berarti membiarkan lawan nyaman menguasai bola, tetapi memastikan mereka tidak pernah memiliki kesempatan membangun kepercayaan diri.

Karena dalam sepak bola, kepercayaan diri sama berbahayanya dengan peluang.

Dan Inggris memberikan keduanya kepada Argentina.

Mereka membiarkan angin pertandingan berubah arah. Build-up Argentina mulai hidup, ritme permainan kembali mereka kuasai, lalu dalam hitungan beberapa menit, semuanya berubah. Tujuh menit yang menghapus kerja keras selama lebih dari delapan puluh menit sebelumnya.

Itulah bedanya pemain biasa dengan seorang legenda.

Messi tidak membutuhkan banyak ruang. Ia hanya membutuhkan satu atau dua detik untuk membaca keadaan. Dan ketika ruang sekecil itu diberikan, ia mampu mengubah jalannya sejarah.

Karena itu saya kurang sependapat dengan mereka yang masih mengaitkan kemenangan Argentina dengan narasi konspirasi atau bantuan FIFA. Penjelasan paling sederhana justru sering kali adalah yang paling benar. Yaitu, Argentina memiliki mental juara, organisasi permainan yang matang, dan seorang pemain yang kualitasnya mampu melampaui taktik apa pun.

Pep Guardiola pernah berkata, “Jangan pernah memberi Messi ruang untuk berpikir.” Semalam, Inggris melakukannya. Dan mereka harus membayar sangat mahal.

Maka slogan “Football’s Coming Home” pun kembali berubah menjadi “Football hasn’t come home yet.”

Selamat untuk Argentina.

Perjalanan menuju trofi memang belum selesai. Namun jika masih ada Messi yang mampu mengubah pertandingan hanya dalam beberapa detik, rasanya sangat sulit untuk tidak menempatkan Argentina sebagai kandidat terkuat juara Piala Dunia 2026.

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri