x Pulau Seribu Asri

Biblel Report: Mengurai Benang Kusut Pengelolaan Sampah di Halmahera Tengah

waktu baca 3 menit
Jumat, 5 Jun 2026 06:46 170 Red

Riset ini Memuat Tinjauan Mendalam terhadap Implementasi Ekosistem Sampah Berbasis Komunitas dan Partisipasi Publik

Viralterkini, WEDA,— Di tengah derap pembangunan yang kian pesat, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, tengah menguji ketangguhan tata kelola lingkungannya. Persoalan sampah, yang selama ini menjadi tantangan klasik bagi daerah berkembang, kini mulai didekati melalui paradigma baru yang terintegrasi. Laporan riset terbaru dari Komunitas Biblel mengungkapkan bahwa daerah ini tengah merintis ekosistem pengelolaan sampah yang menyinergikan infrastruktur pemerintah dengan partisipasi aktif masyarakat di tingkat akar rumput.

Laporan bertajuk Biblel Report yang dirilis bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jumat (5/6/2026), membedah bagaimana Halmahera Tengah mulai membangun fondasi sistemik untuk mengurai beban timbulan sampah yang mencapai 10 hingga 13 ton per hari di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Fidijaya.

Integrasi Sistemik

Koordinator Komunitas Biblel, Fikra Majid, menyatakan bahwa riset ini memotret pergeseran strategis dalam manajemen persampahan. TPA Fidijaya, yang dioptimalkan sejak 2018, kini tidak lagi berdiri sebagai titik akhir pembuangan semata, melainkan pusat kendali dari sebuah ekosistem yang terintegrasi dengan bank sampah, rumah kompos, dan kelompok pengelola sampah di desa-desa.

“Riset ini menunjukkan Halmahera Tengah telah memiliki fondasi awal untuk membangun sistem yang lebih terpadu. Ke depan, tantangan utamanya adalah memperkuat partisipasi masyarakat dan memastikan setiap fasilitas dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujar Fikra saat memaparkan hasil laporan tersebut.

Peran Strategis Komunitas

Salah satu temuan krusial dalam riset ini adalah lahirnya pendekatan berbasis komunitas sebagai solusi atas keterbatasan jangkauan layanan pengangkutan sampah pemerintah. Sebanyak 11 lembaga pengelola sampah, mulai dari Bank Sampah Induk hingga Bank Sampah Unit, tercatat menjadi motor penggerak di tingkat desa.

Anggota tim riset, Alnugransyah Asri, menekankan bahwa kehadiran bank sampah bukan sekadar soal mereduksi volume sampah ke TPA.

“Bank sampah adalah instrumen edukasi strategis untuk mengubah perilaku masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya. Ini adalah upaya transformasi budaya yang tidak instan,” tuturnya.

Dukungan pemerintah daerah melalui stimulan bantuan operasional sebesar Rp20 juta per kelompok, serta bantuan sarana berupa mesin pencacah dan kendaraan operasional, dinilai riset Biblel sebagai langkah konkret yang memperkuat ekosistem tersebut.

Catatan Kritis dan Rekomendasi

Meski menunjukkan tren positif, Biblel Report juga memberikan catatan kritis yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait. Riset mencatat adanya ketimpangan distribusi sarana pengangkutan di beberapa kecamatan serta perlunya peningkatan intensitas edukasi publik terkait pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.

Faizal Ikbal, anggota tim riset, menegaskan bahwa keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada kolaborasi yang tidak putus.

“Pengelolaan sampah bukan sekadar tanggung jawab administratif pemerintah. Perubahan lahir dari partisipasi masyarakat. Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini adalah momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif agar sistem yang telah dibangun mampu memberikan dampak lingkungan yang berkelanjutan,” tegasnya.

Proyeksi Masa Depan

Hasil penelitian ini menyodorkan tesis bahwa keberlanjutan lingkungan di Halmahera Tengah akan sangat ditentukan oleh seberapa kuat sinergi antara pemerintah, komunitas, dan warga dapat dipelihara di masa depan.

Sebagai sebuah Biblel Report, hasil riset ini diharapkan menjadi bahan refleksi bagi para pengambil kebijakan sekaligus dorongan bagi publik untuk terlibat aktif dalam menjaga kualitas lingkungan hidup di tengah arus pembangunan yang intensif.

Dengan temuan ini, Halmahera Tengah kini memiliki pijakan data yang kredibel untuk melangkah menuju tata kelola sampah yang lebih modern, efisien, dan partisipatif, sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi sebagai kunci keberhasilan dalam menjaga kualitas lingkungan bagi kesejahteraan masyarakat. (Red)

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri