Ilustrasi: Viralterkini.id Viralterkini.id – Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia kembali meningkat dan mencapai US$431,7 miliar. Angka tersebut naik 1,55% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$425,1 miliar.
Dengan mengacu pada kurs dolar AS JISDOR Rp16.844 per dolar AS, total ULN Indonesia setara dengan sekitar Rp7.271 triliun.
Dari jumlah tersebut, porsi utang pemerintah mencapai US$238,9 miliar atau sekitar Rp4.024 triliun, sementara utang sektor swasta tercatat sebesar US$192,8 miliar atau setara Rp3.247,5 triliun.
Berdasarkan laporan resmi Utang Luar Negeri yang dirilis Bank Indonesia pada Rabu (18/2/2026), berikut negara-negara dengan nilai pinjaman terbesar kepada Indonesia.
Singapura menempati peringkat pertama sebagai pemberi pinjaman terbesar bagi Indonesia. Nilai ULN Indonesia kepada negara tersebut tercatat sebesar US$55,09 miliar atau sekitar Rp928,02 triliun.
Jumlah ini sedikit menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai US$56,62 miliar. Meski demikian, Singapura tetap mempertahankan posisinya sebagai kreditur utama.
Pada 2019, nilai ULN Indonesia kepada Singapura bahkan sempat menyentuh US$69,36 miliar.
Di peringkat kedua terdapat Amerika Serikat dengan nilai ULN Indonesia sebesar US$27,3 miliar atau sekitar Rp459,84 triliun hingga Desember 2025.
Utang Indonesia kepada AS sempat melonjak tajam pada 2018 dari US$12,63 miliar menjadi US$21,04 miliar.
Selama masa pandemi, nilainya kembali meningkat hingga US$32,66 miliar pada 2022. Namun sejak 2023, trennya menurun hingga berada di kisaran US$27,03 miliar pada 2025.
China kini menempati posisi ketiga sebagai pemberi pinjaman terbesar, dengan nilai ULN Indonesia sebesar US$23,73 miliar atau sekitar Rp399,71 triliun.
China berhasil melampaui Jepang yang sebelumnya berada di posisi tersebut.
Pada 2013, utang Indonesia kepada China masih sebesar US$6,15 miliar, jauh di bawah Jepang yang mencapai US$32,82 miliar.
Namun sejak 2015, nilai pinjaman China meningkat signifikan menjadi US$13,66 miliar dan terus naik hingga US$20,89 miliar pada 2021.
China resmi melampaui Jepang pada 2024, ketika ULN Indonesia kepada China mencapai US$23,16 miliar, sedangkan Jepang turun ke US$21,05 miliar.
Kenaikan ini dipengaruhi oleh perubahan pola kerja sama dan prioritas pembangunan infrastruktur serta industri pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
China juga semakin aktif menyalurkan pembiayaan melalui skema Belt and Road Initiative (BRI), terutama untuk proyek smelter, hilirisasi mineral, pembangkit listrik, kawasan industri, hingga kereta cepat.
Pada 2025, Jepang berada di posisi keempat dengan ULN Indonesia sebesar US$20,28 miliar, turun dari US$21,05 miliar pada 2024.
Nilai ini menjadi yang terendah dalam sepuluh tahun terakhir. Padahal pada 2015, utang Indonesia kepada Jepang masih mencapai US$31,35 miliar.
Selama ini Jepang menyalurkan pinjaman melalui skema Official Development Assistance (ODA) yang dikelola Japan International Cooperation Agency (JICA), terutama untuk proyek MRT Jakarta, pelabuhan, bendungan, dan ketahanan bencana.
Penurunan terjadi karena pemerintah Indonesia tidak lagi agresif menarik ODA seperti satu dekade lalu, serta adanya pelunasan utang. Di sisi lain, Jepang juga semakin selektif dalam memberikan pinjaman baru.
Hong Kong menunjukkan peningkatan signifikan dalam satu dekade terakhir. Pada 2015, ULN Indonesia kepada Hong Kong masih sebesar US$7,88 miliar.
Nilainya naik menjadi US$13,2 miliar pada 2016 dan melonjak hingga US$19 miliar pada 2024.
Sebagai pusat keuangan regional, peningkatan pinjaman dari Hong Kong mencerminkan arus pembiayaan dari perusahaan-perusahaan berbasis China daratan.
Mayoritas pinjaman tersebut masuk kategori ULN swasta non-bank dan pembiayaan jangka panjang proyek.
Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa ULN swasta terutama mengalir ke sektor industri pengolahan, energi, serta infrastruktur non-pemerintah.
Kategori “Asia Lainnya” dalam laporan Bank Indonesia tidak merinci negara secara spesifik. Hingga akhir 2025, ULN Indonesia dari kawasan ini tercatat sebesar US$10,95 miliar.
Nilai pinjaman dari kelompok Asia Lainnya sempat melonjak pada 2018 menjadi US$10,88 miliar. Padahal pada periode tiga hingga lima tahun sebelumnya, angkanya masih berada di kisaran US$6,23 miliar hingga US$9,46 miliar.
Secara keseluruhan, data tersebut menunjukkan adanya pergeseran sumber pembiayaan luar negeri Indonesia.
Peta pembiayaan luar negeri Indonesia kini bergeser dari Jepang ke China dan Hong Kong yang lebih agresif menyalurkan dana untuk proyek infrastruktur dan industri. (**)
Tidak ada komentar