Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Kredit Foto: Istimewa Viralterkini.id – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengecam keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas pernyataannya yang dinilai meremehkan peran negara-negara sekutu NATO dalam perang di Afghanistan.
Starmer bahkan menilai pernyataan Trump telah melukai perasaan keluarga para prajurit yang gugur maupun terluka selama konflik tersebut. Ia juga mengisyaratkan bahwa Presiden AS seharusnya menyampaikan permintaan maaf.
Perselisihan ini bermula dari pernyataan Trump saat berbicara kepada Fox News di sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis (23/1/2026).
Dalam wawancara tersebut, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat “tidak pernah membutuhkan bantuan” dari negara lain dan menuding sekutu NATO “sedikit mundur dan menjauh dari garis depan pertempuran.”
Padahal, setelah serangan teror 11 September 2001, Amerika Serikat mengaktifkan Pasal 5 NATO yang mewajibkan seluruh negara anggota memberikan dukungan militer dalam invasi ke Afghanistan.
Menanggapi hal itu, Starmer menyampaikan kecaman tegas kepada wartawan di London pada Jumat (24/1/2026).
“Saya menganggap pernyataan Presiden Trump menghina dan, terus terang, sangat mengerikan. Saya tidak terkejut jika ucapan itu menyebabkan kesedihan mendalam bagi keluarga mereka yang tewas atau terluka dalam perang,” ujar Starmer.
Ketika ditanya apakah ia mengharapkan permintaan maaf dari Trump, Starmer menjawab, “Jika saya yang mengucapkan pernyataan seperti itu dan ternyata keliru, saya tentu akan meminta maaf.”
Kritik juga datang dari Pangeran Harry, yang pernah dua kali bertugas di Afghanistan. Ia menegaskan bahwa pengorbanan tentara Inggris “layak dibicarakan secara jujur dan penuh rasa hormat.”
Inggris tercatat sebagai negara dengan jumlah pasukan Barat terbesar kedua di Afghanistan setelah Amerika Serikat.
Menurut data BBC, jumlah pasukan Inggris mencapai puncaknya sekitar 11.000 personel pada 2011. Selama konflik yang berlangsung hampir 20 tahun, sebanyak 2.456 tentara Amerika Serikat dan 457 tentara Inggris tewas.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa semakin meningkat setelah Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait Greenland, wilayah otonomi Denmark.
Di Davos, Trump menyebut negara Nordik itu sebagai negara yang “tidak tahu berterima kasih” atas bantuan Amerika Serikat dalam mengalahkan Nazi Jerman pada Perang Dunia II.
Sejumlah negara Eropa memperingatkan bahwa potensi tindakan agresif Amerika Serikat terhadap sesama anggota NATO dapat menjadi ancaman serius bagi stabilitas dan masa depan aliansi tersebut. (**)
Tidak ada komentar