Viralterkini.id – Pilihan asupan saat dini hari menjadi faktor penentu ketahanan fisik umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa lebih dari 12 jam. Sahur bukan sekadar rutinitas makan sebelum fajar, melainkan strategi metabolisme agar tubuh tetap bugar dan pikiran terjaga sepanjang hari.
Pakar kesehatan menekankan bahwa menu sahur yang tepat berfungsi menjaga stabilitas kadar gula darah. Dengan kadar gula yang terkontrol, risiko lemas, pusing, hingga penurunan konsentrasi saat beraktivitas dapat diminimalkan.
Komposisi ideal dalam satu piring sahur dianjurkan mengandung karbohidrat kompleks sebagai sumber energi utama. Nasi merah, oatmeal, dan roti gandum menjadi pilihan karena dicerna lebih lambat oleh tubuh. Proses pencernaan yang bertahap ini membuat energi dilepaskan secara stabil dan rasa kenyang bertahan lebih lama.
Selain karbohidrat, protein memegang peran penting dalam menjaga massa otot dan membantu proses perbaikan jaringan tubuh. Sumber protein seperti telur, ikan, tempe, maupun tahu dinilai efektif menopang kebutuhan nutrisi selama masa pembatasan asupan makanan.
Lemak sehat dan serat juga tidak boleh diabaikan. Lemak baik dari alpukat atau minyak zaitun membantu penyerapan vitamin, sementara serat dari sayuran hijau dan buah-buahan berfungsi menjaga kesehatan saluran pencernaan serta mencegah sembelit yang kerap muncul selama Ramadan.
Kecukupan cairan menjadi aspek krusial lainnya. Air putih atau susu rendah lemak dianjurkan untuk menjaga keseimbangan elektrolit dan mencegah dehidrasi sebelum waktu berbuka tiba. Asupan cairan yang cukup saat sahur membantu tubuh beradaptasi lebih baik terhadap perubahan pola makan.
Dalam praktiknya, menu sahur sehat tidak harus rumit. Kombinasi sederhana seperti nasi merah dengan telur rebus dan tumis sayur sudah memenuhi kebutuhan gizi harian. Bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi, oatmeal dengan potongan buah atau roti gandum isi protein dapat menjadi alternatif cepat namun tetap bernutrisi. Sup hangat juga dianjurkan karena memberikan tambahan cairan sekaligus nyaman bagi lambung.
Keberhasilan menjaga pola makan ini sangat bergantung pada konsistensi dan perencanaan. Mengurangi makanan terlalu asin atau manis saat sahur disarankan karena dapat memicu rasa haus berlebihan di siang hari. Perencanaan menu mingguan serta pengaturan pola tidur yang cukup turut membantu menjaga kebugaran selama berpuasa.
Pada akhirnya, kesadaran bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari amanah menjadi motivasi utama dalam memilih makanan. Sahur yang terencana tidak hanya mendukung kelancaran ibadah, tetapi juga menjadi investasi kesehatan jangka panjang. Kebiasaan memilih nutrisi seimbang ini pun diharapkan terus berlanjut setelah Ramadan sebagai bagian dari pola hidup sehat yang berkelanjutan. (rby)
Tidak ada komentar