Ilustrasi: Viralterkini.id Viralterkini.id – Menjelang pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) Lebaran, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital. Setiap tahun, peningkatan aktivitas transaksi dan mobilitas masyarakat saat Ramadan sering memicu lonjakan kejahatan siber.
Para pekerja mulai menerima THR sejak pekan ini. Karena itu, pelaku penipuan memanfaatkan momentum tersebut untuk melancarkan aksinya melalui berbagai metode digital.
Data perusahaan infrastruktur identitas digital, PT Indonesia Digital Identity (VIDA) pada 2025 menunjukkan lonjakan kasus penipuan digital sering muncul menjelang dan selama periode pencairan THR. Tingginya aktivitas transaksi membuat ruang gerak pelaku semakin luas.
Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan memahami berbagai pola penipuan digital agar tidak menjadi korban.
“Penipuan selalu beradaptasi. Setiap kali sistem pertahanan diperkuat, pelaku menguji ulang, menyesuaikan teknik, dan kembali dengan metode yang lebih kompleks dan sistematis. Mereka memanfaatkan celah keamanan, kelemahan literasi digital masyarakat, serta momentum tertentu untuk melancarkan aksinya,” kata Niki dalam keterangannya pada Minggu (8/3/2026).
Menurut Niki, pelaku penipuan digital sering menggunakan metode phishing atau smishing untuk menjebak korban. Pelaku biasanya mengirim pesan yang mendorong korban mengklik tautan tertentu.
Setelah korban membuka tautan tersebut, pelaku meminta korban memasukkan data pribadi seperti username, password, hingga kode One-Time Password (OTP).
Pelaku sering menyamar sebagai lembaga resmi. Misalnya, mereka mengaku sebagai perusahaan logistik atau menawarkan promo Ramadan palsu melalui nomor tidak dikenal.
Selain itu, modus ini juga berkembang melalui teknik fake BTS yang sempat ramai pada tahun lalu. Melalui metode ini, pelaku mengirim pesan palsu secara massal dan membuat pesan tersebut terlihat seperti berasal dari institusi resmi.
Karena pesan tampak meyakinkan, banyak penerima tidak menyadari adanya upaya penipuan.
Selain phishing, pelaku juga kerap menyebarkan malware untuk mencuri data korban. Dalam skema ini, pelaku mengirim file aplikasi berbahaya dalam bentuk APK.
Pelaku biasanya menyamarkan file tersebut sebagai dokumen penting. Contohnya dokumen status pengiriman paket, undangan pernikahan, atau dokumen lain yang terlihat relevan bagi korban.
Jika korban mengunduh file tersebut, aplikasi berbahaya dapat langsung terpasang di perangkat. Setelah itu, pelaku dapat memantau perangkat korban dari jarak jauh.
Melalui akses tersebut, pelaku bisa mengambil password serta berbagai informasi sensitif yang tersimpan di perangkat korban.
Kedua modus tersebut memiliki tujuan yang sama. Pelaku berusaha mendapatkan kredensial atau akses akun milik pengguna.
Karena itu, Niki menilai password saja tidak lagi cukup untuk melindungi identitas digital masyarakat.
Untuk mencegah penipuan digital menjelang Lebaran, Niki mengingatkan masyarakat agar melindungi dua aspek penting, yaitu perangkat dan identitas biometrik.
Perangkat seperti ponsel pintar, tablet, dan laptop kini menyimpan banyak akses identitas digital. Melalui perangkat tersebut, seseorang dapat mengakses layanan penting, terutama layanan keuangan.
Karena itu, masyarakat perlu menambah lapisan keamanan pada perangkat yang digunakan sehari-hari.
VIDA juga mengajak masyarakat mengikuti gerakan literasi digital bertajuk #JanganAsalKlik.
Melalui kampanye ini, masyarakat diharapkan lebih berhati-hati saat menerima pesan digital. Masyarakat sebaiknya tidak sembarangan mengklik tautan, mengunduh aplikasi, atau membagikan informasi pribadi.
Dengan kewaspadaan tersebut, masyarakat dapat menghindari berbagai modus penipuan yang sering muncul menjelang pencairan THR. (**)

