CEO Nvidia, Jensen Huang. Kredit Foto: Yahoo.com Viralterkini.id – Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Nvidia, kembali menorehkan rekor baru. Pada Rabu (29/10/2025), perusahaan pembuat chip tersebut resmi menjadi emiten pertama di dunia yang menembus kapitalisasi pasar 5 triliun dolar AS atau setara sekitar Rp83.000 triliun.
Lonjakan nilai ini terjadi seiring melonjaknya permintaan global terhadap chip kecerdasan buatan (AI). Di tengah revolusi AI yang meluas ke berbagai sektor industri, Nvidia tampil sebagai pemasok utama teknologi komputasi berperforma tinggi.
Perusahaan pun melakukan ekspansi besar-besaran untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat dominasinya di pasar dunia.
Namun, di balik gemerlap angka triliunan dolar itu, terdapat perjalanan panjang penuh kerja keras dari sosok di balik Nvidia, yakni Jensen Huang.
Perjalanan hidup Jensen Huang tidak dimulai dari keluarga konglomerat atau ruang rapat mewah. Ia pernah bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran Amerika. Dari pekerjaan sederhana itu, ia belajar tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan efisiensi kerja.
Huang lahir di Tainan, Taiwan, pada 1963 dan tumbuh dalam keluarga sederhana yang sering berpindah tempat tinggal. Saat masih kecil, keluarganya sempat menetap di Thailand sebelum akhirnya hijrah ke Amerika Serikat. Di usia sembilan tahun, Huang dan kakaknya dikirim lebih dulu ke sekolah berasrama di Kentucky yang terkenal dengan disiplin ketat.
Beberapa tahun kemudian, keluarganya berkumpul kembali dan tinggal di Portland, Oregon. Di sana, Huang menamatkan sekolah menengah atas lebih cepat dari teman-temannya, yakni pada usia 16 tahun.
Setelah lulus SMA, Huang bekerja sebagai tukang cuci piring dan kemudian naik menjadi pelayan restoran. Ia kerap menyebut pengalaman ini sebagai pelajaran hidup tentang kerendahan hati dan kerja keras.
Selanjutnya, Huang melanjutkan pendidikan di Oregon State University dengan mengambil jurusan teknik elektro. Di kampus inilah ia bertemu Lori, rekan laboratorium yang kelak menjadi istrinya.
Usai lulus pada 1984, Huang bekerja di perusahaan semikonduktor besar seperti AMD dan LSI Logic. Meski telah berkarier, ia tetap melanjutkan pendidikan magister teknik elektro di Stanford University hingga lulus pada 1992.
Pada 1993, bersama Chris Malachowsky dan Curtis Priem, Huang mendirikan Nvidia. Ide pendirian perusahaan itu muncul dari percakapan sederhana di restoran Denny’s, San Jose, California.
Dengan modal awal sekitar 40.000 dolar AS, mereka bertekad menciptakan chip grafis yang mampu mengubah arah industri komputasi. Dari sebuah startup kecil, Nvidia perlahan berkembang menjadi pemimpin pasar di bidang GPU.
Produk Nvidia tidak hanya dipakai untuk gim, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi pusat data, superkomputer, dan pengembangan AI modern.
Kesuksesan Nvidia berdampak langsung pada kekayaan Jensen Huang. Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index per Mei 2025, hartanya mencapai sekitar 91,3 miliar dolar AS atau setara Rp1.464 triliun.
Angka tersebut meningkat tajam dibanding awal tahun yang masih berada di kisaran 77 miliar dolar AS. Kenaikan ini sejalan dengan melesatnya harga saham Nvidia akibat tingginya permintaan chip AI secara global.
Dengan kapitalisasi pasar lebih dari 2,5 triliun dolar AS, Nvidia kini masuk jajaran perusahaan paling bernilai di dunia, berada di bawah Microsoft dan Apple.
Pada Rabu (29/10/2025), Nvidia resmi menjadi perusahaan pertama di dunia yang menembus kapitalisasi pasar 5 triliun dolar AS. Pencapaian ini lahir dari kombinasi permintaan chip AI yang terus meningkat dan rencana ekspansi produksi secara agresif.
Optimisme pasar semakin menguat setelah muncul kabar bahwa Nvidia menyiapkan pesanan chip senilai hingga 500 miliar dolar AS dan berencana membangun tujuh superkomputer baru untuk pemerintah Amerika Serikat.
Langkah strategis ini mempertegas posisi Nvidia sebagai pusat ekosistem AI global, mulai dari data center, keamanan siber, hingga riset pertahanan.
Para analis menilai pencapaian Nvidia bukan sekadar soal valuasi, melainkan simbol pergeseran kekuatan industri teknologi dunia. Nvidia kini tidak hanya memproduksi chip, tetapi juga menentukan arah perkembangan komputasi modern.
Meski demikian, sejumlah pihak mengingatkan bahwa valuasi tinggi juga membawa tantangan besar. Pasar akan terus menuntut kinerja nyata, bukan sekadar janji ekspansi dan pertumbuhan.
Kesepakatan strategis dengan pemerintah Amerika Serikat untuk membangun infrastruktur AI bernilai ratusan miliar dolar menjadi bukti bahwa Nvidia kini berada di garis depan pembangunan masa depan teknologi global.
Dari tukang cuci piring hingga CEO perusahaan paling bernilai di dunia, perjalanan Jensen Huang mencerminkan kekuatan visi, kerja keras, dan keberanian mengambil risiko.
Kini, Nvidia berdiri sebagai simbol perubahan zaman, sementara Huang dikenal bukan hanya sebagai pemimpin perusahaan sukses, tetapi juga sebagai arsitek utama era kecerdasan buatan dunia.
Kisahnya menunjukkan bahwa masa lalu yang sederhana tidak menghalangi seseorang untuk mengubah sejarah industri teknologi global. (**)
Tidak ada komentar