Ilustrasi: Viralterkini.id Viralterkini.id – Harga Bitcoin kembali melemah tajam pada perdagangan Kamis (19/2/2026). Penurunan ini membuat nilainya merosot hampir 50 persen dari rekor tertinggi yang dicapai pada Oktober tahun lalu.
Tekanan terjadi setelah pasar merespons sikap yang terbelah dari Federal Reserve dalam pertemuan awal tahun 2026. Ketidakjelasan arah kebijakan moneter mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko tinggi, termasuk kripto.
Hingga pukul 14.10 WIB, Bitcoin turun 1,08 persen dibandingkan perdagangan Rabu dan berada di level US$67.060. Secara mingguan, Bitcoin terkoreksi sekitar 0,5 persen.
Sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd), Bitcoin masih melemah sekitar 24 persen. Jika dibandingkan dengan puncaknya di level US$125.689, harga Bitcoin telah turun sekitar 47 persen secara point to point.
Pelemahan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Pasar kripto secara umum juga bergerak turun dalam 24 jam terakhir.
Berdasarkan data dari CoinMarketCap, XRP merosot sekitar 4 persen. Solana turun 2,92 persen, sementara Ethereum melemah 0,9 persen.
Aksi jual ini mencerminkan perubahan strategi investor yang mulai mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas, dan meninggalkan aset dengan risiko tinggi seperti kripto.
Analis Ajaib Kripto Panji Yudha menjelaskan tekanan pasar muncul setelah risalah pertemuan The Fed menunjukkan perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral AS.
“Sebagian pejabat mendukung pemangkasan suku bunga jika inflasi turun ke target 2 persen. Namun, sebagian lainnya siap mendukung kenaikan suku bunga bila inflasi tetap tinggi,” ujar Panji, Kamis (19/2/2026).
Menurut data CME Group melalui CME FedWatch Tool, peluang suku bunga acuan dipertahankan di kisaran 3,5–3,75 persen pada pertemuan Maret melonjak menjadi 93,6 persen.
“Data tenaga kerja pekan lalu yang lebih kuat dari perkiraan membuat peluang pemangkasan suku bunga pada Maret hampir tertutup,” kata Panji.
Ke depan, pasar akan mencermati rilis Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index pada Jumat ini. Indikator tersebut merupakan ukuran inflasi favorit The Fed.
Jika data PCE lebih tinggi dari perkiraan, imbal hasil obligasi AS dan dolar berpotensi menguat. Kondisi ini biasanya memberikan tekanan besar pada aset spekulatif seperti kripto.
“Bitcoin berisiko melanjutkan tren penurunan jika data inflasi kembali mengejutkan pasar,” pungkas Panji. (**)
Tidak ada komentar