Ilustrasi: Viralterkini.id Viralterkini.id – Kompetisi teknologi ruang angkasa antara Amerika Serikat dan Cina semakin intensif, terutama di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO).
Baru-baru ini, perusahaan SpaceX mengumumkan langkah besar dalam konfigurasi ulang armada satelit internetnya, yang dipandang sebagian analis sebagai respons terhadap meningkatnya risiko tabrakan dengan satelit lain, termasuk yang berasal dari Cina.
SpaceX berencana menurunkan lebih dari 4.400 satelit Starlink dari ketinggian sekitar 550 kilometer menjadi sekitar 480 kilometer di atas permukaan Bumi sepanjang tahun 2026.
Langkah ini dilakukan setelah insiden near-miss — pasar dekat antara satelit Starlink dan satelit Cina — yang disebut oleh peneliti memicu keputusan tersebut.
Meski tidak terjadi tabrakan, interaksi ini dinilai telah menggugah perhatian manajemen dan ahli teknologi luar angkasa.
Menurut SpaceX, pengoperasian pada orbit yang lebih rendah memiliki beberapa keuntungan keselamatan, seperti mengurangi waktu satelit berada di orbit saat sudah tidak berfungsi dan menurunkan kemungkinan bertabrakan dengan objek lain.
Wilayah orbit di bawah 500 kilometer juga memiliki tingkat kepadatan debris yang lebih rendah, sehingga meminimalkan bahaya runtuhan antariksa.
Namun dampaknya tidak sekadar teknis. Penurunan ketinggian yang dimaksud membuat satelit-satelit tersebut harus menghadapi gaya hambat atmosfer yang lebih kuat, yang menyebabkan konsumsi bahan bakar meningkat untuk mempertahankan orbit.
Hal ini berpotensi mempersingkat usia layanan masing-masing satelit dan menambah biaya operasional jangka panjang bagi SpaceX.
Fenomena ini juga muncul di tengah persaingan global yang kian tajam dalam penguasaan ruang angkasa. Cina, selain mengkritik dominasi Starlink sebagai risiko keselamatan dan ancaman terhadap orbital bersama, tengah mempercepat pengembangan konstelasi satelitnya sendiri.
Proyek seperti Guowang — yang menargetkan lebih dari 13.000 satelit di orbit rendah Bumi — dan Spacesail/Qianfan menunjukkan bagaimana Beijing ingin mengukuhkan posisinya di arena antariksa yang semakin strategis.
Dikutip dari Indomiliter.com, Jumat (30/1/2026), para pejabat dan analis menyatakan bahwa keterlibatan satelit semakin jauh melampaui peran komunikasi semata.
Armada seperti Starlink kini dipandang sebagai infrastruktur penting dengan nilai geopolitik tinggi, yang juga berpotensi dipergunakan untuk keperluan intelijen, militer, dan kedaulatan data.
Persepsi ini menjadi salah satu pendorong persaingan antarnegara, termasuk kritik Beijing di forum-forum internasional tentang dominasi satelit komersial Barat di orbit yang sama.
Dengan ribuan satelit baru yang direncanakan akan diluncurkan oleh berbagai negara dan perusahaan swasta dalam dekade mendatang, tantangan untuk mengelola ruang orbital secara aman dan efektif diperkirakan akan terus meningkat.
Hal ini menjadikan orbit rendah Bumi sebagai salah satu medan utama persaingan teknologi global di abad ke-21 — bukan sekadar tujuan ilmiah atau komersial, tetapi juga arena strategis geopolitik yang menentukan masa depan akses dan kendali informasi di luar angkasa. (**)
Tidak ada komentar