Tangis syukur Jumah Rajak pecah saat menceritakan babak baru hidupnya di bawah atap rumah yang layak dan bermartabat. Foto: Supriansah Nurdin Viralterkini.id, HALTENG – Di balik riuh rendah persiapan berbuka puasa di Desa Tepeleo Batu Dua, seorang lelaki lanjut usia bernama Jumah Rajak, 60 tahun, tampak duduk tenang di sebuah kursi teras rumah barunya pada Sabtu, 21 Februari 2026.
Sambil menikmati semilir angin sore, ia memandangi sekeliling dengan tatapan haru, meresapi setiap jengkal hunian yang kini tak lagi menyisakan bau tanah lembap atau aroma kayu lapuk yang dulu menjadi karibnya.
Kini, aroma kayu lapuk itu telah tergantikan dengan aroma cat yang masih segar, sebuah wangi harapan yang menandai babak baru dalam hidupnya.

Rambutnya yang memutih dan guratan dalam di wajahnya menjadi saksi bisu atas puluhan tahun masa sulit yang ia lalui di bawah atap bocor. Selama itu pula, ia menelan pahitnya hinaan dan tuduhan “gila” dari mereka yang tak memahami sunyinya perjuangan hidup yang ia pukul sendirian.
Ramadhan kali ini membawa keajaiban melalui kebijakan pembangunan Rumah Layak Huni (RLH) yang digerakkan secara masif oleh Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah.
Di bawah kepemimpinan Bupati Ikram Malan Sangadji dan Wakil Bupati Ahlan Djumadil, program RLH menjadi gerakan kemanusiaan untuk menyisir pelosok. Langkah ini memastikan warga seperti Jumah tak lagi terlupakan dan bisa merasakan hidup yang manusiawi di masa senja.
Rumah Jumah yang dulu ringkih, kini berdiri kokoh dengan dinding semen yang kuat dan lantai tehel yang dingin mengilap. Perubahan ini bukan sekadar urusan material—bukan hanya soal semen dan batu bata—melainkan sebuah bentuk pemulihan martabat.
Saat jemarinya menyentuh permukaan dinding yang halus dari kursi terasnya, air mata Jumah tumpah tanpa bisa dibendung, membasahi wajah rentanya yang kini memancarkan rasa lega.
Dengan suara bergetar yang penuh haru, ia berbisik bahwa meski hanya berbuka dengan air putih, kebahagiaannya terasa meluap memenuhi seluruh ruangan. Ia tak lagi perlu mencemaskan awan mendung yang menggantung di langit Patani Utara, karena kini ia memiliki tempat berteduh yang menjaganya dari gigil malam.
Rasa haru itu memuncak menjadi doa yang ia langitkan untuk para pemimpinnya yang telah memberikan perhatian nyata.
“Terima kasih banyak Bapak Bupati Ikram Malan Sangadji dan Bapak Wakil Bupati Ahlan Djumadil. Melalui tangan dingin Bapak-bapak, doa saya selama bertahun-tahun akhirnya dijawab Tuhan. Semoga Bapak berdua selalu diberkati kesehatan untuk terus menolong orang-orang kecil seperti saya,” ucapnya lirih dalam isak syukur.
Momen berbuka puasa ini menjadi sangat sakral bagi Jumah di kediaman yang kini terasa jauh lebih hangat.
Kisah Jumah Rajak di sudut Halmahera Tengah ini mengajarkan bahwa keadilan adalah ketika seorang warga berusia 60 tahun bisa duduk tenang di teras rumahnya sendiri. Keadilan adalah saat ia bisa tidur nyenyak tanpa takut kehujanan dan bangun dengan senyum karena merasa dihargai.
Di bawah naungan atap baru ini, tangis kesedihan Jumah telah resmi berganti menjadi doa keberkahan bagi kemajuan daerah dan para pemimpin yang peduli.
Tidak ada komentar