Presiden Amerika, Donald Trump. Kredit Foto: BBC.com Viralterkini.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kekecewaannya terhadap putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kebijakan tarif global andalannya.
Pada Jumat (20/2/2026), ia secara terbuka menyatakan ketidaksenangan karena dua hakim yang ia tunjuk justru ikut menentang kebijakan tersebut.
Trump menilai keputusan itu sebagai sesuatu yang memalukan. Ia bahkan menyebut sikap Hakim Amy Coney Barrett dan Neil Gorsuch sebagai “aib bagi keluarga mereka.”
Keduanya bergabung dengan Ketua Mahkamah Agung John Roberts dan tiga hakim liberal dalam putusan dengan suara 6-3 yang menyatakan tarif tersebut melampaui kewenangan presiden.
Selain itu, Trump juga melontarkan kritik tajam kepada tiga hakim liberal, yakni Sonia Sotomayor, Elena Kagan, dan Ketanji Brown Jackson. Ia menyebut mereka sebagai “aib bagi bangsa.”
Tak berhenti di situ, Trump juga mengecam pihak penggugat—sebuah perusahaan keluarga pembuat mainan edukatif—dengan menyebut mereka sebagai “orang-orang tidak bermoral.”
Gaya bahasa keras seperti ini sejalan dengan karakter komunikasi politik Trump yang kerap disukai basis pendukungnya.
Namun, banyak pengamat menilai serangan tersebut tidak lazim karena menyasar langsung lembaga yudikatif sebagai cabang kekuasaan yang seharusnya independen.
Dekan Fakultas Hukum Universitas California Berkeley, Erwin Chemerinsky, menilai pernyataan Trump sangat tidak biasa dalam tradisi politik Amerika.
“Saya tidak bisa membayangkan ada presiden lain yang berbicara tentang Mahkamah Agung dengan cara seperti ini,” ujarnya.
Menurut Chemerinsky, sikap Trump mencerminkan ekspektasi bahwa para hakim, khususnya yang ia tunjuk, seharusnya selalu mendukung kebijakannya.
Sejarah menunjukkan Trump kerap berseberangan dengan tokoh-tokoh yang sebelumnya menjadi sekutunya. Ia pernah mengkritik keras Ketua Federal Reserve Jerome Powell, meski dirinya sendiri yang mengangkat Powell.
Selain itu, Trump juga sempat berseteru dengan politisi Partai Republik Marjorie Taylor Greene terkait sejumlah isu kontroversial.
Di sisi lain, Trump tetap memuji hakim yang mendukungnya, seperti Brett Kavanaugh, Samuel Alito, dan Clarence Thomas. Ia menyebut mereka sebagai sosok yang memiliki “kekuatan, kebijaksanaan, dan cinta pada negara.”
Trump bahkan menuding hakim yang menentang kebijakannya sebagai pihak yang terpengaruh oleh Partai Demokrat dan kepentingan asing, bukan oleh hukum.
“Mereka bertindak seperti boneka,” ujarnya. “Mereka tidak patriotik dan tidak setia pada Konstitusi.”
Mantan Gubernur North Carolina dari Partai Republik, Pat McCrory, menilai kritik terbuka terhadap Mahkamah Agung mulai menjadi tren sejak era Presiden Barack Obama.
“Dulu itu sudah dianggap perubahan besar. Sekarang, komentar Trump membuat situasinya semakin ekstrem,” katanya. Ia menilai baik Partai Republik maupun Demokrat semakin kurang menghormati lembaga peradilan.
Pakar hukum konservatif John Yoo, yang pernah bertugas di Departemen Kehakiman pada era Presiden George W Bush, mengatakan pernyataan Trump berisiko merugikan dirinya sendiri.
Dalam wawancara dengan Fox News, Yoo menilai tim hukum Trump kemungkinan merasa cemas karena masih banyak perkara besar yang akan diputus Mahkamah Agung, termasuk soal kewenangan presiden memecat pejabat independen.
Trump dijadwalkan bertemu langsung dengan para hakim Mahkamah Agung saat menyampaikan pidato kenegaraan di Kongres pada Selasa mendatang. Biasanya, para hakim hadir sebagai simbol netralitas lembaga peradilan.
Namun ketika ditanya apakah mereka tetap diundang, Trump menjawab singkat, “Hampir tidak.” Pernyataan itu semakin menegaskan hubungan yang kian renggang antara Gedung Putih dan Mahkamah Agung. (**)
Tidak ada komentar