x Pulau Seribu Asri

SMAN 3 Jakarta Deklarasi Anti-Bullying Bersama Erick Thohir

waktu baca 3 menit
Jumat, 14 Nov 2025 15:45 85 Agung

Viralterkini.id, Jakarta – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir menghadiri acara Stand Up Against Bullying di SMAN 3 Jakarta, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (14/11/2025).

Kegiatan ini merupakan program pencegahan dini tindakan perundungan di lingkungan sekolah serta bagian dari kampanye nasional pembentukan karakter pemuda.

Dalam sambutannya di hadapan ratusan siswa kelas 10 hingga 12, Menpora Erick menegaskan pentingnya budaya saling menyayangi dan menghormati antarsiswa.

Ia menekankan bahwa upaya pencegahan perundungan harus dimulai dari perubahan sikap dan pola interaksi di sekolah.

“Di keluarga saya diajarkan bahwa kakak harus sayang adik. Prinsip itu juga berlaku di sekolah. Kakak kelas harus sayang adik kelas, dan adik kelas harus respek kepada kakak kelas,” kata Erick dalam amanatnya kepada para siswa.

Erick kemudian bertanya kepada siswa mengenai pengalaman mereka terkait perundungan, baik sebagai korban maupun pelaku.

Dari respons para siswa, ia bersyukur tidak ditemukan kasus perundungan yang menonjol di SMAN 3 Jakarta.

Ia menyampaikan apresiasi atas lingkungan sekolah yang dinilai kondusif dan saling mendukung.

“Saya bangga, karena sekolah ini kondusif. Apalagi saya sendiri lulusan SMAN 3, jadi saya tahu betul dinamika di sini,” ucap Erick.

Dalam acara ini, Erick turut berbagi pengalaman pribadinya ketika masih menjadi pelajar. Ia mengisahkan pernah mengalami perundungan saat bermain bola basket dalam pertandingan internal sekolah.

Menurutnya, sebagai adik kelas, ia pernah menghadapi atmosfer pertandingan yang sangat keras.

“Waktu itu kami bertanding antara kelas satu dan kelas tiga. Rasanya bukan seperti pertandingan basket, tapi seperti tarkam. Saya sampai berdarah-berdarah,” kenangnya.

Meski mengalami tekanan, Erick mengaku tetap menyelesaikan pertandingan hingga akhir. Pada momen itu, para senior menghampirinya dan mengapresiasi keberaniannya.

Dari pengalaman tersebut, ia menegaskan bahwa tidak ada kebanggaan dalam merundung orang lain. Sebaliknya, korban perundungan harus memiliki keberanian untuk bangkit dan berbicara.

“Siapa pun yang mem-bully, jangan pernah bangga. Siapa pun yang di-bully harus berani bangkit,” tegas Erick.

Erick juga menilai program pencegahan perundungan di sekolah harus menyentuh siswa secara langsung.

Menurutnya, banyak kebijakan sekolah atau lembaga yang tidak efektif karena tidak menjangkau kebutuhan emosional remaja.

Ia menjelaskan bahwa kategori usia pemuda dalam Undang-Undang Pemuda, yaitu 16–30 tahun, perlu dipahami secara rinci karena tiap kelompok usia memiliki isu yang berbeda.

Karena itu, Erick mendorong agar pembinaan pemuda dimulai sejak usia 14 tahun. “Pemuda usia 14–19 tahun memiliki isu yang berbeda dengan usia 20–25 tahun, dan berbeda pula dengan usia 25–30 tahun. Mulai dari isu mental health hingga kepemimpinan,” ujarnya.

Erick menekankan bahwa pemetaan isu ini penting agar sekolah dapat merancang program yang tepat sasaran.

Ia mengingatkan bahwa pencegahan perundungan tidak cukup hanya dengan slogan, melainkan harus diwujudkan dalam interaksi sehari-hari.

Dengan nada tegas tetapi penuh empati, Erick kembali meminta para siswa senior menjadi teladan bagi adik-adiknya.

Ia mengingatkan bahwa dunia luar akan menghadirkan tantangan yang jauh lebih berat daripada kehidupan sekolah.

“Kepada para senior, jadilah kakak yang baik. Ketika kalian kembali ke masyarakat, tantangannya lebih berat. Siap atau tidak,” ujarnya.

Untuk para siswa yang menjadi korban perundungan, Erick meminta agar tidak menyimpan masalah sendiri.

Ia menegaskan bahwa banyak bentuk perundungan terjadi melalui media sosial maupun ucapan verbal.

Karena itu, siswa harus berani menyampaikan apa yang mereka alami kepada guru, teman, atau orang tua.

“Jangan takut. Kalian tidak sendirian,” pesannya.

Erick menutup pesannya dengan menekankan pentingnya pembangunan karakter sejak usia sekolah.

Menurutnya, pemuda Indonesia harus tumbuh menjadi generasi yang gigih, siap bersaing, dan memiliki empati.

Ia mengingatkan bahwa sikap empati kepada keluarga, lingkungan, hingga alam merupakan fondasi menjadi pribadi yang baik.

“Kita tidak mungkin menjadi orang baik kalau tidak punya empati kepada keluarga, orang tua, lingkungan, dan alam,” pungkas Erick.

Acara Stand Up Against Bullying di SMAN 3 Jakarta ini diharapkan dapat memperkuat komitmen sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

WhatsApp Image 2026-01-11 at 14.22.35

INSTAGRAM

16 hours ago
17 hours ago
19 hours ago
19 hours ago
19 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!