Ilustrasi: Viralterkini.id Viralterkini.id – Perang yang selama puluhan tahun berusaha dicegah oleh para diplomat, jenderal, dan badan intelijen akhirnya pecah pada Sabtu pagi. Gelombang pesawat tempur dan rudal Amerika Serikat serta Israel menghantam berbagai target strategis di Iran, termasuk di Kermanshah, Qom, Isfahan, Tabriz, dan Karaj.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut operasi ini sebagai kampanye militer yang “besar dan masih terus berlangsung”.
Selama hampir setengah abad, Washington dan Teheran terlibat dalam konflik bayangan berupa operasi rahasia, perang proksi, sanksi ekonomi, dan bentrokan terbatas. Namun, kedua negara selalu menghindari perang terbuka. Kini, keseimbangan rapuh itu runtuh sepenuhnya.
Operasi terbaru ini diberi nama Operation Epic Fury, dan dijalankan bersama operasi militer Israel yang disebut Operation Lion’s Roar. Nama tersebut kini sejajar dengan daftar panjang operasi militer AS sebelumnya: Ajax, Eagle Claw, Nimble Archer, Prime Chance, Praying Mantis, hingga Midnight Hammer.
Sejarah konflik AS-Iran berakar jauh sebelum Revolusi Islam 1979. Pada 1953, Operasi Ajax yang dirancang CIA Amerika dan MI6 Inggris menggulingkan Perdana Menteri Iran yang terpilih secara demokratis, Mohammed Mosaddegh, setelah ia mencoba menasionalisasi perusahaan minyak milik Inggris, Anglo-Persian Oil Company.
Dalam rangkaian operasi itu, Amerika melakukan serangan pertamanya di wilayah Iran pada Agustus 1953, ketika agen CIA membom rumah seorang tokoh Muslim di Teheran guna memicu sentimen anti-komunis.
Kudeta tersebut membuka jalan bagi kekuasaan Shah Iran yang pro-Barat. Namun, rezim ini akhirnya runtuh pada 1979 melalui Revolusi Islam yang membawa pulang Ayatollah Khomeini dari pengasingan dan melahirkan Republik Islam Iran.
Konfrontasi militer pertama Amerika terjadi tak lama setelah revolusi. Pada 1980, ketika Shah yang digulingkan diterbangkan ke AS untuk perawatan medis, mahasiswa revolusioner Iran menyerbu Kedutaan Besar AS di Teheran dan menyandera 52 warga Amerika selama 444 hari.
Presiden Jimmy Carter memerintahkan operasi penyelamatan berani yang dikenal sebagai Operation Eagle Claw. Namun misi tersebut gagal total akibat perencanaan yang buruk dan tabrakan dua pesawat AS di gurun Iran tengah, menewaskan delapan personel militer Amerika.
Pengganti Carter, Presiden Ronald Reagan, menetapkan Iran sebagai negara sponsor terorisme setelah serangan bom terhadap pangkalan AS di Beirut pada 1983 oleh kelompok Hizbullah yang didukung Teheran. Serangan itu menewaskan 241 tentara Amerika.
Pada akhir 1980-an, AS dan Iran beberapa kali terlibat bentrokan langsung di Teluk Persia dalam rangka Operation Earnest Will, ketika Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker selama perang Iran-Irak.
Dalam operasi rahasia paralel bernama Prime Chance, pasukan khusus AS menyerang kapal-kapal Iran yang menanam ranjau laut. Sementara itu, Operation Nimble Archer pada 1987 menghancurkan platform minyak Iran.
Setahun kemudian, Operation Praying Mantis (1988) menenggelamkan dua kapal perang Iran dan tiga kapal cepat, menewaskan 56 orang, sebagai balasan atas ranjau yang merusak fregat AS.
Tragedi besar juga terjadi pada 1988 ketika kapal perang AS USS Vincennes menembak jatuh pesawat sipil Iran Air Airbus A300 yang sedang terbang menuju Dubai. Seluruh 290 penumpang, termasuk 65 anak-anak, tewas.
Selama 47 tahun terakhir, senjata utama Amerika terhadap Iran bukan hanya militer, tetapi juga sanksi ekonomi. Sanksi pertama diberlakukan pada November 1979, setelah krisis sandera. Hubungan diplomatik kedua negara resmi diputus pada 1980.
Pada 1995, di masa Presiden Bill Clinton, sanksi diperluas dengan fokus pada program nuklir Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok proksi seperti Hamas dan Hizbullah. Tekanan semakin ditingkatkan pada masa Presiden Barack Obama antara 2010–2013.
Namun pada 2015, pemerintahan Obama menandatangani kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang melonggarkan sanksi sebagai imbalan pembatasan program nuklir Iran.
Kesepakatan itu runtuh pada Mei 2018 ketika Trump, dalam masa jabatan pertamanya, menarik Amerika keluar dari JCPOA dan kembali memberlakukan sanksi keras.
Pada 2019, pemerintahan Trump menetapkan Pasukan Quds Iran sebagai organisasi teroris. Setahun kemudian, Amerika membunuh komandan pasukan tersebut, Qassem Soleimani, dalam serangan drone di Bandara Baghdad.
Trump kembali menjabat pada Januari 2025. Upaya diplomasi pun dibuka kembali melalui perundingan nuklir yang dimediasi Oman pada April 2025. Putaran pertama tidak menghasilkan kesepakatan.
Pada 13 Juni, dua hari sebelum perundingan dilanjutkan, Israel melancarkan serangan mendadak ke fasilitas nuklir Iran. Konflik itu dikenal sebagai Perang Dua Belas Hari.
Pada 21 Juni, Amerika bergabung secara langsung melalui Operation Midnight Hammer, mengebom fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan dengan pesawat pengebom jarak jauh.
Perundingan tidak langsung kembali berlangsung di Muscat, Oman, pada 6 Februari tahun ini, lalu berlanjut di Jenewa. Kedua pihak sempat menyatakan optimisme.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut pembicaraan itu membuat “kemajuan sangat baik” dalam isu nuklir dan sanksi. Pejabat AS juga menggambarkan dialog tersebut sebagai “positif” dan merencanakan putaran lanjutan.
Namun di balik meja diplomasi, Amerika diam-diam mengerahkan armada perang terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak 2003.
Pada Jumat, Trump mengaku tidak puas dengan hasil perundingan, meski masih memberi isyarat dialog akan berlanjut. “Kita lihat saja nanti,” katanya. “Kami masih berbicara.”
Tetapi percakapan itu berhenti sepenuhnya keesokan harinya.
Pada Sabtu pagi, dunia terbangun dengan kabar bahwa pukul 09.30 waktu Teheran, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran dalam Operation Epic Fury. Gelombang rudal dan pesawat tempur menghantam target militer, nuklir, dan infrastruktur strategis di berbagai kota besar Iran.
Serangan ini menandai berakhirnya puluhan tahun konflik terselubung dan membuka babak baru: perang terbuka antara Amerika Serikat, Israel, dan Republik Islam Iran—sebuah konflik yang dikhawatirkan akan mengguncang stabilitas Timur Tengah dan tatanan global. (**)
Tidak ada komentar