x Pulau Seribu Asri

Rusia Bongkar ‘Topeng Damai’ AS, Sebut Trump Presiden Munafik

waktu baca 3 menit
Sabtu, 28 Feb 2026 23:22 18 Arthur

Viralterkini.id – Ketegangan geopolitik dunia kembali melonjak tajam setelah Rusia melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat atas serangan militernya ke Iran. Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menuduh Washington menggunakan diplomasi nuklir sebagai kamuflase untuk melancarkan agresi bersenjata terhadap Teheran.

Medvedev menyebut operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel pada Sabtu (28/2/2026) sebagai bukti bahwa Gedung Putih tidak pernah serius mencari jalan damai dalam perundingan nuklir Iran. Ia menilai serangan tersebut membuka kemunafikan dan wajah asli kebijakan luar negeri Presiden Trump.

Melalui akun Telegram resminya, Medvedev menulis bahwa pihak yang selama ini mengklaim sebagai “pembawa perdamaian” justru menunjukkan sikap sebaliknya di medan konflik. Ia juga menegaskan bahwa seluruh proses negosiasi nuklir dengan Iran hanyalah sandiwara politik.

Menurut Medvedev, tidak ada niat nyata dari Amerika Serikat untuk mencapai kesepakatan. Ia menilai tujuan utama Washington sejak awal adalah menekan Iran hingga titik terlemah, lalu menghantamnya dengan kekuatan militer.

Trump Dinilai Lanjutkan Politik Tekanan Maksimum

Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan serangan ke Iran dipandang sebagai kelanjutan dari kebijakan “tekanan maksimum” yang kembali ia hidupkan pada periode keduanya menjabat.

Trump beranggapan bahwa pendekatan diplomasi pemerintahan sebelumnya terlalu lunak. Ia menilai kebijakan itu justru memberi ruang bagi Iran untuk memperkuat jaringan proksi di Timur Tengah serta mempercepat program pengayaan uranium di fasilitas bawah tanah mereka.

Gedung Putih menyatakan operasi militer ini bertujuan mencegah Iran memperoleh senjata nuklir sekaligus mengamankan jalur perdagangan minyak strategis di Selat Hormuz. Washington menegaskan bahwa langkah tersebut bersifat preventif demi menjaga stabilitas kawasan.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa masa perdebatan telah berakhir. Ia menuding Iran mengabaikan setiap peluang perdamaian dan mengancam keamanan global. Pemerintah AS, menurutnya, tidak akan membiarkan rezim yang dianggap berbahaya memiliki senjata paling mematikan di dunia.

Iran Luncurkan Serangan Balasan di Timur Tengah

Tak lama setelah serangan udara AS dan Israel menghantam Teheran, Pasukan Garda Revolusi Islam Iran melancarkan aksi balasan besar-besaran. Target utama mereka adalah aset militer Amerika Serikat dan sekutunya di berbagai negara Timur Tengah.

Di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, ledakan keras terdengar di wilayah pinggiran ibu kota. Otoritas setempat langsung menutup sebagian wilayah udara sebagai langkah darurat untuk mencegah risiko keamanan.

Situasi genting juga terjadi di Manama, Bahrain. Pangkalan Armada Kelima Amerika Serikat menjadi sasaran utama serangan rudal Iran. Sirene peringatan meraung di seluruh kota, memaksa warga berlindung di tempat aman sementara sistem pertahanan udara diaktifkan.

Pemerintah Kuwait mengonfirmasi telah mengoperasikan sistem pertahanan udara setelah mendeteksi sejumlah proyektil menuju wilayahnya. Negara tersebut menutup total ruang udara untuk penerbangan sipil demi menghindari potensi insiden di tengah baku tembak.

Di Qatar, Pangkalan Udara Al-Udeid yang menampung ribuan personel militer AS juga masuk dalam jangkauan serangan. Sistem pertahanan Patriot berhasil mencegat setidaknya satu rudal yang mengarah ke wilayah Doha, meski ketegangan tetap tinggi.

Eskalasi konflik turut merembet ke Irak. Sejumlah fasilitas yang menampung pasukan koalisi internasional dilaporkan menjadi sasaran tembakan, memperluas risiko perang regional berskala besar.

Dunia Waspada Eskalasi Perang Terbuka

Pernyataan keras Rusia dan serangan balasan Iran memperlihatkan bahwa konflik ini telah melampaui ketegangan diplomatik biasa. Situasi tersebut memicu kekhawatiran komunitas internasional akan pecahnya perang terbuka di kawasan Timur Tengah.

Pengamat menilai kritik Medvedev terhadap Trump mencerminkan meningkatnya rivalitas antara Rusia dan Amerika Serikat dalam isu Iran. Ketegangan ini berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global, terutama pada sektor energi dan jalur perdagangan internasional.

Dengan saling serang yang terus berlanjut, dunia kini menunggu langkah berikutnya dari para aktor besar. Risiko konflik berkepanjangan semakin nyata, sementara upaya diplomasi kian terdesak oleh dentuman rudal dan tekanan politik. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INSTAGRAM

12 hours ago
13 hours ago
13 hours ago
18 hours ago
18 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri