004404100_1754151634-f650c8d3-260c-4b43-a633-c48e38692937 Viralterkini.id, Jakarta – Pelatih PSBS Biak, Divaldo Alves, mengungkapkan kondisi memprihatinkan yang tengah dihadapi dirinya dan sejumlah pemain terkait hak pembayaran gaji dari manajemen klub.
Pelatih asal Portugal itu menyampaikan bahwa ia sudah hampir 2,5 bulan tidak menerima gaji, sementara beberapa pemain baru mendapatkan pembayaran sebagian.
Situasi ini diungkapkan Divaldo dalam konferensi pers seusai laga PSBS Biak melawan Persijap Jepara pada pekan ke-14 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Kamis (27/11/2025) malam WIB.
Dalam pertandingan tersebut, PSBS berhasil meraih kemenangan 3-2, namun kondisi internal klub ternyata jauh dari stabil.
Dalam keterangannya, Divaldo tidak menutupi bahwa masalah finansial yang melanda klub berdampak signifikan terhadap kondisi psikologis para pemain.
Menurutnya, inkonsistensi performa PSBS dalam beberapa laga sebelumnya tidak lepas dari gangguan mental akibat masalah-masalah yang terjadi di belakang layar.
“Dari beberapa laga sebelumnya pemain tidak stabil mental karena ada hal-hal yang terjadi di belakang, dan itu pasti mengganggu gaya permainan. Ada beberapa situasi gaji yang perlu diselesaikan. Saya sendiri hampir 2,5 bulan belum gajian,” ujar Divaldo.
Selain dirinya, kata Divaldo, sejumlah pemain juga tidak menerima gaji secara penuh dan hanya dibayarkan 30 hingga 50 persen.
Meski demikian, pelatih berusia 47 tahun ini menegaskan bahwa ia dan skuat tetap menaruh kepercayaan penuh kepada manajemen untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
“Ada beberapa pemain yang baru mendapatkan 30 persen, 50 persen. Tapi kami tetap percaya kepada manajemen bahwa mereka akan menyelesaikan masalah ini secepatnya,” sambung mantan pelatih Persik Kediri itu.
Permasalahan finansial di internal PSBS bukan kali ini saja muncul. Sejak musim lalu, klub berjuluk Badai Pasifik itu telah bergulat dengan penunggakan gaji dan isu keretakan hubungan di internal manajemen.
Hingga musim ini memasuki paruh pertama, problem tersebut belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian yang jelas.
Situasi itu bahkan turut menyeret PSBS ke dalam konsekuensi serius, yaitu hukuman larangan transfer dari FIFA.
Menurut data dari laman resmi FIFA, PSBS saat ini menerima larangan registrasi pemain untuk tiga periode bursa transfer ke depan.
Dalam daftar pembaruan per 20 Oktober 2025 dan 6 November 2025, nama PSBS muncul dua kali sebagai klub yang dikenai registration bans.
Larangan semacam ini biasanya diberikan karena pelanggaran terkait proses transfer, termasuk kewajiban pembayaran kepada pemain atau pihak ketiga yang jatuh tempo, serta pemutusan kontrak tanpa alasan yang sah.
Divaldo mengatakan pihak manajemen menyampaikan bahwa sejumlah persoalan tersebut merupakan warisan dari manajemen lama dan sedang dalam proses penyelesaian.
“Dari manajemen ada informasi bahwa manajemen lama akan menyelesaikan masalah itu, karena beberapa situasi transfer ban juga berasal dari manajemen lama,” ungkapnya.
Pelatih berlisensi UEFA itu menyebut bahwa kondisi larangan transfer menjadi sebuah hambatan besar bagi dirinya dalam menjalankan tugas sebagai pelatih kepala.
Tanpa kebebasan melakukan perekrutan, pelatih kehilangan opsi untuk memperbaiki komposisi tim, mendatangkan pemain baru, atau melepas pemain yang tidak sesuai kebutuhan taktik.
“Itu mimpi buruk dari semua pelatih dunia. Semua pelatih pasti berpikir bisa memperbaiki tim melalui transfer atau menjual pemain. Kalau itu tidak ada, sangat sulit. Itu tentu mengganggu,” katanya.
Meski berada dalam kondisi sulit, Divaldo tetap menegaskan komitmennya untuk memaksimalkan potensi skuat yang ada. Ia menilai sejumlah aspek mental dan operasional di tim harus segera dibenahi.
“Yang saya tahu, sebagai pelatih kepala sekarang, situasinya sangat sulit. Tapi saya percaya dengan pemain yang ada. Memang ada beberapa hal yang perlu kita perbaiki, terutama kondisi mental di dalam grup. Harus ada perubahan dari manajemen,” tegasnya.
Dengan tiga poin tambahan setelah kemenangan atas Persijap Jepara, PSBS sejatinya memiliki kesempatan memperbaiki posisi di klasemen sementara.
Namun, berbagai persoalan internal itu menjadi ancaman yang dapat merusak stabilitas klub jika tidak segera ditangani secara profesional.
Para pemain disebut tetap berlatih dan bertanding dengan komitmen penuh, tetapi keberlanjutan performa tim sangat bergantung pada penyelesaian hak-hak finansial mereka.
Kisruh manajemen PSBS kini menjadi sorotan publik sepak bola nasional, terlebih karena melibatkan sanksi resmi dari FIFA.
Para pendukung PSBS berharap manajemen bergerak cepat untuk menyelesaikan kewajiban kepada pelatih dan pemain, serta memastikan klub dapat kembali aktif pada bursa transfer di periode berikutnya.
Tanpa penyelesaian menyeluruh, PSBS terancam menghadapi tantangan lebih besar di sisa kompetisi.
Tidak ada komentar