x Pulau Seribu Asri

Nilai Tukar Rupiah Merosot Menjadi Tanda Bahaya bagi Perekonomian Indonesia, Kenapa?

waktu baca 4 menit
Minggu, 1 Jun 2025 06:57 258 M Ary K

Viralterkini.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah baru-baru ini diperdagangkan pada rekor terendah terhadap dolar Amerika Serikat, mengingatkan kita pada krisis keuangan Asia tahun 1997-98.

Dikutip dari Al Jazeera, sementara rupiah telah terpukul oleh ketidakpastian pasar yang berasal dari tarif besar-besaran Presiden AS Donald Trump, kemerosotan mata uang tersebut dimulai beberapa minggu sebelum pengumuman “Hari Pembebasan” pada awal April lalu.

Sejak pelantikan Presiden Indonesia Prabowo Subianto pada bulan Oktober, nilai tukar rupiah telah merosot sekitar 8 persen terhadap dolar di tengah kekhawatiran mengenai kepemimpinannya pada nrgara berpenduduk terpadat di Asia Tenggara itu.

Anjloknya nilai tukar rupiah mencerminkan jatuhnya mata uang pada tahun 1998, yang menyebabkan krisis keuangan yang turut mengakhiri tiga dekade pemerintahan Presiden Soeharto.

“Apa yang terjadi di Indonesia sekarang mencerminkan betapa yakinnya investor dan pasar global terhadap keputusan ekonomi kepemimpinan saat ini,” kata Achmad Sukarsono, seorang analis di firma konsultan Control Risks di Singapura.

Kapan kemerosotan itu dimulai?
Nilai tukar rupiah terus merosot sejak sebelum Prabowo menjabat, mencapai titik terendah sepanjang masa di angka 16.850.

Meskipun rupiah telah mengalami pasang surut selama 28 tahun terakhir – termasuk selama pandemi COVID-19 – penurunannya di bawah ambang batas 1998 secara psikologis penting bagi masyarakat Indonesia karena peran mata uang tersebut dalam penggulingan Soeharto, menurut Hal Hill, seorang profesor emeritus ekonomi Asia Tenggara di Universitas Nasional Australia (ANU).

“Masih ada ingatan bahwa jika nilai tukar rupiah Indonesia merosot cukup dalam, orang-orang akan mulai gelisah dan berpikir hal itu akan terulang kembali seperti krisis sebelumnya,” tutur Hill.

Apa yang menjadi pendorong penurunan tersebut?

Mata uang terdepresiasi karena beberapa alasan, termasuk ketidakpastian politik, inflasi, ketidakseimbangan perdagangan dengan negara lain, dan spekulasi oleh investor.

Dalam kasus Indonesia, kebijakan Prabowo – termasuk program makan siang gratis senilai 30 miliar dolar AS, rencana untuk melemahkan independensi bank sentral, dan pembatasan terhadap perusahaan asing seperti Apple – telah mengguncang kepercayaan investor terhadap perekonomian.

“Ini semua tentang meningkatnya ketidakpastian” dan “penurunan signifikan dalam kepercayaan pasar”, Arianto Patunru, seorang ekonom dan peneliti di ANU Indonesia Project.

Bulan lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yang secara luas diakui atas perannya dalam mengarahkan Indonesia melewati krisis keuangan global 2007-09, terpaksa menghilangkan rumor bahwa ia berencana mengundurkan diri di tengah gejolak di pasar keuangan dan mata uang.

Di samping tantangan dalam negerinya, Indonesia, seperti banyak negara berkembang lainnya, pada saat yang sama tengah bergulat dengan pukulan ganda berupa perlambatan ekonomi Tiongkok dan dampak perang dagang Trump yang meningkat.

Dalam pengumuman “Hari Pembebasan” pada hari Rabu, Trump mengumumkan tarif sebesar 32 persen terhadap impor dari Indonesia.

Bagaimana perekonomian Indonesia secara keseluruhan?

Indonesia, negara berpenghasilan menengah dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita sebesar 4.960 dolar AS pada tahun 2024, telah menyaksikan pertumbuhan ekonomi yang solid dalam beberapa tahun terakhir.

PDB naik lebih dari 5 persen tahun lalu, setelah ekspansi serupa pada tahun 2023 dan 2023.

Tetapi angka-angka utama tersebut tidak menggambarkan kemerosotan nyata dalam taraf hidup sebagian besar penduduk Indonesia.

Jumlah orang Indonesia yang diklasifikasikan sebagai kelas menengah oleh Badan Pusat Statistik Jakarta – yang didefinisikan sebagai mereka yang pengeluaran bulanan antara 2 juta rupiah dan 9,9 juta rupiah – turun dari 57,3 juta pada tahun 2019 menjadi 47,8 juta tahun lalu , penurunan ini disebabkan oleh faktor-faktor termasuk inflasi yang lebih tinggi dan efek COVID-19 yang masih ada.

Pada bulan Maret, mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri menggambarkan kelas menengah negara ini sebagai “populasi yang tertekan secara ekonomi” dengan daya beli yang melemah dan tabungan yang terbatas.

“Indonesia sedang berada dalam periode yang paling menantang dan sulit sejak krisis keuangan Asia 1997-98 dan ada alasan domestik dan internasional untuk itu,” kata Hill dari ANU.

“Alasan domestik adalah presiden baru. Komunitas bisnis masih berusaha mencari tahu ke mana ia ingin melangkah dan mengelola situasi fiskal, dan itu dikombinasikan dengan lingkungan eksternal.”

Sukarsono dari Control Risks mengatakan tantangan ekonomi negara ini memunculkan pertanyaan tentang prioritas Prabowo.

“Ketika pemerintah seharusnya lebih fokus pada faktor-faktor yang menyebabkan menyusutnya kelas menengah saat ini, pemerintah justru lebih sibuk dengan program-program yang tidak mengatasi penurunan daya beli dan gelombang PHK di tengah memburuknya kondisi sektor manufaktur padat karya,” kata Sukarsono. (bc)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

WhatsApp Image 2026-01-11 at 14.22.35

INSTAGRAM

13 hours ago
14 hours ago
16 hours ago
16 hours ago
16 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!