Meresapi Intuisi Pribadi Menuju Pemilihan Presiden Terbaik Tahun 2024
Opini : Direktur Executive Trust Indonesia, Azhari Ardinal
Pemilihan presiden 2024 di Indonesia semakin memanas setelah debat kandidat pamungkas dan kampanye akbar 10 Februari sabtu ini. Banyak pihak berharap bisa menjadi penentu bagi para pemilih kritis dan undecided voters. Bagi pemilih kritis seperti mahasiswa dikampus, semua kandidat tidak ada yang sempurna. Debat kandidat sudah terlewati sebagai sarana bagi ketiga capres dalam menjawab isu-isu krusial bangsa ini secara ilmiah, walaupun sebagian dari audiense debat masih berekspresi dengan sentimen negatif. Dalam atmosfer politik yang kompetitif, kampanye akbar menjadi kesempatan terakhir bagi para kandidat untuk menguasai atmosfer pilihan politik pemilih. Sebuah parade akhir menjelang pencoblosan pilpres di 14 Februari mendatang untuk sebuah perhelatan sangat penting memilih pemimpin bangsa.
Pentingnya seorang pemimpin, terutama dalam konteks kepemimpinan negara, memiliki tanggung jawab utama dalam membuat keputusan strategis yang dapat membimbing arah pembangunan dan memastikan kesejahteraan serta kemajuan masyarakat. Dalam rangka membawa aspirasi dan kebutuhan masyarakat untuk sejahtera. Pertarungan politik dalam negeri saat ini tidak terlepas dari dinamika geopolitik kawasan berdasarkan manuver presiden terpilih Joko Widodo 2019 yang lalu. Proses rekonsiliasi Prabowo dan Jokowi diawal pembentukan kabinet menandai mekanisme transformasi konflik menjadi lebih dalam. Mengingat ketiga pengendali kekuasaan saat ini baik Jokowi, Megawati dan Prabowo sangat menjiwai nilai pertarungan politik Jawa yang sangat dramatis. Sehingga wajar jika gerakan politik dilingkar kekuasaan istana bergerak secara eksponensial diluar dugaan, sebuah pelajaran untuk tidak mengatakan semuanya adalah fenomena kebetulan.
Namun lanskap kepemimpinan nasional tetaplah harus bersandar pada kualitas dan karakter yang tidak saja menginspirasi dan meyakinkan. Tapi mengerti bagaimana memimpin dan mengorkestrasi pengelolaan sumber daya manusia dan alam yang melimpah di Indonesia. Pengaruh seorang pemimpin bukan hanya menjadi pemanis sebelum masa kepemimpinannya, tetapi juga menjadi faktor penentu dalam efektivitas pemanfaatan sumber daya secara holistik dan berkelanjutan. Selayaknya seorang presiden Jokowi yang membangun ikatan karakter kerakyatan yang sangat kuat dengan basis wong ciliknya nasionalis yang selama ini diperjuangkan oleh PDIP. Atau seorang gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan yang bergema melalui gagasan serta kebijakan, dan membentuk gerakan (active citizen movement) sosial ditengah mereka. Kekuatan ikatan karakter itulah yang sebenarnya efektif dalam menata panggung bagi mobilisasi kekuatan politik di Indonesia.
Luasnya kepulauan Indonesia yang kaya akan sumber daya yang beragam, mulai dari tanah pertanian yang luas hingga kekayaan mineral yang melimpah memerlukan seorang pemimpin dengan karakter ini. Dia akan memimpin hubungan diplomatik global, kebijakan ekonomi kerakyatan, dan inisiatif sosial berkeadilan. Pengaruh adalah tulang punggung kepemimpinan; tanpanya, bahkan rencana yang paling berniat baik tetap stagnan. Pengaruh kepemimpinan bukanlah sifat bawaan, karena dia dibangun melalui koneksi yang tulus, tindakan yang konsisten, dan komitmen untuk kebaikan bersama. Pemimpin harus terlibat secara aktif dengan berbagai pemangku kepentingan, mendengarkan masukan masyarakat, dan membangun kepercayaan melalui pengambilan keputusan yang transparan dan etis.
Saat Indonesia melihat ke masa depan, peran kepemimpinan yang berpengaruh tidak dapat diabaikan. Sumber daya negara yang beragam dan melimpah memerlukan seorang pemimpin dengan karisma dan kapabilitas untuk mengelolanya demi kemakmuran bersama. Saatnya menetapkan hati untuk memilih calon presiden dengan nilai dan prinsip nilai pribadi anda. Caranya analisis kinerjanya, pertimbangkan isu-isu krusial yang melekat padanya, serta mengevaluasi rekam jejak selama ini. Perhatikan pidatonya pada Sabtu, 10 Februari ini untuk meresapi intuisi pribadi Anda dalam perspektif yang holistik. Lakukan secara independen untuk menghargai dirimu ditengah semua pengaruh opini publik atau tekanan partai politik. Inilah hak dasar kita sebagai pemilih yang masih punya hati untuk meyakini dan siap untuk bertanggung jawab atas pilihan dalam menentukan arah negara ke depan. (sat)
Tidak ada komentar