x Pulau Seribu Asri

Marak Gen Z Pilih Tinggal di Kota Sepi demi Hidup Lebih Tenang

waktu baca 4 menit
Kamis, 5 Mar 2026 20:30 8 Arthur

Viralterkini.id – Fenomena unik muncul di China dalam beberapa tahun terakhir. Banyak anak muda dari Generasi Z mulai meninggalkan kota-kota besar dan memilih menetap di kota sepi yang jauh dari hiruk-pikuk metropolitan.

Pilihan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Harga sewa hunian di kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Guangzhouterus melonjak sehingga sulit dijangkau oleh banyak pekerja muda. Sebaliknya, kota-kota yang sepi penduduk menawarkan apartemen dengan harga jauh lebih murah.

Salah satu contoh datang dari Sasa Chen, seorang perempuan muda yang sebelumnya bekerja di sektor keuangan di Shanghai. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan biaya hidup mahal membuatnya mengalami kelelahan mental.

Chen akhirnya memutuskan meninggalkan pekerjaannya dan pindah ke daerah yang jauh dari pusat kota. Ia kini tinggal di sebuah apartemen kosong di kawasan tiruan “Venesia-nya China” yang terletak di Provinsi Jiangsu, wilayah timur negara itu.

Untuk hunian tersebut, Chen hanya membayar sekitar 1.200 yuan atau sekitar Rp2,9 juta per bulan. Jumlah itu jauh lebih rendah dibandingkan harga sewa apartemen di Shanghai yang rata-rata mencapai sekitar 3.000 yuan atau lebih dari Rp7 juta setiap bulan.

Apartemen dengan fasilitas lebih nyaman bahkan dapat mencapai 8.000 yuan atau sekitar Rp19 juta per bulan.

Meski meninggalkan kehidupan kota besar yang penuh hiburan, Chen mengaku menikmati kehidupannya yang baru. Lingkungan yang lebih tenang, udara bersih, serta pemandangan laut membuatnya merasa lebih bahagia.

“Saya sekarang memiliki banyak waktu luang dan kebebasan untuk menjalani hidup sesuai keinginan saya,” ujar Chen dalam wawancara yang dikutip dari AP News.

Anak Muda Mulai Mengubah Cara Pandang

Para pengamat melihat Chen sebagai bagian dari tren baru di kalangan anak muda China. Banyak dari mereka mulai mempertimbangkan tinggal di kota kecil atau daerah yang hampir kosong demi mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.

Pilihan tersebut berbeda dengan generasi sebelumnya yang berlomba pindah ke kota besar demi karier dan status sosial. Anak muda saat ini justru lebih menekankan keseimbangan hidup dan kesehatan mental.

Sebelum meninggalkan pekerjaannya, Chen memperoleh penghasilan hingga sekitar 100 ribu dolar AS atau sekitar Rp1,6 miliar per tahun. Namun ia tetap memilih keluar dari pekerjaannya dan memulai kehidupan yang lebih sederhana.

Kini ia menjalani rutinitas yang jauh lebih santai. Chen biasanya bangun sekitar pukul 10 pagi, lalu menghabiskan waktu dengan memasak, berjalan santai, atau menikmati hari tanpa tekanan pekerjaan.

“Saya tidak pernah percaya bahwa bekerja menjadi makna utama hidup,” katanya.

Kota Hantu Mulai Dilirik Generasi Muda

Kawasan tempat tinggal Chen dikenal sebagai “Life in Venice”, sebuah kota satelit bergaya Venesia di Italia yang semula dibangun sebagai kawasan hunian sekaligus destinasi wisata. Namun proyek tersebut mengalami penurunan aktivitas setelah pasar properti China melemah pasca pandemi COVID-19.

Banyak apartemen di kawasan itu akhirnya kosong dan menawarkan harga sewa yang sangat rendah. Kondisi tersebut menarik perhatian anak muda yang ingin menekan biaya hidup.

Chen bahkan berhasil menabung hingga sekitar 290 ribu dolar AS atau sekitar Rp4,8 miliar sebelum memutuskan pindah ke kawasan tersebut. Dengan biaya hidup yang rendah, ia memperkirakan dapat tinggal di sana dalam jangka waktu sangat lama.

Direktur Institut Max Planck untuk Antropologi Sosial di Jerman, Xiang Biao, menilai tren tersebut bisa semakin meluas.

“Semakin banyak orang meninggalkan pekerjaan dengan jalur karier yang sebenarnya jelas,” ujarnya.

Fenomena kota sepi juga terlihat di Hegang, sebuah kota di Provinsi Heilongjiang yang dahulu berkembang sebagai pusat tambang batu bara. Ketika cadangan batu bara menipis dan aktivitas tambang menurun, banyak penduduk pindah ke kota besar.

Kini jumlah hunian kosong di kota itu bahkan melampaui jumlah penduduk yang tersisa.

Situasi tersebut dimanfaatkan agen properti untuk menawarkan rumah dan apartemen dengan harga sangat murah, bahkan lebih rendah dari harga sebuah mobil. Para agen juga aktif mempromosikan properti tersebut melalui media sosial.

Menariknya, tidak hanya warga lokal yang tertarik membeli hunian di sana. Beberapa warga asing juga mulai melirik properti murah di kota tersebut.

Profesor keuangan dari University of Hong Kong, Chen Zhiwu, menilai tren ini muncul akibat tingginya biaya hidup di kota besar serta semakin terbatasnya peluang kerja.

Menurutnya, generasi muda kini menghadapi realitas ekonomi yang tidak pasti sehingga mulai memikirkan cara hidup yang lebih sederhana dan berkelanjutan.

INSTAGRAM

8 hours ago
8 hours ago
8 hours ago
8 hours ago
8 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!