x Pulau Seribu Asri

Kasus Timothy Ronald Membuka Fakta: Investor Kripto Masih Terjebak Mimpi Cepat Kaya

waktu baca 3 menit
Sabtu, 17 Jan 2026 04:21 112 Arthur

Viralterkini.id – Ledakan jumlah investor kripto di Indonesia tidak otomatis diikuti kedewasaan dalam berinvestasi. Di tengah euforia aset digital, banyak investor masih masuk pasar tanpa perhitungan risiko dan ekspektasi yang realistis.

Hingga kini, jumlah investor kripto di Indonesia telah menembus sekitar 20 juta orang. Angka ini hampir setara, bahkan pada periode tertentu melampaui, jumlah investor saham di pasar modal. Namun, pertumbuhan tersebut terus memicu perdebatan soal tingkat literasi investasi masyarakat.

Pendiri sekaligus CEO Triv, Gabriel Rey, menilai persoalan utama ekosistem kripto nasional bukan terletak pada minimnya pengetahuan dasar. Menurutnya, masalah justru muncul dari lemahnya manajemen risiko dan pola pikir ingin cepat kaya.

“Dengan jumlah investor kripto yang sudah menyentuh 20 juta orang, literasi sebenarnya sudah cukup tinggi. Yang masih kurang itu manajemen risikonya,” ujar Gabriel saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2026).

Risiko Diabaikan, Keputusan Jadi Emosional

Gabriel menjelaskan, banyak investor enggan mengatur risk to reward ratio. Padahal, rasio tersebut menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan portofolio investasi.

Ia melihat banyak investor masuk ke pasar kripto dengan harapan keuntungan besar tanpa kalkulasi risiko yang memadai. Akibatnya, investor sering mengambil keputusan secara emosional, terutama saat pasar bergejolak.

“Banyak orang tidak mau mengatur risk to reward ratio. Padahal ini sangat penting dalam dunia investasi,” tegasnya.

Investor Muda Rentan Terjebak Narasi Instan

Mayoritas investor kripto di Indonesia berasal dari kalangan Generasi Z. Gabriel mengakui generasi ini cepat beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga rentan tergoda narasi keuntungan instan.

Menurutnya, investor muda perlu memperkuat disiplin manajemen risiko dan mengubah pola pikir cepat kaya.

“Yang harus diperbaiki itu mindset ingin cepat kaya dan manajemen risikonya. Karena kebanyakan investor kripto adalah Gen Z,” jelas Gabriel.

Edukasi Jadi Kunci Lawan FOMO

Gabriel menilai industri kripto telah lama mendorong edukasi publik. Ia mencontohkan Triv yang tidak hanya berperan sebagai platform perdagangan aset kripto, tetapi juga mengembangkan kanal edukasi.

Salah satu inisiatif tersebut adalah Crypto Wave Media, media edukasi kripto yang menyajikan konten gratis dan terbuka untuk masyarakat.

Menanggapi anggapan bahwa investasi kripto di Indonesia lebih banyak didorong fenomena fear of missing out (FOMO), Gabriel menyatakan tidak sepenuhnya sepakat.

“Kalau dibilang literasi rendah, saya kurang setuju. Indonesia termasuk negara dengan pengguna kripto terbesar di Asia Tenggara. Artinya awareness sudah tinggi,” ujarnya.

Meski begitu, ia mengakui tingginya kesadaran belum selalu sejalan dengan kedewasaan mengambil keputusan investasi.

Kripto Bukan Jalan Pintas

Gabriel menegaskan kripto bukan solusi instan untuk meraih kekayaan. Tanpa strategi dan kesabaran, investor justru berisiko mengalami kerugian besar.

Ia juga mengkritik persepsi keliru yang muncul akibat gaya hidup mewah di media sosial. Menurutnya, kesuksesan di pasar kripto lahir dari proses panjang dan pengalaman bertahun-tahun.

“Saya sudah 12 tahun di market. Tidak ada cerita beli Bitcoin hari ini, bulan depan langsung beli mobil sport. Itu mindset yang salah,” ujarnya.

Kasus Timothy Ronald Jadi Pengingat

Pernyataan Gabriel menguat seiring mencuatnya kasus dugaan penipuan investasi kripto yang melibatkan nama Timothy Ronald. Kasus ini memicu diskusi publik tentang kepercayaan terhadap figur edukasi keuangan digital.

Timothy Ronald dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penipuan investasi trading aset kripto. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Bhudi Hermanto, membenarkan adanya laporan tersebut.

“Saat ini terlapor masih dalam proses penyelidikan,” ujar Bhudi saat dikonfirmasi, Minggu (11/1/2026).

Kasus ini mencuat setelah akun Instagram @skyholic888 mengunggah informasi bahwa sejumlah anggota Akademi Crypto melaporkan Timothy Ronald dan rekannya, Kalimasada. Akademi Crypto merupakan komunitas yang mereka dirikan bersama.

Dalam unggahan tersebut, pelapor mengklaim kerugian dialami sekitar 3.500 orang dengan estimasi nilai mencapai lebih dari Rp 200 miliar. Hingga kini, aparat penegak hukum masih mendalami klaim tersebut.

Kasus ini kembali menegaskan satu hal: kripto bukan jalan pintas menuju kekayaan, melainkan instrumen berisiko tinggi yang menuntut disiplin, literasi, dan kesabaran. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

WhatsApp Image 2026-01-11 at 14.22.35

INSTAGRAM

11 hours ago
12 hours ago
13 hours ago
13 hours ago
13 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!