x Pulau Seribu Asri

Karst Raksasa Sulawesi Tenggara Dibidik Jadi Taman Nasional dan Warisan Dunia

waktu baca 3 menit
Senin, 12 Jan 2026 12:19 80 Arthur

Viralterkini.id, Sultra – Di tenggara Pulau Sulawesi, kawasan karst Sulawesi Tenggara membentang seluas hampir 6.000 kilometer persegi dan membentuk benteng mineral raksasa dengan nilai ekologis dan geologis luar biasa. Kawasan ini mencakup empat massa batuan utama, yakni Matarombeo, Tangkelemboke, Sombori, dan Pegunungan Mekongga, yang selama ribuan tahun menjaga keseimbangan alam dan peradaban manusia di Wallacea.

Pada Senin, 5 Januari 2026, di Kendari, para ilmuwan, akademisi, dan pemangku kepentingan mendorong kawasan tersebut untuk berstatus Taman Nasional sekaligus memperoleh pengakuan internasional sebagai Cagar Biosfer dan UNESCO Global Geopark. Dorongan itu mengemuka dalam agenda “Konferensi Wallacea Expeditions” sebagai upaya menyelamatkan kekayaan alam dan sejarah yang bernilai tak tergantikan.

Kolaborasi Ilmiah Dorong Perlindungan Kawasan Wallacea

Para ilmuwan lokal dan internasional menggagas proposal kawasan lindung ini melalui kolaborasi lintas institusi. Universitas Halu Oleo bersama NGO internasional Naturevolution memimpin kerja ilmiah tersebut dengan dukungan Universitas Muhammadiyah Kendari, Universitas Gadjah Mada, International Cooperative Biodiversity Group, University of California–Davis, dan Institut Teknologi Bandung.

Direktur Naturevolution International, Evrard Wendenbaum, menjelaskan bahwa kolaborasi ilmiah internasional telah berjalan lebih dari satu dekade untuk membangun basis data terpadu sebagai fondasi pengusulan kawasan lindung berkelanjutan di Sulawesi Tenggara. Melalui rangkaian “Ekspedisi Wallacea” selama sepuluh tahun, sebanyak 327 partisipan, termasuk 73 ilmuwan lokal, melakukan riset lapangan selama 183 hari di wilayah terpencil yang belum tersentuh penelitian sebelumnya.

Tim multidisiplin yang terdiri dari arkeolog, hidrogeolog, dan ahli biologi—mulai dari botani, mamalogi, hingga genetika—menggunakan protokol ilmiah modern seperti bioakustik, kamera jebak, analisis DNA lingkungan, dan pengumpulan spesimen. Seluruh metode itu mengungkap kekayaan ekologis, budaya, dan arkeologis kawasan karst Sulawesi Tenggara secara komprehensif.

Data Ilmiah, Krisis Iklim, dan Urgensi Taman Nasional

Konferensi Wallacea Expeditions menampilkan proposal resmi kawasan lindung “Lanskap Wallacea” kepada komunitas lokal dan pemangku kepentingan daerah. Forum ini memaparkan temuan penting, mulai dari asal-usul sumber air utama yang melayani ratusan ribu penduduk, data keanekaragaman hayati, hingga warisan budaya dan arkeologi yang membentuk sejarah panjang kawasan tersebut.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Hendra Gunawan, menegaskan urgensi penetapan lanskap Sombori–Matarombeo–Tangkelemboke–Mekongga sebagai Taman Nasional dan Warisan Dunia. Ia menilai langkah tersebut sebagai respons strategis terhadap krisis iklim dan laju deforestasi di kawasan Wallacea, yang telah kehilangan sekitar 1,37 juta hektar hutan dalam satu dekade terakhir, termasuk di Sulawesi Tenggara.

Hendra menyebut seluruh usulan kawasan seluas 6.000 kilometer persegi ini berbasis data ilmiah. Kompleks Pegunungan Mekongga, menurutnya, menopang fungsi hidrologi vital bagi sedikitnya 30 sungai regional serta menjadi habitat satwa endemik seperti anoa, babirusa, rangkong, dan tarsius. Riset terbaru juga menunjukkan potensi besar penemuan spesies baru yang belum tercatat secara ilmiah.

Ancaman Tambang dan Harapan Ekowisata Berkelanjutan

Selain keunggulan ekologis, kawasan karst ini menyimpan nilai budaya dan arkeologis yang luar biasa. Tim arkeolog mengidentifikasi puluhan situs gua dengan lukisan dinding, patung, tembikar, hingga sisa-sisa penguburan kuno yang menandai jejak peradaban manusia ribuan tahun lalu di Wallacea. Para peneliti menyebut kawasan ini sebagai “pulau di dalam pulau” karena tingkat endemisitasnya yang sangat tinggi.

Namun, industri pertambangan nikel, perkebunan sawit, dan pabrik semen terus mengancam keberlanjutan kawasan tersebut. Aktivitas tambang nikel memicu penggundulan hutan primer, polusi peleburan logam yang boros energi, serta limpasan lumpur limbah yang merusak terumbu karang pesisir Sombori–Labengki, yang dunia kenal sebagai “Raja Ampat kecil”.

Sebagai solusi, kolaborasi ilmiah ini mengusulkan pengelolaan kawasan karst Sulawesi Tenggara sebagai satu kesatuan lanskap lindung berkelanjutan. Target utamanya mencakup penetapan sebagai Taman Nasional, UNESCO Global Geopark, dan Cagar Biosfer UNESCO. Melalui langkah ini, para penggagas berharap kawasan tersebut tidak hanya terlindungi dari ancaman industri ekstraktif, tetapi juga berkembang sebagai pusat ekowisata berkelanjutan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal. (Arth)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

WhatsApp Image 2026-01-11 at 14.22.35

INSTAGRAM

11 hours ago
12 hours ago
13 hours ago
13 hours ago
13 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!