x Pulau Seribu Asri

Jejak Cheng Ho di Dapur Semarang: Babat Gongso, Simbol Akulturasi Kuliner Kota Atlas

waktu baca 2 menit
Rabu, 11 Feb 2026 08:19 17 M Ary K

Viralterkini.id, Semarang — Kedatangan Laksamana Cheng Ho ke pesisir utara Jawa pada abad ke-15 tidak hanya meninggalkan jejak sejarah maritim dan budaya, tetapi juga memberi pengaruh kuat pada perkembangan kuliner lokal, khususnya di Kota Atlas, Semarang. Salah satu warisan gastronomi yang hingga kini tetap lestari adalah babat gongso, hidangan khas yang merepresentasikan perpaduan teknik memasak Tionghoa dengan bahan baku lokal Jawa.

Babat gongso menjadi bukti nyata akulturasi kuliner di Semarang, menyusul deretan makanan legendaris lain seperti lumpia, wingko babat, dan tahu gimbal. Seluruhnya memiliki karakter rasa yang kuat serta sejarah panjang yang berkembang dari dapur pedagang kaki lima hingga menjadi ikon kuliner kota.

Secara etimologi, istilah “gongso” berasal dari bahasa Jawa yang berarti ditumis. Nama tersebut secara langsung merujuk pada teknik memasak utama hidangan ini. Metode menumis dengan tambahan kecap manis dan cabai menunjukkan pengaruh kuliner Tionghoa yang kemudian diadaptasi masyarakat lokal dengan menggunakan babat atau bagian lambung sapi sebagai bahan utama.

Pada awal kemunculannya, babat sapi umumnya diolah dalam bentuk hidangan berkuah seperti soto. Namun, kreativitas para pedagang di Semarang mengubahnya menjadi sajian tumisan kering dengan bumbu yang lebih pekat dan berani. Pemilihan jeroan sapi tersebut juga menyesuaikan dengan ketersediaan bahan pangan yang melimpah di wilayah Jawa pada masa lalu.

Rahasia kelezatan babat gongso terletak pada proses pengolahan yang membutuhkan kesabaran. Babat sapi harus direbus dalam waktu lama hingga mencapai tekstur empuk sebelum ditumis. Tahapan ini memungkinkan bumbu meresap sempurna saat proses “gongso”, sehingga menghasilkan cita rasa yang khas.

Bumbu dasar babat gongso merupakan racikan rempah lokal yang intens, terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai merah, kemiri, serta kecap manis. Kombinasi tersebut menciptakan profil rasa manis-pedas yang dominan dan menggugah selera. Hidangan ini lazim disajikan bersama nasi putih hangat, serta dilengkapi lauk pendamping seperti paru goreng atau telur dadar.

Sebagai simbol kekayaan tradisi kuliner Semarang, babat gongso dapat ditemukan di berbagai sudut kota dengan resep yang terjaga selama puluhan tahun. Sejumlah kedai legendaris kerap menjadi tujuan utama wisatawan dan pencinta kuliner, di antaranya Babat Gongso Pak Karmin di kawasan Jembatan Mberok, Babat Gongso Pak Taman di sekitar Taman Indonesia Kaya, Babat Gongso Pak Sabar dengan cita rasa autentiknya, serta Nasgorbat Akbar yang menawarkan variasi nasi goreng babat dengan bumbu gongso yang kuat.

Setiap kedai memiliki racikan bumbu dan teknik pengolahan tersendiri, terutama dalam menentukan tingkat keempukan babat. Perbedaan inilah yang menghadirkan pengalaman rasa unik bagi siapa pun yang singgah dan mencicipi babat gongso di Kota Semarang. (ma)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

INSTAGRAM

3 hours ago
3 hours ago
3 hours ago
3 hours ago
4 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!