x Pulau Seribu Asri

Jadi Pembunuh, Oknum Brimob Tewaskan Seorang Siswa Madrasah di Maluku Tenggara

waktu baca 2 menit
Jumat, 20 Feb 2026 21:54 31 Arthur

Viralterkini.id – Tragedi berdarah kembali mencoreng wajah aparat penegak hukum. Seorang siswa madrasah berusia 14 tahun, bernama Arianto Tawakal, meregang nyawa setelah diduga menjadi korban kekerasan brutal yang dilakukan oleh Bripda Masias Siahaya, personel Kompi 1 Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Maluku.

Insiden ini terjadi di ruas Jalan RSUD Marren pada Kamis (19/2/2026), hanya beberapa saat setelah korban menunaikan salat subuh.

Pagi yang seharusnya menjadi awal aktivitas biasa berubah menjadi mimpi buruk. Arianto tengah berboncengan dengan kakaknya, Nasri Karim (15), siswa kelas X MAN Maluku Tenggara, ketika mereka berpapasan dengan pelaku.

Bukannya memberi perlindungan sebagai aparat, Bripda Masias Siahaya justru diduga melampiaskan kekerasan dengan memukul korban menggunakan helm hingga Arianto terjungkal dari sepeda motor.

Benturan keras membuat tubuh remaja itu bersimbah darah. Arianto dilarikan ke RSUD Karel Sadsuitubun dalam kondisi kritis, sementara kakaknya harus menahan rasa sakit akibat patah tangan.

Harapan keluarga pupus ketika pihak rumah sakit menyatakan Arianto meninggal dunia sekitar pukul 13.00 WIT.

Nyawa seorang anak madrasah melayang, bukan karena kecelakaan biasa, melainkan karena dugaan tindakan kasar seorang aparat berseragam.

Kemarahan publik pun membuncah. Nama Bripda Masias Siahaya langsung menjadi sorotan setelah polisi mengamankannya. Kapolres Polres Tual, Whansi Des Asmoro, membenarkan penahanan tersebut.

“Saat ini sudah diamankan di Polres,” ujarnya, dikutip dari Porostimur.com, Jumat (20/2/2026).

Ia menegaskan bahwa proses hukum akan berjalan tanpa pandang bulu dan tidak ada perlindungan khusus hanya karena pelaku berasal dari institusi kepolisian.

Kasus ini mencuat luas setelah korban dinyatakan meninggal dunia akibat dugaan penganiayaan tersebut.

Polisi mengklaim penyidikan masih berlangsung untuk membongkar secara utuh kronologi dan motif di balik aksi yang menewaskan seorang anak di bawah umur itu.

Olah tempat kejadian perkara telah dilakukan dan sejumlah saksi diperiksa secara intensif.

Namun di mata masyarakat, tragedi ini bukan sekadar soal prosedur hukum. Ini adalah tamparan keras bagi institusi yang seharusnya melindungi warga.

Helm yang mestinya menjadi alat keselamatan berubah menjadi senjata maut. Seorang anak yang baru pulang dari salat subuh pulang dalam peti mati.

Kini, publik menunggu satu hal: apakah hukum benar-benar akan berdiri tegak, atau kembali tunduk pada seragam yang tercemar darah seorang pelajar. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INSTAGRAM

15 hours ago
15 hours ago
15 hours ago
16 hours ago
16 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri