x Pulau Seribu Asri

CELIOS Soroti Proyek Geothermal Halmahera yang Dikelola Perusahaan Terafiliasi Israel

waktu baca 3 menit
Rabu, 18 Feb 2026 09:57 25 Arthur

Viralterkini.id – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dilaporkan telah memberikan izin pengelolaan proyek panas bumi di Pulau Halmahera kepada perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan jaringan ekonomi Israel.

Keputusan ini segera menuai sorotan dari lembaga riset dan kelompok masyarakat sipil.

Perusahaan yang mengelola proyek tersebut adalah PT Ormat Geothermal Indonesia, yang merupakan anak usaha dari Ormat Technologies.

CELIOS menilai Ormat Technologies berkembang sebagai korporasi energi besar dengan dukungan teknologi, manufaktur, dan jaringan permodalan yang berakar kuat pada industri Israel.

Masuknya Ormat ke proyek Halmahera tidak hanya membawa investasi dan teknologi. Kerja sama ini juga membuka jalur perputaran keuntungan serta aliansi strategis yang terhubung langsung dengan sistem ekonomi Israel.

Kebijakan tersebut memicu kritik dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS).

Mereka menilai pemerintah menyerahkan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Ranu kepada PT Ormat Geothermal Indonesia dengan dalih mengejar target Net Zero Emission, namun keputusan itu menyimpan konsekuensi politik dan lingkungan yang serius.

“Pemerintah menyerahkan WKP Telaga Ranu kepada PT Ormat Geothermal Indonesia demi target energi bersih. Tetapi ada harga besar yang harus ditanggung,” tulis CELIOS melalui akun Instagram resminya, Selasa (17/2/2026).

CELIOS menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan yang terafiliasi dengan Israel tidak bisa dipandang semata sebagai urusan bisnis energi.

Mereka melihat adanya potensi aliran keuntungan dan kerja sama teknologi yang masuk ke dalam sistem ekonomi Israel, negara yang hingga kini tidak mengakui kemerdekaan Palestina.

Menurut CELIOS, langkah tersebut berisiko melemahkan posisi moral Indonesia di mata internasional.

Meski Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, pembukaan ruang investasi bagi perusahaan yang terhubung dengan Israel dalam Proyek Strategis Nasional dinilai menciptakan jarak antara sikap politik luar negeri dan praktik ekonomi.

“Secara politik, ini melukai komitmen solidaritas Indonesia terhadap Palestina. Sebelum Indonesia menandatangani Board of Peace, jejak Israel sudah lebih dulu hadir dan menyentuh alam Indonesia,” tulis CELIOS.

Dari aspek lingkungan, CELIOS menilai kondisi Halmahera sudah berada di bawah tekanan berat. Wilayah tersebut dikepung aktivitas pertambangan nikel skala besar beserta fasilitas smelternya.

Mereka mencatat deforestasi, pencemaran udara, serta penurunan kualitas air sungai dan laut mulai mengancam kehidupan masyarakat sekitar.

CELIOS juga menyoroti Halmahera sebagai bagian dari kawasan Wallacea, salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati paling unik di dunia.

Aktivitas pengeboran panas bumi dinilai berpotensi mengganggu sistem air tanah, memutus jalur pergerakan satwa, serta membuka akses hutan untuk kegiatan ekstraksi lanjutan.

Organisasi itu menyebut situasi ini sebagai kerugian ganda bagi Indonesia. Dari sisi politik, konsistensi dukungan terhadap Palestina dinilai tergerus oleh kepentingan investasi.

Dari sisi lingkungan, hutan dan sumber air masyarakat menjadi taruhan.

“Masalah ini bukan sekadar pilihan antara pembangunan dan politik luar negeri. Keduanya sama-sama terdampak,” tegas CELIOS.

CELIOS pun mendesak pemerintah mencabut izin proyek panas bumi Telaga Ranu. Mereka menilai ambisi menuju energi bersih tidak boleh mengorbankan prinsip diplomasi dan masa depan ekologis Halmahera.

“Cabut izin Telaga Ranu. Jangan biarkan target energi bersih merusak konsistensi politik kita dan menghancurkan masa depan Halmahera. Save Halmahera,” tutup CELIOS. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

INSTAGRAM

20 hours ago
20 hours ago
20 hours ago
20 hours ago
20 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!