Ilustrasi: Domibed.id Viralterkini.id – Selama sebagian besar sejarah manusia, tidur tidak dilakukan dalam satu rentang panjang. Orang-orang terbiasa menjalani dua fase tidur setiap malam, yang dikenal sebagai first sleep (tidur pertama) dan second sleep (tidur kedua).
Kedua sesi itu dipisahkan oleh masa terjaga selama sekitar satu jam atau lebih di tengah malam. Catatan sejarah dari berbagai wilayah—mulai Eropa, Afrika, hingga Asia—menunjukkan bahwa masyarakat biasanya tidur setelah malam tiba, lalu bangun di tengah malam sebelum kembali terlelap sampai fajar.
Jeda antara dua sesi tidur bukan waktu yang sia-sia. Banyak orang memanfaatkannya untuk aktivitas ringan, seperti menyalakan kembali api, memeriksa ternak, atau sekadar merenung.
Sebagian memilih tetap di tempat tidur untuk berdoa atau mengingat mimpi. Surat pribadi dan buku harian dari masa pra-industri mencatat bahwa waktu sunyi ini sering dipakai untuk membaca, menulis, atau berbincang perlahan dengan anggota keluarga dan tetangga. Tidak sedikit pula pasangan yang memanfaatkan momen tersebut untuk membangun keintiman.
Bahkan dalam karya sastra kuno, pola ini sudah disebutkan. Penyair Yunani dan Romawi menyinggung istilah “akhir tidur pertama”, menandakan bahwa tidur dua sesi adalah praktik umum pada zamannya.
Kebiasaan tidur dua tahap mulai menghilang dalam dua abad terakhir seiring perubahan sosial besar. Faktor utama penyebabnya adalah hadirnya pencahayaan buatan.
Lampu minyak, lampu gas, hingga listrik membuat malam tidak lagi identik dengan waktu istirahat. Orang mulai begadang lebih lama di bawah cahaya buatan, sehingga jam biologis tubuh ikut bergeser. Paparan cahaya di malam hari menunda produksi melatonin, hormon yang memicu rasa kantuk.
Revolusi Industri juga mengubah ritme hidup manusia. Jadwal kerja pabrik menuntut tidur dalam satu blok panjang agar sesuai dengan jam kerja. Pada awal abad ke-20, konsep tidur delapan jam tanpa jeda pun menjadi standar baru.
Menariknya, ketika penelitian tidur dilakukan dalam kondisi tanpa cahaya buatan dan tanpa jam, banyak peserta kembali menunjukkan pola tidur dua sesi dengan jeda terjaga yang tenang di tengah malam.
Studi pada tahun 2017 di komunitas pertanian di Madagaskar yang belum menggunakan listrik menemukan bahwa sebagian besar warganya masih tidur dalam dua tahap dan bangun sekitar tengah malam.
Hal ini memperkuat dugaan bahwa pola tersebut merupakan bagian dari ritme biologis alami manusia.
Menurut Rhodes, cahaya tidak hanya mengatur jam tubuh, tetapi juga memengaruhi cara kita merasakan waktu. Cahaya pagi, yang kaya akan spektrum biru, membantu meningkatkan kortisol dan menekan melatonin sehingga tubuh siap beraktivitas.
Sebaliknya, ketika cahaya minim—seperti di musim dingin atau malam hari—waktu bisa terasa berjalan lebih lambat dan kabur. Dalam penelitian isolasi waktu, orang yang hidup tanpa cahaya alami atau jam sering salah memperkirakan hari dan durasi waktu.
Fenomena ini juga terlihat di wilayah kutub, saat matahari tidak terbit atau tenggelam selama berminggu-minggu. Bagi pendatang, waktu terasa seperti berhenti, sementara penduduk asli yang terbiasa dengan ritme tersebut lebih mampu beradaptasi.
Penelitian dari Environmental Temporal Cognition Lab menunjukkan hubungan kuat antara cahaya, suasana hati, dan persepsi durasi waktu. Dalam eksperimen realitas virtual, peserta menonton beberapa adegan dengan tingkat cahaya berbeda.
Hasilnya, suasana malam atau cahaya redup terasa berlangsung lebih lama dibanding adegan siang hari yang terang. Efek ini paling jelas pada peserta yang melaporkan suasana hati rendah.
Para ahli tidur menjelaskan bahwa terbangun sebentar di malam hari adalah hal wajar, terutama saat tubuh berpindah dari satu tahap tidur ke tahap lain, termasuk menjelang fase REM yang berkaitan dengan mimpi.
Masalah muncul ketika seseorang panik dan terus memikirkan waktu. Dalam kondisi gelap dan sunyi, menit terasa berjalan sangat lambat karena perhatian sepenuhnya tertuju pada jam.
Terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I) menyarankan agar seseorang bangun dari tempat tidur jika tidak bisa tidur kembali setelah sekitar 20 menit. Lakukan aktivitas ringan di bawah cahaya redup, seperti membaca, lalu kembali ke tempat tidur saat rasa kantuk muncul.
Ahli juga menganjurkan untuk tidak menatap jam atau menghitung menit. Sikap menerima kondisi terjaga dengan tenang, sambil menyadari bahwa persepsi waktu bisa menipu, sering kali membantu tubuh kembali terlelap.
Jika Anda terbangun di tengah malam, hal itu belum tentu pertanda gangguan tidur. Bisa jadi, itu merupakan sisa pola tidur nenek moyang yang masih tertanam dalam tubuh manusia modern.
Alih-alih panik, memahami bahwa fenomena ini alami justru dapat membuat pikiran lebih tenang—dan tidur pun lebih mudah kembali datang. (**)
Tidak ada komentar