Copilot_20260323_230711 Viralterkini.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang Ramadan 1447 H menunjukkan tren melemah sejak awal periode perdagangan, pada Kamis (19/2/2026). Indeks utama pasar saham Indonesia itu terus bergerak fluktuatif di zona merah hingga mendekati Idulfitri.
Data perdagangan menunjukkan IHSG turun sekitar 14 persen secara point-to-point selama Ramadan. Tekanan serupa juga menimpa LQ45 yang mencatat penurunan dengan besaran yang sama.
Pergerakan pasar saham Indonesia tidak berdiri sendiri. Berbagai sentimen ikut membentuk arah IHSG, mulai dari dinamika global, kondisi makroekonomi, hingga faktor internal emiten seperti laporan keuangan dan aksi korporasi, termasuk pembagian dividen.
Kombinasi faktor tersebut membuat banyak saham bergerak volatil sepanjang Ramadan.
Di tengah tekanan IHSG, investor asing justru meningkatkan aktivitas beli. Data Bursa Efek Indonesia mencatat nilai beli bersih (net buy) investor asing mencapai sekitar Rp9 triliun selama periode Ramadan 2026.
Aksi beli ini menunjukkan kepercayaan investor global terhadap prospek pasar saham Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang.
Sejumlah saham justru mencatat lonjakan signifikan. Beberapa emiten bahkan memberikan imbal hasil mendekati 100 persen dalam waktu kurang dari satu bulan.
Jika investor menempatkan dana Rp1 juta pada awal Ramadan dan menjualnya menjelang Idulfitri, potensi keuntungan dapat mencapai sekitar Rp990 ribu secara bruto atau hampir setara “THR” tambahan.
Berikut deretan saham dengan kenaikan tertinggi selama Ramadan 1447 H:
Sejumlah saham berkapitalisasi besar juga mencatat kinerja positif meski IHSG tertekan, di antaranya:
HAsil riset sebagaimana dikutip dari Bloomberg menunjukkan sektor pertambangan, khususnya batu bara, memimpin perolehan keuntungan selama Ramadan. Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk mencatat kenaikan tertinggi di kelompok LQ45 hingga mencapai Rp28.050 per saham.
Lonjakan ini mengikuti kenaikan harga batu bara global yang mencapai level tertinggi sejak November 2024. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu gangguan pasokan energi, terutama minyak dan gas.
Serangan terhadap fasilitas energi dan jalur ekspor gas alam cair (LNG) mendorong harga minyak mentah mendekati US$120 per barel. Kondisi ini memaksa sejumlah negara mencari alternatif energi, termasuk meningkatkan penggunaan batu bara.
Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk ikut menikmati dampak kenaikan harga batu bara. Emiten ini bergerak di sektor batu bara termal serta terlibat dalam logistik, investasi, hingga kelistrikan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai AADI memiliki prospek yang kuat di tengah tren kenaikan harga komoditas.
“AADI tetap menjadi pilihan utama kami di sektor ini karena perusahaan memiliki rekam jejak operasional yang solid serta risiko penurunan produksi yang relatif rendah berkat status IUPK,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang dirilis di Jakarta, Selasa (Maret 2026).
Pergerakan pasar selama Ramadan 1447 H menunjukkan kontras yang tajam: indeks utama melemah, tetapi sejumlah saham justru memberi keuntungan besar bagi investor yang mampu membaca momentum pasar. (**)