Pengacara Leqaa Kordia (kedua dari kanan) menyatakan kliennya menjadi target penegakan imigrasi Amerika Serikat karena keterlibatannya dalam aksi pro-Palestina. Kredit Foto: Aljazeerah Viralterkini.id – Leqaa Kordia (33), perempuan asal Palestina yang ditahan oleh Badan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) sejak Maret lalu, dilaporkan dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami gangguan medis serius di pusat penahanan Texas.
Kabar tersebut disampaikan keluarga dan tim kuasa hukum Kordia kepada media setempat. Hingga kini, mereka mengaku belum dapat berkomunikasi langsung dengan Kordia dan tidak mengetahui secara pasti lokasi rumah sakit tempat ia dirawat.
“Baik tim hukum maupun keluarganya belum diberi informasi tentang rumah sakit tempat ia dirawat, kondisi kesehatannya, atau bagaimana ICE akan menjamin perawatannya setelah keluar dari rumah sakit,” demikian pernyataan resmi keluarga dan pengacaranya, dikutip dari Aljazeerah, Senin (9/2/2026).
Kordia ditahan di Texas sebagai bagian dari operasi pengetatan imigrasi yang dilakukan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap peserta aksi pro-Palestina di sejumlah kampus AS.
Tim hukumnya menegaskan bahwa Kordia menjadi sasaran karena keterlibatannya dalam demonstrasi menentang perang Israel di Gaza di sekitar Universitas Columbia, New York, pada 2024.
Namun pemerintah federal menyatakan penahanannya murni karena pelanggaran imigrasi.
“Penangkapannya tidak ada kaitannya dengan aktivitas politik. Ia ditahan karena tinggal melebihi masa berlaku visa pelajar F-1 yang berakhir pada Januari 2022,” ujar Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS).
Leqaa Kordia dibesarkan di Ramallah, Tepi Barat, sebelum datang ke Amerika Serikat pada 2016 dengan visa kunjungan dan tinggal bersama ibunya di Paterson, New Jersey. Ia kemudian mengganti statusnya menjadi visa pelajar.
Permohonan kartu tinggal permanen (green card) yang diajukan ibunya sempat disetujui pada 2021. Namun menurut pengacaranya, Kordia menerima saran keliru terkait status pendidikannya sehingga visanya kedaluwarsa pada 2022.
Sebelum ditangkap, ia bekerja sebagai pelayan restoran Timur Tengah dan membantu merawat saudara tirinya yang mengidap autisme.
Kordia mengaku terdorong ikut aksi protes karena kehilangan ratusan anggota keluarganya sejak perang Gaza pecah Oktober 2023.
“Saya bukan aktivis besar. Saya hanya seorang perempuan Palestina yang merasa berbicara menentang genosida adalah kewajiban moral dan hak konstitusional saya,” tulis Kordia dalam artikel opininya di USA Today.
Kordia pertama kali sempat ditangkap saat demonstrasi di luar Universitas Columbia pada April 2024, tetapi kasus itu kemudian dibatalkan.
Pada 13 Maret 2025, ia datang ke kantor ICE di Newark untuk pemeriksaan rutin imigrasi. Namun, ia justru ditahan dan dipindahkan sekitar 2.400 kilometer ke Pusat Penahanan Prairieland, Alvarado, Texas.
Dalam tulisannya, Kordia menyebut:
“Saya dilempar ke dalam van tanpa tanda dan dikirim ribuan kilometer jauhnya dari keluarga saya.”
Ia kini menjadi satu-satunya peserta protes Columbia yang masih ditahan, sementara demonstran lain telah dibebaskan.
Dalam kesaksian tertulisnya, Kordia menggambarkan kondisi pusat penahanan sebagai tidak layak.
“Fasilitas ini kotor, penuh sesak, dan tidak manusiawi. Saya tidur di lantai plastik, dikelilingi kecoak, tanpa privasi,” tulisnya.
Sepupunya, Hamzah Abushaban, mengatakan kondisi mental Kordia memburuk saat dikunjungi.
“Dia bingung mengapa ditahan dan terus menangis. Dia terlihat seperti orang yang sangat lelah dan terpukul,” ujarnya kepada Associated Press.
Anggota DPR Negara Bagian Texas, Salman Bhojani, juga mengecam kondisi fasilitas tersebut.
“Asrama berisi 60 kasur di ruangan yang seharusnya hanya untuk 20 perempuan. Bahkan pakaiannya tidak memenuhi kewajiban agamanya,” katanya.
Amnesty International menyebut ICE telah berulang kali melanggar hak keagamaan Kordia.
“Dia hampir tidak pernah mendapatkan makanan halal, dipaksa makan makanan yang tidak sesuai keyakinannya hingga berat badannya turun drastis,” kata Amnesty dalam pernyataan resmi.
Selama Ramadan, staf juga disebut melarangnya menyimpan makanan untuk berbuka puasa.
“Ia tidak diberi ruang salat yang bersih maupun pakaian yang layak untuk beribadah,” lanjut Amnesty.
Menurut keluarga, Kordia pingsan dan mengalami kejang di kamar mandi pusat penahanan pada Jumat lalu. Kepalanya membentur lantai sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit.
“Kami menelepon semua rumah sakit di sekitar, tapi tidak ada yang memberi konfirmasi keberadaannya,” kata pihak keluarga.
Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) mendesak pemerintah AS segera mengungkap kondisi medis Kordia dan membebaskannya.
“Kami meminta ICE mengakhiri penahanan administratif dan segera membebaskan Leqaa Kordia,” bunyi pernyataan CAIR.
Aksi Kordia berkaitan dengan gelombang demonstrasi mahasiswa pro-Palestina di Universitas Columbia pada 2024 yang menuntut diakhirinya perang Gaza dan divestasi dari perusahaan terkait militer Israel.
Aksi tersebut dibubarkan setelah polisi New York masuk kampus dan menangkap puluhan demonstran. Universitas kemudian menjatuhkan sanksi berat kepada mahasiswa, termasuk pencabutan gelar.
Protes ini memicu konflik dengan pemerintahan Trump, yang menuduh kampus gagal mengatasi antisemitisme dan memotong dana federal ratusan juta dolar. (**)
Sumber: https://www.aljazeera.com/news/2026/2/8/who-is-leqaa-kordia-the-columbia-protester-still-in-ice-detention
Tidak ada komentar