x Pulau Seribu Asri

Memukau! Dyah Arum Sari Dorong Pesantren Menjadi Rumah Nilai Tanpa Kekerasan

waktu baca 3 menit
Kamis, 19 Feb 2026 17:06 31 Arthur

Viralterkini.id – Perubahan sosial yang bergerak cepat menempatkan empati dan toleransi bukan lagi sekadar nilai pelengkap, melainkan fondasi utama bagi generasi muda dalam membangun relasi yang sehat, beradab, dan tahan terhadap dorongan kekerasan di lingkungan pendidikan.

Berangkat dari kesadaran tersebut, Pondok Pesantren Tebuireng 09 berkolaborasi dengan jaringan internasional Santri Mendunia serta didukung Pemerintah Kabupaten Lebak menggelar Seminar Kepemudaan bertema “Membangun Empati dan Merayakan Keberagaman Tanpa Kekerasan”, Senin (9/2/2026).

Kegiatan ini dihadiri Plt. Asisten Daerah (Asda) III Kabupaten Lebak, Dr. H. Iyan Fitriyana, S.HI., M.Pd., yang juga menjabat Ketua PGRI Kabupaten Lebak. Kehadiran pemerintah daerah menegaskan dukungan terhadap penguatan pendidikan karakter di lingkungan pesantren.

Seminar menghadirkan tokoh nasional Dyah Arum Sari sebagai narasumber utama. Acara yang berlangsung di Aula Pondok Pesantren Tebuireng itu diikuti lebih dari 300 siswa Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di bawah naungan Yayasan PP Nurul Falah.

Para santri tampak antusias mengikuti paparan materi yang menyoroti pentingnya empati, toleransi, dan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan.

Dyah Arum Sari, lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sekaligus Staf Ahli ASPEKSINDO, menegaskan bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan bukan sekadar persoalan moral, melainkan pelanggaran serius terhadap hukum negara.

“Saya pernah menjadi guru dan memahami dinamika di sekolah. Kekerasan, dalam bentuk apa pun, tidak bisa ditoleransi karena bertentangan dengan aturan dan nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pencegahan kekerasan harus dimulai dari proses pembentukan empati dan karakter sejak usia dini.

“Empati tidak lahir secara instan. Ia dibangun melalui perjalanan panjang sejak masa kanak-kanak hingga remaja. Jika sejak sekolah kita dibiasakan peduli dan memahami perasaan orang lain, maka karakter itu akan mengakar kuat sampai dewasa,” ujarnya disambut tepuk tangan para santri.

Hukum Jadi Benteng Pencegahan Kekerasan Anak

Sebagai Ketua DPP Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (HMPI) Bidang Perempuan dan Anak, Dyah dikenal konsisten mengampanyekan penolakan terhadap perundungan dan kekerasan di dunia pendidikan.

Dalam forum tersebut, ia mengingatkan bahwa negara telah menyediakan kerangka hukum yang tegas untuk melindungi anak.

Ia memaparkan sejumlah regulasi penting, antara lain Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, khususnya Pasal 76C yang secara eksplisit melarang segala bentuk kekerasan terhadap anak.

Selain itu, Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP) mewajibkan setiap sekolah membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK).

Regulasi tersebut kemudian diperkuat dengan Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 yang memperluas upaya pencegahan kekerasan hingga ke jenjang pendidikan tinggi.

“Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang aman bagi tumbuh kembang anak,” kata Dyah.

Pesantren Tanamkan Empati bagi Generasi Muda

Pengasuh Pondok Pesantren Modern Nurul Falah Tebuireng 09, KH. Ahmad Rafiudin, S.Ag., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar kepemudaan tersebut.

Ia menilai kolaborasi antara pesantren, pemerintah daerah, dan tokoh pemuda nasional merupakan langkah strategis dalam membentuk santri yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai akhlak.

“Kami berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Lebak atas dukungan moril yang terus diberikan, khususnya melalui kehadiran Bapak Dr. H. Iyan Fitriyana sebagai Asda III,” ujarnya.

Ia juga memuji materi yang disampaikan narasumber karena dinilai relevan dengan tantangan generasi muda saat ini.

“Kehadiran Ibu Dyah Arum Sari membuka cakrawala berpikir para santri. Pengalaman beliau di tingkat nasional dan kepakarannya dalam isu perempuan dan anak memberikan inspirasi nyata bahwa empati harus menjadi napas dalam kehidupan sehari-hari, agar tidak ada ruang bagi kekerasan di dunia pendidikan,” pungkasnya.

Dengan terselenggaranya seminar ini, Pondok Pesantren Tebuireng 09 berharap nilai empati, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman dapat tertanam kuat dalam diri para santri sebagai bekal menghadapi dunia global yang semakin kompleks. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INSTAGRAM

2 days ago
2 days ago
2 days ago
2 days ago
2 days ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!