x Pulau Seribu Asri

Faradiba Kaay, Psikolog Pertama dari Papua Pegunungan yang Menorehkan Sejarah dan Inspirasi

waktu baca 2 menit
Minggu, 1 Feb 2026 10:38 66 Arthur

Viralterkini.id – Kabar membanggakan datang dari tanah Papua Pegunungan. Faradiba Anugerah Kaay Tabuni, S.Psi, Psikolog, mencatatkan sejarah sebagai perempuan pertama dari Papua Pegunungan yang meraih gelar psikolog dari Universitas Katolik Soegijapranata (SCU), Semarang, Jawa Tengah, Kamis (29/1/2026).

Prestasi ini bukan sekadar catatan akademik, tetapi juga simbol harapan bagi masyarakat Papua Pegunungan dan seluruh Papua.

“Saya bersyukur kepada Tuhan atas kuasa-Nya sehingga dapat menyelesaikan studi hingga meraih profesi psikolog. Kesuksesan ini juga berkat doa dan dukungan suami, anak-anak, keluarga, dan semua pihak yang menyertai perjalanan saya,” ungkap Faradiba Kaay di Semarang, Sabtu (31/1/2026).

Perjalanan Faradiba penuh perjuangan. Pengalamannya bekerja di LSM Tangan Peduli Yayasan Kemanusiaan, mendampingi ODHA dan anak jalanan di Kabupaten Jayawijaya, serta menjadi asisten psikiater di RSUD Wamena, membentuk dasar kompetensinya.

“Dalam praktik, saya melihat banyak pasien yang tidak hanya membutuhkan obat, tetapi juga terapi dan perhatian psikologis. Pengalaman itu menjadi fondasi saya menyelesaikan pendidikan profesi,” kata Faradiba.

Faradiba merupakan bagian dari angkatan pertama Program Pendidikan Profesi Psikolog SCU, yang menempuh pendidikan tiga semester, termasuk praktik langsung di lapangan.

Sumpah profesi yang diucapkannya menandai kesiapan untuk mengabdikan ilmu psikologi secara profesional, dengan integritas moral dan etika tinggi.

Rektor SCU, Ir Robertus Setiawan Aji Nugroho, menegaskan bahwa lulusan profesi psikolog SCU siap menghadapi dinamika layanan psikologi nasional pasca Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2022.

”SCU berkomitmen melahirkan psikolog yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan integritas moral,” ujarnya.

Sementara, Dekan Fakultas Psikologi SCU, Dr Dra Kristiana Haryanti, menekankan bahwa pendidikan profesi psikolog mengutamakan pendekatan biopsikososial, menyesuaikan ilmu dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Semuanya dilatih untuk menghadapi kompleksitas kehidupan manusia dengan empati, kritis, dan penuh tanggung jawab. Dan, Faradiba Kaay melihat pencapaian ini sebagai awal dari perjalanan mengabdi.

“Sebagai perempuan Papua Pegunungan, saya menyadari banyak masyarakat masih kesulitan mengakses layanan kesehatan jiwa. Tugas psikolog bukan menjadi penyelamat, tetapi menjadi pendamping perjalanan individu, keluarga, dan komunitas dalam pemulihan mereka,” ujarnya.

Ia menekankan, praktik psikologi yang baik harus manusiawi dan kontekstual.

“Belajar di tanah rantau memperluas pandangan kami. Psikologi yang hadir tanpa memahami budaya berisiko menjadi kekerasan halus. Kami ingin membawa ilmu dengan kerendahan hati, mendengar sebelum memberi makna, dan memahami sebelum bertindak,” tambah Faradiba Kaay.

Prestasi Faradiba Kaay menjadi inspirasi, bukan hanya bagi perempuan dan generasi muda Papua Pegunungan, tetapi bagi seluruh bangsa.

Catatan sejarah ini membuktikan bahwa ketekunan, pendidikan, dan empati bisa membuka jalan untuk perubahan sosial dan pemberdayaan masyarakat. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

WhatsApp Image 2026-01-11 at 14.22.35

INSTAGRAM

40 minutes ago
42 minutes ago
2 hours ago
1 day ago
1 day ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!