Ilustrasi: Viralterkini.id Viralterkini.id – Harga Bitcoin kembali merosot setelah sempat menembus level US$70.000. Tekanan pasar muncul seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang mengguncang aset berisiko global.
Pada Selasa sore (3/3/2026) waktu Indonesia, Bitcoin jatuh hingga 4,4% ke level US$66.348 atau sekitar Rp1,11 miliar. Perdagangan selanjutnya bergerak di kisaran US$66.800 atau sekitar Rp1,12 miliar.
Aksi jual menguat ketika pasar Eropa mulai beroperasi. Indeks Stoxx Europe 600 anjlok lebih dari 3% dan mencatat penurunan dua hari terbesar sejak April.
Pasar kripto ikut terseret ke zona merah. Ether dan Solana turun bersama Bitcoin karena investor menjauhi aset berisiko. Kondisi ini berbalik arah dari sehari sebelumnya, ketika ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus masuk dana sebesar US$458 juta.
Investor memburu aset safe haven setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada akhir pekan. Iran kemudian meningkatkan serangan terhadap AS dan sekutunya di Timur Tengah serta mengancam menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan vital dunia.
Situasi geopolitik tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur terhadap saham dan kripto, lalu memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
CEO platform pembayaran kripto Mercuryo, Petr Kozyakov, menyebut Bitcoin kembali menunjukkan sifatnya sebagai indikator sensitif bagi pasar keuangan tradisional.
“Bitcoin sekali lagi bereaksi cepat terhadap gejolak di pasar global,” ujar Kozyakov.
Sementara itu, Kepala Riset Apollo Crypto, Pratik Kala, menilai pergerakan harga ini sebagai fase pendinginan yang wajar setelah reli sebelumnya.
Tekanan global turut memukul pasar Asia. Indeks MSCI Asia Pasifik turun hingga 2,8% dan mencatat penurunan dua hari terburuk sejak April lalu.
Indeks Kospi Korea Selatan, yang sebelumnya tampil sebagai salah satu bursa dengan kinerja terbaik tahun ini, ambruk hingga 6,9%. Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak Agustus 2024.
Gejolak geopolitik terbaru kembali menguji citra Bitcoin sebagai “emas digital”. Ketika harga kripto melemah, emas fisik justru mencatat reli selama empat hari berturut-turut sebelum terkoreksi tipis pada Selasa.
Perbedaan arah pergerakan ini memperlihatkan bahwa investor masih mengandalkan emas sebagai aset lindung nilai utama saat risiko global meningkat, sementara Bitcoin tetap bergerak sejalan dengan pasar saham dan aset berisiko lainnya. (**)