Viralterkini.id, Jakarta – Turnamen internasional usia dini Barati Cup 2025 yang tengah berlangsung di sejumlah stadion di Jawa Timur sempat mengalami gangguan.
Beberapa pertandingan terpaksa dihentikan sementara karena persoalan perizinan yang belum tuntas, terutama di wilayah Sidoarjo.

Namun, setelah dilakukan koordinasi intensif, kompetisi kini telah kembali digelar dan berjalan normal.
Barati Cup 2025 menjadi sorotan publik karena diikuti oleh sekitar 130 tim dari berbagai Sekolah Sepak Bola (SSB) dan akademi sepak bola, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Negara-negara seperti India, Jepang, Malaysia, Argentina, hingga Spanyol turut mengirimkan tim untuk berpartisipasi dalam ajang ini.
Turnamen berlangsung mulai 15 hingga 20 April 2025 dan dibagi ke dalam tiga kategori usia, yakni U-13, U-14, dan U-15.
Namun, pada hari kedua penyelenggaraan, beberapa pertandingan dihentikan. Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur menegur panitia penyelenggara karena belum mengantongi surat izin pertandingan resmi untuk beberapa lokasi.
Stadion dan lapangan yang terdampak antara lain Stadion Joko Samudro, Stadion Gelora 10 November, Stadion Delta Sidoarjo, Gelora Bung Tomo, Lapangan Jenggolo, Lapangan Thor, dan Lapangan Bogowonto.
Fery Kono, perwakilan dari Lembaga Pengelola Dana dan Usaha Keolahragaan (LPDUK) Kemenpora yang menjadi mitra dalam penyelenggaraan Barati Cup 2025, menjelaskan bahwa permasalahan terjadi karena keterlambatan pengurusan izin khususnya di Kabupaten Sidoarjo.
“Memang benar sempat diberhentikan karena ada keterlambatan surat izin di wilayah Sidoarjo. Tapi untuk wilayah lain tidak ada masalah, pelaksanaan berjalan normal,” ujar Fery Kono dalam keterangan resminya pada Kamis (17/4/2025).
Fery menambahkan, koordinasi dengan pihak terkait sudah dilakukan, dan pertandingan kembali dilanjutkan sejak hari ini.
Ia menyesalkan adanya gangguan jadwal pertandingan akibat kendala administratif tersebut.
“Pemberhentian sudah dilakukan sejak kemarin. Hari ini saya mendapat laporan bahwa pertandingan sudah berjalan kembali. Tapi tentu ini tetap mengganggu kelancaran jadwal yang sudah disusun,” lanjutnya.
Menurut Fery, insiden ini seharusnya bisa dihindari jika komunikasi dan koordinasi antar pihak berjalan lebih baik.
Ia menyayangkan adanya miss komunikasi yang menyebabkan terganggunya event berskala internasional ini.
“Turnamen ini membawa nama baik Indonesia, terutama dalam pengembangan sepak bola usia muda. Sayang sekali jika harus tercoreng karena kendala seperti ini. Ke depan tentu harus ada evaluasi serius,” tegasnya.
Fery juga menanggapi kabar bahwa ada beberapa tim peserta yang memilih mundur dan meminta pengembalian biaya pendaftaran akibat ketidakjelasan izin pertandingan.
Ia menyebut hingga saat ini belum menerima laporan resmi terkait hal tersebut.
“Sampai sekarang saya belum mendapatkan informasi yang jelas dari panitia pusat mengenai tim yang mundur atau meminta refund. Kami akan menelusuri dan pastikan semua pihak mendapat penjelasan yang adil,” ucapnya.
Barati Cup 2025 merupakan salah satu turnamen paling bergengsi untuk kategori usia muda di Asia Tenggara.
Selain menjadi ajang pencarian bibit muda berbakat, turnamen ini juga menjadi jembatan persahabatan antar negara melalui olahraga.
Dengan banyaknya peserta dari luar negeri, kompetisi ini menjadi kesempatan langka bagi anak-anak Indonesia untuk mengukur kemampuan dan memperluas pengalaman internasional sejak dini.
Kehadiran tim dari Argentina dan Spanyol, dua negara dengan sejarah sepak bola kuat, menjadi daya tarik tersendiri.
Penampilan mereka di lapangan pun mendapat perhatian dari para pencari bakat lokal.
Insiden perizinan ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara turnamen berskala besar di Indonesia.
Koordinasi lintas lembaga dan kesiapan administratif harus menjadi prioritas utama sebelum event digelar.
Fery berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga dan penyelenggaraan Barati Cup berikutnya bisa berlangsung lebih profesional dan tanpa gangguan.
“Event seperti ini sangat strategis untuk memajukan sepak bola nasional. Tapi kalau izin dan teknisnya tidak siap, malah bisa jadi bumerang. Kami dorong penyelenggara melakukan perbaikan menyeluruh,” pungkasnya.
Dengan kembali digelarnya pertandingan, publik berharap Barati Cup 2025 dapat mencapai tujuannya: mencetak talenta muda dan menjadikan Indonesia sebagai pusat penyelenggaraan turnamen usia dini di kawasan Asia.



Tidak ada komentar