x Pulau Seribu Asri

Ketua BEM UGM Diteror Setelah Soroti Kematian Anak SD di NTT

waktu baca 2 menit
Senin, 16 Feb 2026 06:55 15 Arthur

Viralterkini.id – Kematian seorang anak SD di Nusa Tenggara Timur karena tidak mampu membeli alat tulis mengguncang publik. Selain itu, kasus ini memicu gelombang empati nasional.

Namun, di balik perhatian itu muncul cerita mengejutkan: Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menerima teror karena menyuarakan tragedi tersebut.

Tiyo awalnya membagikan kisah ini di media sosial untuk menyoroti ketimpangan akses pendidikan di Indonesia.

Ia menilai kasus ini bukan sekadar peristiwa lokal, melainkan sinyal darurat terkait perlindungan anak.

Tiyo Kirim Surat ke UNICEF

Selain itu, Tiyo mengirim surat resmi ke UNICEF pada Jumat (6/2/2026) untuk meminta perhatian internasional. Namun, langkah itu memicu reaksi tak terduga.

Tak lama setelah surat dikirim, Tiyo mulai menerima pesan ancaman dari nomor asing. Pesan itu bernada intimidatif, berisi kata-kata seperti: “Agen asing”, “Culik mau?”, dan “Jangan cari panggung jadi tongkosong”.

Teror Digital dan Fisik

Pesan ancaman berlanjut melalui WhatsApp dari enam nomor asing, termasuk kode negara Inggris. Selain itu, Tiyo juga menghadapi intimidasi fisik.

Dua pria misterius membuntuti dan mengambil foto secara sembunyi-sembunyi. Saat Tiyo mencoba mendekat, keduanya langsung kabur.

Tiyo meyakini semua ancaman ini terkait dengan surat resmi yang dikirim ke UNICEF. Sementara itu, publik dan media sosial ramai membahas kasus ini.

DPR RI Kecam Teror

Anggota Komisi X DPR RI, Hilman Mufidi, mengecam keras aksi teror terhadap Tiyo. Ia menilai intimidasi ini bukan sekadar ancaman personal, melainkan ancaman serius terhadap kebebasan berpendapat.

“Tindakan teror kepada adinda Tiyo sangat tidak sepatutnya dilakukan. Ini sama dengan praktik pembungkaman,” tegas Hilman.

Ia menegaskan keberanian Tiyo bersuara adalah hak konstitusional yang sah.

Selain itu, Hilman mengimbau masyarakat menahan diri dan menyikapi dinamika ini dengan bijak.

Kritik terhadap kasus kematian anak di NTT harus disampaikan secara konstruktif, bukan melalui teror.

Tiyo Soroti Kegagalan Sistem

Dalam suratnya ke UNICEF, Tiyo menulis:

“Dunia macam apa yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena tidak mampu membeli pena dan buku?”

Ia menekankan tragedi ini terjadi akibat kegagalan sistemik negara melindungi warga paling rentan.

Tiyo meminta UNICEF memperkuat perlindungan anak, menjamin anggaran pendidikan, dan mencegah kematian yang seharusnya bisa dihindari.

Hingga kini, Tiyo terus menerima dukungan dari mahasiswa, masyarakat, dan berbagai elemen publik.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa menyuarakan isu sosial membawa risiko nyata, namun keberanian tetap harus dihargai. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

INSTAGRAM

2 hours ago
2 hours ago
2 hours ago
2 hours ago
2 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!