x Pulau Seribu Asri

Sekolah di Brasil Ini Dulunya Sarang Narkoba, Kini Terbaik Dunia

waktu baca 5 menit
Senin, 16 Feb 2026 06:15 14 Arthur

Viralterkini.id – Sebuah panggilan telepon pada 2016 mengubah jalan hidup Régis Marques. Saat itu, dinas pendidikan setempat menugaskannya menjadi kepala Sekolah Negeri Parque dos Sonhos di Cubatão, pesisir Negara Bagian São Paulo, Brasil.

Marques sempat ragu menerima tugas tersebut. Ia mencari informasi tentang sekolah itu melalui internet dan menemukan banyak laporan buruk.

“Berita pertama yang saya baca menyebutkan sekolah ini tidak aman. Ada laporan pencurian, perampokan, bahkan pengedar narkoba yang masuk ke area sekolah saat acara festival,” kenangnya, dikutip dari Cerita Rute Pina – BBC News Brazil in Cubatao (SP), Senin (16/2/2026).

Reputasi sekolah itu begitu suram hingga warga menjulukinya Parque dos Pesadelos atau “Taman Mimpi Buruk”.

Hampir satu dekade kemudian, sekolah yang dulu dikenal rawan kekerasan itu justru meraih penghargaan Sekolah Terbaik di Dunia 2025 dalam kategori Overcoming Adversity (mengatasi kesulitan).

Penghargaan tersebut diberikan oleh lembaga pendidikan internasional T4 Education yang berbasis di Inggris.

Sekolah di Tengah Kawasan Rentan

Parque dos Sonhos berdiri pada 2014 untuk melayani anak-anak dari komunitas relokasi. Pemerintah memindahkan keluarga-keluarga ini dari wilayah rawan longsor di Pegunungan Serra do Mar ke kawasan baru yang masih minim infrastruktur.

Lingkungan sekitar sekolah hanya terdiri dari hutan, sungai, dan sedikit rumah. Kondisi itu membuat orang luar dengan mudah keluar-masuk area sekolah tanpa pengawasan.

“Kami sering menemukan botol kokain, kondom bekas, pakaian, seprai, sampai botol minuman keras di halaman sekolah,” ujar Marques.

Pada hari keduanya menjabat, seseorang bahkan melempar batu ke kantor kepala sekolah.

Saat itu, hanya 116 siswa yang terdaftar, jauh di bawah kapasitas sekolah. Banyak orang tua memilih memindahkan anak mereka karena khawatir dengan kekerasan dan pencurian.

“Hampir separuh siswa ingin pindah sekolah karena merasa tidak aman,” kata Marques.

Namun ia justru memasang target besar: mengubah sekolah tersebut menjadi yang terbaik di negara bagian dalam waktu lima tahun.

Target yang Dianggap Mustahil

Ambisi Marques sempat terdengar tidak masuk akal bagi para guru senior. Maria de Lourdes Amorim, guru bahasa Portugis yang telah mengajar lebih dari tiga dekade, mengingat reaksi awal para pendidik.

“Seorang kepala sekolah muda datang dan berbicara soal menjadikan sekolah ini yang terbaik. Kami hanya bisa berkata: ‘Kamu gila?’,” ujarnya sambil tertawa.

Namun Marques tidak surut.

Langkah pertamanya adalah memperbaiki bangunan sekolah. Ia memperbaiki dinding, lantai, dan perabot dengan dana sangat terbatas.

Ia mengirim lebih dari 130 surat kepada perusahaan swasta untuk meminta dukungan. Upaya itu membuahkan hasil: sekolah mengumpulkan sekitar US$18.800 atau setara Rp316 juta.

Ia juga membuka sekolah untuk masyarakat sekitar. Sekolah menyediakan kelas persiapan masuk universitas, pelatihan karier di sektor publik, serta kegiatan belajar untuk warga pada akhir pekan.

Warga Ikut Turun Tangan

Transformasi sekolah tidak hanya bergantung pada guru. Warga sekitar ikut berperan besar.

Ana Gabriela Lima, salah satu penduduk setempat, menyaksikan perubahan sejak awal. Anak sulungnya termasuk angkatan pertama sekolah itu, dan ia bergabung sebagai relawan.

“Saya mengajak ibu-ibu lain membantu. Kami membersihkan sekolah, memasak, dan mendukung guru sebisa mungkin,” katanya.

Kini, Lima bekerja di sekolah untuk mendampingi siswa berkebutuhan khusus.

Kurikulum yang Lebih Luas dan Humanis

Sekolah kemudian memperluas kurikulumnya. Tidak hanya mata pelajaran dasar, tetapi juga hingga 23 bidang studi dan kegiatan ekstrakurikuler, seperti memasak, olahraga, teater, bulu tangkis, hingga seluncur es.

“Kami mulai mendengarkan siswa dan mengembangkan pendekatan yang lebih manusiawi, benar-benar berpusat pada kebutuhan mereka,” jelas Marques.

Bagi Ester, siswi berusia 12 tahun, perubahan ini sangat terasa.

“Awalnya saya mengira sekolah ini membosankan. Tapi sekarang banyak kegiatan baru. Kami tidak hanya duduk di kelas,” katanya.

Ia menemukan minatnya di kelas teater yang berlangsung setelah jam pelajaran.

Sekolah Mendatangi Rumah Siswa

Terinspirasi dari sistem pendidikan Kuba, Marques meluncurkan program “Sekolah Datang ke Rumah Anda”.

Guru mengunjungi rumah siswa yang sering absen atau mengalami masalah disiplin. Mereka berdiskusi langsung dengan orang tua untuk memahami kondisi keluarga.

“Kami ingin tahu kehidupan mereka di luar sekolah. Banyak persoalan tidak terlihat dari ruang kelas,” kata Marques.

Langkah ini membantu guru memahami tantangan yang dihadapi murid, mulai dari kemiskinan hingga kekerasan rumah tangga.

Dinding Sekolah Penuh Pesan Perdamaian

Koridor sekolah kini dipenuhi mural tokoh-tokoh dunia yang memperjuangkan hak asasi manusia, seperti Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Malala Yousafzai, dan Pepe Mujica.

Tokoh Brasil seperti Marielle Franco dan Paulo Freire juga terpampang di dinding kelas.

Lukisan-lukisan itu sempat menuai kritik dari kelompok tertentu yang menilai sekolah melakukan indoktrinasi politik.

Namun Marques menegaskan bahwa tujuan sekolah adalah menyampaikan pesan persatuan dan non-kekerasan.

“Non-kekerasan bukan berarti diam. Non-kekerasan berarti mempertanyakan sistem yang menindas,” ujarnya.

Pengakuan Dunia

Ketika pengumuman pemenang Sekolah Terbaik Dunia 2025 disampaikan, aula sekolah dipenuhi sorak dan tangis haru.

“Semua orang menangis. Saya juga tidak bisa menahan air mata,” kata Ester.

Keberhasilan ini tercermin dalam prestasi akademik. Dalam satu dekade, nilai indeks pendidikan sekolah hampir dua kali lipat.

Bagi para guru, keberhasilan bukan hanya angka, tetapi perubahan hidup siswa.

“Yang terpenting adalah bagaimana anak-anak kami hari ini dan masa depan mereka,” ujar Maria de Lourdes.

Marques mengakui sekolah masih memiliki banyak kekurangan. Namun ia optimistis dengan arah yang telah ditempuh.

“Bayangkan, sekolah yang hampir tutup pada 2016 karena kekurangan murid, kini akan memulai 2026 dengan 1.200 siswa. Itu luar biasa,” katanya. (**)

Sumber: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cp8rx6v2z5po

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

INSTAGRAM

2 hours ago
2 hours ago
2 hours ago
2 hours ago
2 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!